Categories
bisnis startup

Bekerja di Perusahaan Global

Tapi Anda tetap tinggal di Indonesia. Bisa memangnya?

Jadi saya melihat sebuah tren perintis (startup). Perusahaan ini bersifat regional (misalnya Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur) dan mereka menghubungkan pemrogram-pemrogram di wilayah tersebut dengan perusahaan global (biasanya perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa).

Contoh: Ontop, Andela, Pesto, YouTeam, Turing, Manara.

Andela (dulunya) fokus menghubungkan pemrogram di Afrika ke perusahaan global tapi sekarang mereka sudah menjadi lebih umum. Ontop fokus di wilayah Amerika Latin. Manara fokus di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Di halaman depan situs Manara, mereka menulis, “Why hire from Palestine?”

Salah satu premis bisnis mereka adalah perusahaan global (yang biasanya berada di Amerika Serikat dan Eropa) memiliki duit (dari VC misalnya) tapi mereka kekurangan tenaga kerja (pemrogram umumnya) untuk membangun produk digital. Di luar Amerika Serikat dan Eropa, banyak pemrogram yang berbakat dan membutuhkan pekerjaan. Jadi…. terciptalah pernikahan di surga (marriage in heaven).

Jadi apakah kita bisa bergaji level Silicon Valley tapi tinggal di Indonesia? Nah, perusahaan di Silicon Valley ada yang menyamaratakan level gaji di seluruh dunia, seperti Gumroad. Tapi ada juga yang menggunakan kota tempat Anda tinggal untuk penyesuaian gajinya, seperti Gitlab. Gaji Anda akan lebih rendah jika Anda memilih tinggal di Jakarta ketimbang misalnya tinggal di Singapura. Tapi bahkan dengan penyesuaian terhadap kota tempat tinggal pemrogram, gajinya masih sangat kompetitif dibandingkan dengan perusahaan lokal. Pemrogram yang bukan senior saja bisa dapat USD 5 – 6 ribu per bulan.

Jadi jika Anda sedang mencari pekerjaan, Anda bisa mencoba jasa dari perusahaan-perusahaan yang sudah disebutkan di atas. Pastikan Anda bisa berbahasa Inggris dengan baik. Oh, tentu saja kemampuan pemrograman Anda juga harus baik.

Nah, apakah hal ini akan membuat pasar pemrogram di Indonesia makin ketat dan kering? Entahlah. Tergantung Anda memandang dari sudut pandang apa. Tergantung apa reaksi perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Dari sekilas kita bisa bilang perusahaan Indonesia bakal makin susah menemukan pemrogram-pemrogram untuk membangun produk digital. Pemrogram yang bernama Zard misalnya mendapat tawaran pekerjaan dari perusahaan Kecap DiManaSaja dengan gaji Rp 20 juta, tapi perusahaan di Silicon Valley menawarkan dia Rp 50 juta. Menurut Anda, Zard seharusnya memilih tawaran yang mana?

Nah, perusahaan Kecap DiManaSaja punya pilihan untuk menaikkan tawarannya menjadi Rp 50 juta atau lebih. Perkara mereka mau atau bisa itu cerita lain. Mereka bisa saja memang tidak punya duit. Kemungkinan lainnya adalah bisa saja mereka punya duitnya tapi mereka pelit. Mereka pikir kalau bisa bayar pemrogram dengan murah, kenapa harus bayar mahal? Sebagian masih berpikir pemrogram itu bisa dikomoditasi. Berapa banyak lulusan bootcamp atau universitas tiap tahunnya? Masih banyak yang mau menerima pekerjaan pemrogram dengan gaji Rp 20 juta. Jadi tidak ada faedahnya membayar pemrogram Rp 50 juta.

Jadi seperti yang Anda lihat, semua tergantung dari perusahaan atau perintis di Indonesia. Lalu bagaimana dengan perusahaan yang tidak punya duit? Kan tidak adil bagi mereka untuk bersaing dengan perusahaan di Silicon Valley yang punya kantung yang dalam. Yah, mau bagaimana lagi. Dunia memang tidak adil. Sebenarnya ada beberapa cara untuk membujuk pemrogram untuk menerima tawaran misalnya dengan opsi saham yang murah hati. Tapi birokrasi pemberian opsi saham di Indonesia agak rumit. Makanya banyak perusahaan yang mendirikan badan di Singapura untuk mengatasi masalah ini.

Lalu bagaimana dengan mengumandangkan nasionalisme untuk membujuk pemrogram Indonesia untuk bekerja di perusahaan / perintis di Indonesia? Entahlah apakah itu bisa bekerja dengan baik. Masalahnya kita hidup di jaman globalisasi. Bahkan unicorn seperti Gojek atau Tokopedia, sebagian (entah besar atau kecil) kepemilikan perusahaan tersebut dimiliki pihak asing. Lagipula tergantung bagaimana cara Anda mendefinisikan nasionalisme itu, menerima gaji lebih tinggi (Rp 50 juta di contoh di atas) itu mungkin lebih nasionalis karena Anda (harap-harapnya) bakal membelanjakan uang itu di Indonesia karena Anda tinggal di Indonesia. Semakin banyak Anda menghabiskan gaji Anda di Indonesia, PDB (GDP) Indonesia bakal meningkat. Selain itu mungkin produk digital di perusahaan di Silicon Valley tempat Anda bekerja bakal memberi efek positif yang jauh lebih besar ke dunia (termasuk Indonesia). Misalnya mereka membuat produk perlindungan privasi.

Jadi seperti yang Anda lihat, masalah nasionalisme dan efek positif itu adalah masalah yang pelik. Selain itu, kiamat tidak akan terjadi. Jangan Anda pikir bahwa setelah artikel ini dirilis, semua pemrogram se-Nusantara memutuskan bekerja di perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa dan akhirnya semua perintis di Indonesia gulung tikar karena tidak ada pemrogram-pemrogram yang mau bekerja dengan mereka. Pertama, sebagian besar pemrogram Indonesia tidak bakal tahu ada pilihan untuk bekerja di perusahaan luar (blog ini tidaklah terlalu populer). Kedua, sebagian besar pemrogram Indonesia tidak dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Ketiga, sebagian besar pemrogram Indonesia kemampuan teknisnya masih kurang. Keempat, mereka masih lebih nyaman bekerja di perusahaan di Indonesia. Kelima, planet Mars yang menaungi negara Indonesia sedang berada di posisi terdekat dengan matahari sehingga nasib perintis-perintis Indonesia masih bagus. Aura mereka masih cemerlang sehingga masih bisa menarik banyak pemrogram Indonesia untuk bekerja di tempat mereka. Hal ini bakal tetap berlaku sampai 10 tahun ke depan. Untuk alasan terakhir ini, saya bercanda. 😂

Lagipula kekayaan itu bukan permainan dengan jumlah nol (wealth is not a zero-sum game). Pemrogram dengan gaji Silicon Valley suatu hari kan mungkin bakal buka bisnis. Entah bisnis beternak lele, atau bikin perintis. Jadi kita tidak perlu cemas dengan pemrogram-pemrogram yang memutuskan untuk bekerja di perusahaan luar ketimbang bekerja di perusahaan dalam negeri karena gaji yang besar. Kita, sebagai masyarakat secara kolektif, tetap bakal diuntungkan dengan fenomena ini.

Dari sisi koin lainnya perusahaan di Indonesia bisa mempekerjakan orang-orang dari seluruh dunia kan. Oh, jangan Anda pikir semua perusahaan di Indonesia itu miskin. Perusahaan Gojek itu valuasinya lebih tinggi daripada Gitlab atau Gumroad. Apalagi kalau sampai bergabung dengan Tokopedia 🙈. Saya juga sudah tahu gaji sebagian pemrogram di Gojek. Dan gajinya 🔥🔥🔥. Sangat kompetitif jika Anda bandingkan dengan perusahaan luar. Kan saya pencipta PredictSalary. Adalah jalan ninja saya untuk tahu gaji-gaji orang.

Sebenarnya saya sudah pernah lihat perusahaan seperti Tiket.com mau mendatangkan karyawan dari luar. Mereka ada duitnya. Cuma apakah mereka terbuka terhadap budaya kerja jarak jauh (remote), entahlah. Mereka “lebih suka” mendatangkan orang dari luar untuk bekerja di Jakarta. Yang saya dengar dari karyawan yang bekerja di unicorn atau perusahaan besar (tidak harus Gojek atau Tiket.com) adalah manajemen mau mereka balik bekerja di kantor setelah keadaan “aman“. Tapi opsi bagi mereka untuk mempekerjakan pemrogram-pemrogram yang berbakat dari seluruh dunia selalu terbuka.

Efek seperti apakah yang bakal terjadi beberapa tahun ke depan saya tidak tahu. Ketika mahasiswa lulus di universitas di Indonesia, dia bisa melamar pekerjaan ke seluruh dunia tanpa meninggalkan Indonesia. Tapi persaingainnya juga berdarah-darah karena dia harus bersaing dengan pemrogram-pemrogram yang berbakat dan pekerja keras dari India, Ukraina, Argentina, dan lain-lain. It’s a brave new world.

Nah, situasi ini bisa juga menjadi peluang bagi Anda yang ingin membuat perintis dengan nada yang serupa. Jika Manara fokus terhadap wilaya Timur Tengah dan Afrika Utara, Anda bisa fokus ke Indonesia atau Asia Tenggara. Salah satu nilai yang dapat Anda berikan adalah proses pemeriksaan (vetting) keahlian pemrogram. Hal itu luar biasa sulitnya. Tapi tidak ada hal yang berharga tanpa kesulitan kan? Atau ada? 🤔

Categories
bisnis

Bisnis Swakarya

Bahasa Inggrisnya bootstrapper atau indie hacker.

Arti dari kata bootstrapper adalah orang yang melakukan bisnis dengan sumber dayanya sendiri. Hal ini berbeda dengan perintis (startup) yang didanai oleh pemodal ventura (VC).

Istilah indie lebih terkenal di bidang musik. Musisi indie itu maksudnya musisi yang tidak berada di bawah label musik yang besar. Dengan analogi itu, indie hacker bisa diartikan sebagai pemrogram yang tidak berada di bawah naungan perusahaan yang besar.

Tapi di sini saya ingin memisahkan bisnis swakarya dengan bisnis jasa / konsultasi (software house). Saya memasukkan unsur produk di bisnis swakarya ini. Artinya bisnis swakarya ini mesti mendapatkan penghasilan dari produk bukan dari jasa. Hal ini berbeda dengan software house yang mendapatkan penghasilan dari mengembangkan produk peranti lunak untuk klien.

Contoh bisnis swakarya itu seperti SaaS (Software-as-a-Service), penjualan aplikasi seluler (mobile app) di App Store atau Google Play Store, dan lain-lain.

Sebagai orang Indonesia, saya merasa kategori bisnis swakarya ini tidak populer. Pemrogram yang mau jadi pengusaha biasanya memilih mendirikan software house atau perintis yang didanai oleh pemodal ventura. Entah mereka kurang tahu atau tidak punya teladan. Mungkin juga pebisnis swakarya ini jarang diliput oleh media massa sehingga kurang populer. Bandingkan dengan perintis yang punya media massa yang khusus meliput dunia perintis seperti Deal Street Asia dan Techinasia.

Teman saya sedang mengembangkan bisnis seperti ini. Aplikasi yang dia kembangkan adalah aplikasi Android. Penghasilannya berasal dari in-app purchase dengan sistem langganan. Saya tidak bisa bilang nama aplikasinya karena dia adalah orang yang rendah hati (tidak seperti saya 😂). Tapi secara rutin saya bertanya kepada dia sudah berapa banyak orang yang berlangganan.

Oke, berikut saya memberi contoh bisnis swakarya yang saat ini 100% berasal dari luar negeri. Semoga ke depannya bisnis swakarya dari orang Indonesia bisa saya tampilkan di sini.

Saya akan memperbaharui daftar ini secara berkala. Jadi kalian bisa tandai (bookmark) artikel ini.

  1. Nomadlist + RemoteOk
  2. Bannerbear
  3. Tailwind CSS
  4. Sidekiq
  5. BuiltWith
Categories
perintis startup

Analisa C-Level dan VP-Level Perusahaan Teknologi Besar di Indonesia

Di halaman ini, saya akan menulis analisa C-level dan VP-level di perusahaan teknologi besar di Indonesia. C-level dan VP-level ini seperti jenderal-jenderal militer. Kita jangan terlalu terfokus terhadap raja atau ratu atau presiden atau perdana menteri. Tanpa jenderal-jenderal yang kompeten, sebuah negara juga bakal susah untuk memenangkan perang.

Untuk sementara perusahaannya saya batasi hanya perusahaan yang memiliki jumlah karyawan lebih dari 1000 orang. Makanya cuma 7 perusahaan. Ke depan bakal saya tambahkan.

Daftar ini tidak lengkap. Tidak ada yang namanya “select * from gojek where roles = ‘c-level’;” di Linkedin. Anggap saja daftar ini adalah pengambilan contoh (sampling).

Saya ingin melihat distribusi seks, pendidikan, universitas di orang-orang yang sukses karirnya ini.

Halaman ini akan diperbaharui secara berkala.

Saya menyertakan data sebagai berkas CSV buat kalian main-main di Excel atau LibreOffice Calc atau Google Sheets. Ada Jupyter Notebook juga buat kalian yang bisa pakai pandas. Kalian bisa unduh notebook ini dan unggah ke Google Colaboratory buat analisa data.

Lisensi representasi data dan Jupyter Notebook adalah GPLv3. Jadi Anda bisa memodifikasi notebook ini dan mempublikasikannya di tempat lain dengan catatan bahwa Anda tetap menyertakan lisensi GPLv3. Anda tidak perlu minta izin kepada saya.

Jadi misalnya Anda ingin menganalisa faktor tinggi badan di C-level dan VP-level, yah silahkan. Tapi kalau ada orang lain yang mengambil notebook hasil modifikasi Anda itu dan memodifikasinya (misalnya menganalisa representasi ras), yah Anda tidak boleh melarang sepanjang dia menyertakan lisensi GPLv3.

Kalau Anda berani melanggar titah GPLv3…. saya akan 👉🔥🔥🔥 Anda.

Azula Menembak Petir
Azula Menembak Petir

Harap diingat, data di luar itu tidak rapi. Misalnya ada yang mencantumkan pendidikan tapi tidak ditulis tahunnya sehingga menyulitkan prediksi umur C-level dan VP-level. Prediksi umur menggunakan heuristik tahun mulai belajar di universitas dan tahun mulai bekerja. Artinya umur bisa saja meleset. Misalnya orang bisa saja selesai SMA jalan-jalan dulu sebelum mulai belajar di universitas. Prediksi kewarganegaraan berdasarkan foto, nama, sekolah, dan bahasa yang dikuasai mereka. Ini juga bisa salah. Jadi harap maklum.

Ke depan saya juga akan menyertakan naskah (script) Julia dan R. Sementara pakai Python dulu ya. Selain itu di masa depan saya juga akan menyertakan kolum prediksi gaji dengan karya tercinta saya, PredictSalary. 😂

Data CSV: https://arjunaskykok.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/analisa/c_level_vp_level_perusahaan_teknologi_besar_2020_12_13.csv

Jupyter Notebook: https://arjunaskykok.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/analisa/Analisa_C-Level_dan_VP-Level_di_Perusahaan_Teknologi_Besar_Desember_2020.ipynb

Jupyter Notebook HTML (enak langsung dibaca di tempat): https://arjunaskykok.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/analisa/Analisa_C-Level_dan_VP-Level_di_Perusahaan_Teknologi_Besar_Desember_2020.html

Kesimpulan: Secara gabungan, jumlah perempuan sebagai C-level atau VP-level lebih baik daripada jumlah perempuan sebagai pendiri perintis. Tapi…. ada sesuatu di C-level. Perempuan dan lulusan dalam negeri jumlahnya sedikit sekali. Warga asing paling banyak dari India. ITB adalah universitas yang paling mendominasi di pendidikan S1 C-level dan VP-level. Rata-rata orang mencapai posisi C-level atau VP-level pada umur 33 tahun.

Categories
salary wealth

Pekerjaan Paruh Waktu

Jadi beberapa hari yang lalu, aku mendapat inspirasi untuk membuat situs lowongan pekerjaan paruh waktu. Situs ini aku namakan ParttimeCareers. Aku mendapat inspirasinya (jam 4 sore). Beberapa waktu kemudian aku langsung beli domainnya. Aku merilis situsnya malam itu juga (jam 11 malam). Kemudian aku mengumumkannya di Hacker News malam itu juga dan besoknya di Linkedin. Respon sejauh ini positif (dari survei, Linkedin, dan Google Analytics). Sebenarnya ide untuk membuat situs lowongan pekerjaan paruh waktu ini sudah lama ada (dari 1-2 tahun lalu). Cuma dorongan kuat untuk memanifestasikan ide ini dan waktu yang tepat baru saya dapatkan beberapa hari yang lalu.

Berikut statistik posting Linkedin tentang pekerjaan paruh waktu.

Statistik posting Linkedin
Statistik posting Linkedin

Posting Linkedin itu sebentar lagi mencapai angka 10 ribu views. Dari pengalaman saya, posting saya di Linkedin yang lewat angka 10 ribu views atau 100 likes harus mendapat perhatian dari saya. Ada “sesuatu” di sana. Ada tren di sana. Ada yang tidak boleh saya lewatkan. Alam semesta sedang mengirim pesan kepada saya.

Kemudian mari kita lihat statistik Google Analytics.

Statistik Google Analytics
Statistik Google Analytics

Dari statistik ini, aku mendapat kilasan cahaya tentang keinginan orang untuk bekerja paruh waktu.

Kemudian aku membuat survei dan menyebarkannya ke teman-teman. Yang ikut cuma 51 responder sih. Mari kita lihat.

Ini hasil penuhnya: https://arjunaskykok.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/survei/survei_pekerjaan_paruh_waktu.pdf

Mari kita bahas pertanyaan pertama.

Apakah Anda sedang/bakal mencari pekerjaan paruh waktu?
Apakah Anda sedang/bakal mencari pekerjaan paruh waktu?

Hanya 14% yang benar-benar ingin bekerja penuh waktu sampai pensiun (atau dalam jangka waktu lama).

Apa alasan mau bekerja paruh waktu?
Apa alasannya?

Dugaan saya sebelum bikin survei, mengurus anak bakal jadi alasan nomor satu. Saya “setengah salah”. Membangun bisnis adalah alasan utama orang mau bekerja paruh waktu.

Tapi yang menjawab “membangun bisnis” itu hampir semuanya laki-laki. Yang menjawab “mengurus anak” itu hampir semuanya perempuan.

Terbuka terhadap karyawan paruh waktu?
Terbuka terhadap karyawan paruh waktu?

Setengah orang terbuka terhadap karyawan paruh waktu tanpa syarat. Sisanya ada syarat.

Jumlah jam kerja paruh waktu yang bisa ditolerir?
Jumlah jam kerja paruh waktu yang bisa ditolerir?

Jawaban ini cukup bervariasi.

Bersimpati kepada karyawan paruh waktu demi anak
Bersimpati kepada karyawan paruh waktu demi anak

Ternyata banyak yang bersimpati terhadap Susi. 😉

Nah, kombinasi dari statistik Linkedin, statistik Google Analytics, dan survei ini membuat saya dapat merasakan kerinduan orang terhadap pekerjaan paruh waktu.

Mengurus Anak

Saya sering bertemu dengan teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Sebagian dari mereka berpendidikan tinggi (minimal S1). Kadang-kadang saya bertanya apakah potensi mereka tidak tersia-siakan dengan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Di kebanyakan kasus mereka memiliki suami yang menjadi pencari nafkah 100%. Gaji suami cukup untuk menghidupi keluarga mereka. Nah, dari yang saya lihat (tergantung anaknya umur berapa) ibu-ibu rumah tangga penuh waktu ini tidaklah selalu sibuk 100%. Ketika anak masih di bawah 3 tahun, iya, mereka harus mengerahkan seluruh raga dan jiwa mereka dalam mengurus anak mereka. Tapi ketika anak sudah besar, misalnya berumur 6 tahun, mengurus anak tidaklah memerlukan waktu 24 jam. Ada beberapa waktu di mana ibu-ibu rumah tangga ini memiliki banyak waktu luang (apalagi mereka memiliki asisten rumah tangga).

Kemudian saya membayangkan sebuah kasus hipotesis. Susi adalah pemrogram iOS yang mengerti juga Kubernetes (kombinasi yang jarang). Dia bekerja selama 8 tahun sebelum menikah. Suaminya bergaji tinggi karena bekerja sebagai VP of Marketing. Susi melahirkan seorang anak. Setelah mengurus anaknya penuh selama 2 tahun, Susi ingin kembali bekerja untuk mengekspresikan diri atau menambah uang saku atau ingin bersosialisasi di luar rumah. Tapi pekerjaan yang tersedia di pasar cuma pekerjaan penuh waktu (40 jam per minggu). Susi tidak bersedia bekerja penuh waktu karena dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak atau dia tidak percaya pengasuh anak (babysitter) 100%. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak bekerja sama sekali. Toh, gaji suaminya sudah cukup besar. Tidak masalah bagi dia sih.

Tapi keputusan dia memberikan masalah bagi kita. Kita kehilangan keahlian (expertise) dan potensi penciptaan kekayaan. Anda pikir gampang mencari pemrogram iOS senior yang jago? Negara juga kehilangan potensi pendapatan dari pajak terhadap penghasilan Susi.

Bayangkan kalau Susi bekerja paruh waktu misalnya 20 sampai 30 jam per minggu. Dia masih bisa berkontribusi terhadap masyarakat (walaupun tidak penuh). Perusahaan bisa menciptakan kekayaan (aplikasi iOS) dengan keahlian Susi. Negara mendapat pemasukan dari pajak (baik dari gaji Susi maupun pemasukan perusahaan).

Ada banyak Susi di luar sana. Bayangkan kalau ada 1000 Susi di luar sana, berapa banyak potensi kekayaan yang terlewatkan oleh kita?

Susi yang ingin mencari tambahan penghasilan akhirnya dihadapkan kepada beberapa pilihan, yaitu menjadi agen asuransi, agen MLM, atau menjual masakan di dalam rumah. Tidak ada yang salah dari ketiga mata pencaharian itu. Tapi jika bakat Susi adalah pemrograman iOS, adalah lebih baik bagi dia untuk mencari penghasilan lewat keahlian dia yang langka itu.

Pasti ada yang bilang, di luar sana ada banyak ibu yang bekerja 100%. Kenapa Susi harus diistimewakan? Karena dengan mengistimewakan Susi, kita juga yang akan diuntungkan secara kolektif. Akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah.

Bisnis

Ini alasan paling populer di survei tapi Anda harus ingat bahwa 76% pengambil survei ini adalah laki-laki dan 50% alasan laki-laki mengambil pekerjaan paruh waktu adalah untuk membangun bisnis.

Jika dipikir-pikirkan kembali, ini adalah ide yang bagus. Indonesia kekurangan pengusaha kan? Tapi untuk membangun bisnis, Anda butuh modal. Jika Anda bukan anak orang kaya, Anda harus menabung terlebih dahulu. Hidup dari tabungan memiliki resiko tersendiri. Bisa sih mendapat modal lewat Venture Capitalist (VC). Tapi hal itu memiliki kompleksitas tersendiri.

Tapi bayangkan orang itu (tidak harus laki-laki; bisa perempuan juga) bekerja paruh waktu 20-30 jam dan sisa waktunya dipakai untuk membangun bisnis. Misalnya dia membuat aplikasi video game di platform Steam. Kalau seandainya aplikasi dia gagal, dia masih ada gaji yang menghidupi dia. Kalau seandainya berhasil, dia sudah menciptakan kekayaan di masyarakat dengan aplikasi video game-nya. Dia memiliki tambahan penghasilan dan negara mendapat tambahan pemasukan dari penghasilan dia (dengan asumsi aplikasi video game-nya itu tidak gratis dan memiliki penghasilan dari penjualan langsung atau in-app purchase).

Dari Sudut Pandang Perusahaan

Perusahaan tidak memandang pekerjaan paruh waktu dengan keceriaan. Mereka jauh lebih suka menerima karyawan penuh waktu. Tapi saya akan memberikan alasan kenapa perusahaan harus bersikap terbuka karyawan paruh waktu.

Oh ya, saya harus jelaskan karyawan paruh waktu beda dengan pekerja lepas (freelancer). Karyawan paruh waktu itu seperti karyawan penuh waktu tapi jumlah jam kerjanya di bawah 40 jam per minggu. Pekerja lepas itu yah mungkin bekerja berdasarkan proyek.

Kita tahu Indonesia kekurangan orang yang memiliki bakat teknologi (tech talent). Bajak membajak karyawan teknologi adalah hal lumrah. Banyak yang bingung bagaimana bersaing dengan unicorn atau perusahaan raksasa dalam mempekerjakan karyawan teknologi. Bayangkan Anda menawari Susi Rp 40 juta per bulan, tapi unicorn seperti Bobopi atau Sosola (nama ini adalah fiktif) berani membayar jasa Susi sebesar Rp 60 juta per bulan. Banyak cara untuk menarik Susi ke dalam perusahaan Anda dengan gaji yang kalah jauh daripada gaji di unicorn atau perusahaan raksasa. Misalnya kharisma Anda, opsi saham, opsi bekerja di rumah, dll. Tapi Anda juga bisa menawari pekerjaan paruh waktu kepada dia (jika dia menginginkannya). Misalnya Susi ingin bekerja 30 jam per minggu. Jadi gajinya menjadi Rp 30 juta per bulan. Tidak masalah apakah alasan Susi adalah demi anak atau demi hobi atau demi bisnis. Bobopi atau Sosola mungkin tidak bisa memberi pekerjaan paruh waktu kepada Susi tapi Anda dapat.

Visioner

Tahukah Anda bahwa saya adalah seorang visioner? 😎

Pada tahun 2007 saya melamar pekerjaan sebagai pemrogram jarak jauh (remote engineer). Iya, 13 tahun sebelum pekerjaan jarak jauh itu menjadi “lumayan” mainstream. Saya cuma bekerja selama 1 bulan. Saya tidak cocok dengan perusahaan yang bersangkutan waktu itu. Kemudian saya menyerah. Saya ambil jalan normal. Waktu itu, saya gampang menyerah.

Tapi mengenang kembali peristiwa itu membuat saya lumayan yakin terhadap kemampuan saya memprediksi masa depan. Melihat “tren” pekerjaan paruh waktu sekarang ini mengingatkan saya kepada tren remote pada tahun 2007. Masih sangat awal. Jika Anda kembali ke masa lampau misalnya 10 tahun lalu di Indonesia, dan Anda meminta untuk bekerja sebagai pemrogram di rumah, jangan harap permintaan Anda akan disetujui. Seperti itulah reaksi perusahaan di Indonesia terhadap pekerjaan paruh waktu sekarang ini. Tapi di luar Indonesia, orang-orang sudah mulai terbuka terhadap pekerjaan paruh waktu. Iya, seperti tahun 2007 di mana orang-orang di luar sana sudah mulai terbuka terhadap pekerjaan remote. Tapi ada kemungkinan besar perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai terbuka terhadap budaya kerja paruh waktu belasan tahun lagi.

BELASAN TAHUN LAGI? Siapa yang sanggup menunggu selama itu? Nah, bagi kalian pembaca blog saya yang budiman, yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu sekarang ataupun dalam waktu dekat, keadaan tidaklah seburuk yang Anda duga. Anda bisa mencari pekerjaan paruh waktu di luar sana. Kan sekarang orang bisa bekerja di mana saja (dengan asumsi pekerjaan-pekerjaan teknologi seperti rekayasa peranti lunak).

Perdalam bahasa Inggris dan keahlian-keahlian yang banyak dicari orang (React, Android, Python, dll) di luar sana.

Produk Domestik Bruto

Pasti ada di antara kalian yang takut tren pekerjaan paruh waktu ini akan membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi kurang kompetitif. Bayangkan semua orang bekerja paruh waktu, mau jadi apa Indonesia ini? 😱

Saya mendukung orang yang mencari pekerjaan paruh waktu seperti contoh Susi di atas tidak berarti saya menginginkan semua orang bekerja paruh waktu di masyarakat. Visi saya adalah 80% orang bekerja penuh waktu dan 20% orang bekerja paruh waktu (dengan berbagai alasannya). Jangan tanya saya darimana saya ambil angka 80% – 20%.

Selain itu 1 orang di hidupnya akan mengalami periode di mana dia ingin bekerja penuh waktu, dan ada kalanya dia ingin bekerja paruh waktu. Misalnya Susi lulus kuliah umur 21 tahun, kemudian dia bekerja penuh waktu sampai umur 30 tahun. Pada usia itu dia menikah dan melahirkan anak. Dia berhenti bekerja selama 3 tahun. Kemudian pada umur 33 tahun, dia bekerja paruh waktu sampai umur 40 tahun. Kemudian pada umur 40 tahun dia bekerja penuh waktu sampai dia pensiun.

Dengan memaksa Susi bekerja penuh waktu pada umur 33 tahun di mana dia masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anaknya, kita mengambil resiko di mana Susi berhenti bekerja sama sekali karena tidak ada yang mau mempekerjakan dia paruh waktu.

Selain masalah anak, ada juga kasus di mana orang harus mengurus orang tuanya yang sakit parah. Misalnya Budi bekerja penuh waktu sampai umur 35 tahun di mana papanya terkena stroke. Budi ingin mengurangi waktu kerjanya sehingga dia bisa menemani papanya lebih lama setiap minggunya. Anggap mama Budi sudah meninggal.

Pembaca yang budiman dan cerdas pasti ada yang mengusulkan kenapa Budi tidak mempekerjakan perawat untuk mengurus papanya. Jadi Budi bisa berkonsentrasi kepada pekerjaan penuh waktunya. Tidak ada yang salah dengan itu. Dari sisi pendapatan negara, pendekatan ini lebih optimal karena Budi bekerja penuh waktu dan Budi harus membayar gaji kepada perawat yang mengurusi papanya. Jika Budi berhenti bekerja misalnya karena mau mengurusi papanya, negara kehilangan pendapatan dari dua orang yaitu Budi dan perawat.

Tapi tidak semua hal di dunia ini harus diukur dengan ekonomi. Saya yakin papa Budi lebih senang ditemani oleh anaknya, yaitu Budi, ketimbang seorang yang asing. Idealnya, Budi menemani papanya penuh waktu tapi Budi hidup di masyarakat yang tidak sempurna. Budi tidak hidup di dunia Star Trek yang sudah mencapai status post-scarcity society. Jadi Budi harus tetap bekerja. Menurut saya, pekerjaan paruh waktu adalah kompromi yang wajar terhadap situasi Budi. Budi mungkin masih tetap memakai jasa perawat. Dia masih bekerja (walaupun paruh waktu). Tapi dia memiliki waktu tambahan misalnya 10 jam setiap minggunya untuk menemani papanya.

Untuk memperjelas ide ini, bayangkan saya menjadi Presiden NKRI dan saya membuat keputusan untuk meningkatkan pendapatan negara maka semua perempuan tidak boleh menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Mereka harus bekerja untuk meningkatkan produktivitas negara. Lalu yang mengurusi anak mereka? Oh, mereka bisa mempekerjakan pengasuh anak. Dengan demikian maka negara mendapat pemasukan dari pajak terhadap gaji perempuan-perempuan profesional ini. Ekonomi juga menjadi lebih hidup karena perempuan-perempuan profesional ini harus menghabiskan sebagian gajinya untuk membayar jasa pengasuh anak. Bayangkan jika mereka menjadi ibu rumah tangga 100%. Oh, itu adalah tragedi ekonomi karena negara bakal kehilangan pemasukan sekian. Aktivitas ibu mengurusi anak kan tidak termasuk aktivitas komersial sehingga tidak menjadi bagian dari ekonomi.

BUT HAVE WE GONE NUTS OR WHAT? Dunia menjadi terlalu sinis dan dingin jika kita menempatkan ekonomi di atas segalanya. Bobby Kennedy pernah berpidato tentang Produk Domestik Bruto:

Yet the gross national product does not allow for the health of our children, the quality of their education or the joy of their play.  It does not include the beauty of our poetry or the strength of our marriages, the intelligence of our public debate or the integrity of our public officials. 

It measures neither our wit nor our courage, neither our wisdom nor our learning, neither our compassion nor our devotion to our country, it measures everything in short, except that which makes life worthwhile. 

Makanya pekerjaan paruh waktu adalah kompromi yang ideal dari idealisme dan dunia nyata yang tidak sempurna ini.

Rencana ParttimeCareers

Situs ini saya bikin terburu-buru. Ia adalah HTML statik sahaja. Tapi ketika saya memiliki waktu luang, saya akan menggunakan Next.js untuk mengembangkan situs ParttimeCareers. Situs ini akan fokus terhadap pekerjaan paruh waktu di bidang teknologi. Dalam waktu dekat, jangan berharap terlalu banyak dari situs ini. Ia akan hanya menjadi situs daftar pekerjaan-pekerjaan paruh waktu saja. Tapi ke depannya (mungkin 2 tahun lagi) akan ada fitur-fitur lainnya. Misalnya daftar orang-orang yang ingin bekerja paruh waktu. Mungkin bakal ada komunitas. Mungkin bakal ada wawasan tambahan bagi orang-orang yang ingin mendapat pekerjaan penuh waktu. Misalnya mereka harus mengembangkan keahlian apa sehingga mereka gampang mencari pekerjaan penuh waktu. Tentu saja bakal ada integrasi dengan karya tercinta saya, PredictSalary.

Saya berharap karya saya ini akan berguna bagi Anda.