Categories
bisnis kepercayaan diri perintis

Fokus Laser

Jadi aku mendapat notifikasi dari Google Cloud Platform (GCP).

VM di GCP

Jika Anda mengklik tautan rekomendasi untuk berhemat (“Save $59 / mo”), maka Anda akan diberi saran seperti ini:

Rekomendasi dari GCP

GCP bilang, “Hei, VM kamu ada yang nganggur, jadi mending dimatikan saja biar kamu bisa hemat. VM yang nganggur itu VM SwanLove, Mamba, dan API PredictSalary.” 🀣

Oh, ya ada dua VM untuk PredictSalary. Satu untuk situsnya yang populer sekali karena orang bisa melihat gaji-gaji orang lain. Satunya lagi VM untuk API yang memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Yang satu laku, yang lain tidak.

You can do anything, but you cannot do everything

Hal ini membuat aku merenung. Selama ini sebagian proyek aku terbelangkai karena kurang perhatian dari aku sehingga akhirnya proyek itu ketinggalan jauh daripada kompetitornya.

Oke, aku ringkaskan proyek-proyek aku yang berjibun di GCP biar Anda bisa menghayati perjuangan batinku:

  • ArjunaSkyKok dot com (lahir Maret 2020): blog yang sedang Anda baca ini. Ia membahas dunia perintis (startup) di Indonesia dan dunia.
  • PredictSalary (lahir Juli 2020): pengaya perambah (browser extension) yang memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Ada juga fitur orang-orang berbagi gaji dan melihat gaji.
  • ParttimeCareers (lahir Januari 2021): situs lowongan pekerjaan paruh-waktu.
  • SwanLove (lahir November 2020): situs jodoh berdasarkan Linkedin.
  • Mamba (lahir September 2019): kerangka pengembangan proyek Ethereum.
  • Pembangun (lahir April 2021): forum pengembang mandiri (indie hackers) Indonesia.

Nah, belum lagi ada hasrat mencari pekerjaan profesional lagi dan tawaran berbisnis B2B dari teman.

Aku selama ini konsentrasinya terpecah belah. Aku tidak fokus ke proyek aku. Aku mengerjakan semuanya secara dangkal. Jadi hasil mereka ada yang tidak optimal. Tapi ada juga yang menunjukkan potensinya walaupun aku mengerjakannya tidak penuh waktu.

Hal ini juga membuat aku frustrasi karena aku merasa bersalah mengabaikan sebagian proyek aku. Jika aku mengerjakan proyek A, maka proyek B terabaikan. Jika aku mengerjakan proyek B, bagaimana dengan proyek C?

Aku punya banyak fitur yang aku ingin kerjakan di proyek A, B, C, E, F. Tapi waktu aku cuma 24 jam sehari dan aku butuh tidur 8-9 jam sehari.

Lalu aku mengevaluasi proyek-proyek tersebut. Bagaimana hasilnya? Proyek mana yang pantas untuk dilanjutkan dan ditekuni?

ArjunaSkyKok dot com

Aku mulai rutin menulis blog ini sejak bulan lalu (setiap minggu mengeluarkan satu artikel). Tapi sebelumnya sempat vakum lama. Blog ini lumayan disukai orang.

Traffic blog ArjunaSkyKok dot com bulan lalu

Tulisan-tulisannya disukai orang.

https://twitter.com/arjunaskykok/status/1422097118521479171
https://www.linkedin.com/posts/arjunaskykok_minasama-artikel-yang-berjudul-silicon-activity-6838345247194542080-dQnw/
https://www.linkedin.com/posts/arjunaskykok_startups-indonesia-startup-activity-6835431872634470400-kyiY/

Buku saya juga disukai orang-orang.

Pesan pribadi

Keputusanku adalah aku tetap menulis blog (dan buku) ini seminggu sekali. Setiap hari Minggu. Itu saja. Aku tidak akan memusingkan masalah monetasi. Blog ini adalah ekspresi spiritual aku.

PredictSalary

Ide awalnya cuma buat lucu-lucuan saja. Tiap kali aku posting tentang gaji di Linkedin, pasti ramai. Jadi aku mencoba untuk membuat aplikasi untuk prediksi gaji dari lowongan pekerjaan dengan Deep Learning dalam bentuk pengaya perambah. Hasilnya…. hangat-hangat saja.

796 pengguna Chrome
82 pengguna Firefox

Penggunanya tidak sampai seribu. Dan memasukkan satu situs lowongan pekerjaan ke PredictSalary itu butuh waktu yang banyak. Tidak semua situs yang rapi seperti Techinasia. Ada yang lowongan pekerjaannya berbentuk struktur data yang tidak rapi. Harus pakai NLP untuk mengekstrak informasi. Terus ada juga situs lowongan pekerjaan yang tidak memberitahu gaji secara eksplisit. Dia mensyaratkan Anda mengisi ekspektasi gaji, baru dia kasih tahu bahwa apakah gaji di lowongan pekerjaan ini sesuai dengan ekspektasi gaji Anda tidak. Artinya saya mesti scrap berulang kali (karena mesti mengubah ekspektasi gaji saya berkali-kali) untuk mendapatkan angka yang tepat.

Semua itu bisa aku kerjakan, cuma masalahnya seberapa besar nilai yang orang dapatkan dari memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Sebanding tidak dengan usaha saya?

Lalu pada bulan Mei 2021 kemarin, aku bikin fitur berbagi gaji. Jadi Anda bisa mengirimkan gaji, terus saya tampilkan semua gaji orang-orang yang berbagi gaji. Hasilnya luar biasa. Sempat satu bulan itu, situs PredictSalary dikunjungi sampai 50 ribu kali. Untuk satu bulan terakhir situs PredictSalary dikunjungi 3 ribu kali.

Keputusanku adalah untuk mematikan pengaya perambah dan tetap melanjutkan fitur berbagi gaji karena sudah membantu banyak orang.

I know, the irony. Aplikasi dengan Deep Learning tidak laku. Aplikasi berbagi gaji yang berupa form biasa itu laris manis.

Dapatkah PredictSalary dikembangkan lagi? Sepertinya susah. Upside-nya tidak tinggi-tinggi amat. Aplikasi PredictSalary itu harus dimasukkan dalam kerangka yang lebih luas. Saya ambil contoh aplikasi serupa, TechPays, yang dibikin oleh Gergely Orosz. Dia memiliki blog dan artikel premium yang membahas tentang karir software engineer. Hal ini masuk akal. Situs berbagi gaji itu bisa dianggap sebagai content marketing, hal yang menarik orang-orang ke Anda. Tapi susah kalau mau dijadikan produk utama. Berapa banyak orang yang mau membayar untuk memprediksi gaji lowongan pekerjaan?

Jadi jangan khawatir, aku tetap me-maintain PredictSalary. Yang aku matikan adalah pengaya perambah saja. Nanti aku juga akan merapikan situsnya, menambahkan filter dan pengurutan. Terus aku bakal bikin fitur berbagi gaji untuk profesi lain, misalnya dokter (sudah diminta orang nih). Hal ini masih mungkin aku kerjakan karena tidak memakan waktu banyak. Mengerjakan pengaya perambah itu yang susah. Ia memakan banyak waktu karena harus meng-scrap situs lowongan pekerjaan dan bikin model Deep Learning yang akurat.

ParttimeCareers

Sedikit pengunjungnya. Tapi aku suka dengan konsep lowongan pekerjaan paruh waktu. Lagipula me-maintain ParttimeCareers ini cuma butuh 1 jam per bulan. PER BULAN. Situs ini jarang diperbaharui karena kontennya susah dicari. Pekerjaan paruh-waktu itu jarang ada.

Mamba

Kalau dipikir-pikir, aku agak menyesal tidak fokus 100% sejak awal dalam mengerjakan Mamba. Mamba bisa membuat reputasiku tinggi di dunia DeFi. Dengan Mamba sebagai pijakan, aku seharusnya bisa membangun proyek DeFi yang sukses. Tapi karena tidak fokus, aku tidak serius mengerjakan Mamba. Akhirnya Mamba kalah dengan kompetitornya, seperti Brownie, Truffle, Hardhat.

Keputusanku adalah matikan saja proyek ini. Tapi karena crypto akan menjungkirbalikkan dunia ini di masa depan, aku tetap harus belajar pemrograman crypto biar bisa beradaptasi. Lagipula proyek di mana aku akan fokus itu bakal bersinggungan dengan crypto.

Mamba ini aku akan jadikan sebagai situs blog atau Youtube (belum tahu yang mana) di mana aku berbagi dalam mempelajari kode-kode proyek DeFi/NFT yang terkenal, misalnya Uniswap, Sushi Swap. Paling aku habiskan sejam atau dua jam sehari untuk proyek ini.

Pembangun

Traffic-nya lumayan.

Traffic bulan lalu
Aktivitas untuk sebulan terakhir
Traffic seluruh waktu

Jadi rata-rata traffic Pembangun (di luar crawler) adalah 7 ribu per bulan. That’s not bad. Tiap hari aku cuma habiskan setengah jam untuk mengisi konten di forum Pembangun.

Terus Pembangun sudah banyak menginspirasi orang.

https://pembangun.net/t/pembangun-sudah-menginspirasi-orang/263

Selain itu, ketika aku mengisi konten di Pembangun, aku belajar banyak. Aku jadi tahu berapa lama yang dibutuhkan waktu untuk membangun SaaS. Aku jadi tahu bikin video game itu jauh lebih susah dan lama daripada bikin SaaS. Terus aku juga mendapat pengetahuan bahwa tidak perlu bekerja penuh waktu untuk membangun bisnis yang sukses. Dan lain-lain.

Keputusanku adalah menghabiskan waktu setengah sampai satu jam sehari untuk me-maintain Pembangun. Hitung-hitung belajar bisnis.

Sebagai sumber pemasukan, nanti mungkin aku bekerja sama (affiliate marketing) dengan pihak dompet elektronik sehingga pembangun bisa memakai produk mereka dalam menerima pembayaran. Diharapkan forum ini bisa self-sustain ke depannya.

Apakah Pembangun bisa dikembangkan lebih lanjut? Bisa. Aku bisa bikin jadi marketplace, seperti Gumroad. Tapi aku putuskan untuk memilih proyek lain.

SwanLove

Ia gagal mendapat traction. Tapi wajar sih. Ini adalah marketplace. Ia kena kutukan masalah ayam atau telur duluan.

Jadi aku sementara ini matikan dulu. Tapi aku masih berhasrat untuk melanjutkan aplikasi ini ketika kondisinya sudah tepat. Mungkin 5 atau 8 tahun lagi. Aku punya banyak mimpi terhadap SwanLove.

Aku memutuskan untuk menjual angsa-angsa sebagai NFT di OpenSea sebagai ucapan selamat tinggal.

https://opensea.io/collection/swan-love

SailorCoin

Ia memang tidak ada VM di GCP. Yang aktif adalah akun Twitter SailorCoin yang membahas tentang berita-berita finansial dan penawaran saham perdana perusahaan-perusahaan Indonesia.

Ternyata banyak orang suka, termasuk akun IG yang terkenal di dunia startup Indonesia, yaitu ecommurz.

Disebut oleh kucing

Akun Twitter SailorCoin sudah mulai mendapat traction.

Setelah dipikir-pikir, akun yang membahas berita finansial teknologi, mata uang kripto, NFT, saham meme, IPO (Initial Public Offering) perusahaan Indonesia dan Amerika masih sedikit.

Pasarnya bagus. Kita lihat Felicia Putri, yang membahas tentang finansial dan saham di Youtube, bisa mendapatkan Rp 400 juta per bulan.

https://www.youtube.com/watch?v=lxv6TIPc2XE

Nah, masih belum ada akun media sosial yang kuat yang membahas mata uang kripto, DeFi, NFT. IPO perusahaan Amerika juga masih sedikit yang bahas. Nah, there’s a void.

Akun SailorCoin memang berbahasa Inggris. Tapi nanti setelah beberapa bulan, bakal dibikin akun khusus berbahasa Indonesia.

Terus, SailorCoin juga bakal menawarkan produk SaaS, yaitu aplikasi yang membaca dokumen finansial (Form S-1, Earnings Call, Whitepaper) dengan teknologi NLP (Natural Language Processing).

Ia bisa meng-highlight angka dan nama penting
Ia bisa berdialog dengan dokumen IPO
Ia juga bisa memfilter dan mengurutkan tabel statis di dokumen IPO

Aplikasi SaaS-nya sedang dikembangkan.

Aku akan fokus ke SailorCoin karena peluangnya besar. Orang butuh media finansial yang membahas finansial teknologi, NFT, DeFI. Hal ini sudah tervalidasi.

Nah, aplikasi pembaca dokumen finansial ini memang belum tervalidasi. Bisa saja tidak ada orang yang mau memakainya. Tapi minimal aku bakal pakai. Sesial-sialnya SailorCoin bakal jadi media finansial yang sukses. Aplikasi SaaS-nya dipakai untuk membaca dokumen IPO oleh saya sehingga saya menghasilkan konten untuk SailorCoin dengan lebih cepat.

SailorCoin juga saya pilih karena ia bisa dikerjakan sebagai proyek bootstrap. Ia juga sepertinya menarik bagi investor karena ia bersinggungan dengan Kecerdasan Buatan dan crypto. Jadi saya memiliki fleksibilitas yang besar dengan proyek SailorCoin.

SailorCoin adalah proyek yang aku bakal fokus. It’s time to go all-in.

Fokus Laser

Kenapa aku mengerjakan banyak proyek dengan usaha yang dangkal selama ini? Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Sebagian dikarenakan aku takut go all-in. Bagaimana jika pilihanku salah? Aku juga punya kecenderungan untuk melakukan banyak hal.

Tapi untuk sukses, aku harus bisa fokus. Iya, saya tahu ada yang namanya Elon Musk. Selalu ada yang namanya pengecualian.

Begini pembagian waktu aku. Anggap aku bekerja 11 jam sehari.

Delapan (8) jam aku mengerjakan SailorCoin. Delapan jam itu dibagi 4 jam mengerjakan konten media SailorCoin (Youtube, Twitter, TikTok), 4 jam mengerjakan proyek aplikasi web pembaca dokumen finansial.

Satu (1) jam dipakai untuk me-maintain Pembangun dan PredictSalary.

Dua (2) jam dipakai untuk belajar pemrograman crypto. Karena crypto adalah masa depan. Mau tidak mau harus belajar crypto.

https://twitter.com/js_horne/status/1429240626151821313

Fokus laser juga membuat aku mendapatkan ketenangan jiwa. Tidak ada lagi perasaan bersalah karena tidak memperbaharui aplikasi-aplikasi yang berjibun itu. Aku bisa fokus untuk menumbuhkan SailorCoin.

Aku ini seperti samurai yang berada dalam keadaan Zen. Tidak ada keraguan lagi dalam bertempur. Karena aku sudah memilih medan pertempuran.

Rurouni Kenshin

Sebelum fokus laser:

Killua

Setelah fokus laser:

Killua dengan listrik

Nah, barulah aku bisa sukses!

SUKSES!!!

Moral Cerita

Moral dari cerita adalah jangan mengerjakan banyak proyek. Fokus kepada satu atau maksimal dua proyek. Betul, tahu proyek mana yang harus Anda fokus itu kadang-kadang harus melewati banyak eksperimen. Jadi ada kalanya Anda harus bikin banyak proyek untuk mencari The One. Terus, jangan takut untuk mengambil resiko.

Kesimpulan

Aku kebanyakan proyek. Akhirnya banyak yang terbelangkai. Solusinya adalah memilih mana yang harus aku fokus. Harus tegas dalam mematikan proyek yang lain.

Categories
perintis startup

Silicon Valley Indonesia

Slipicon Valley, Silicon Bali, Cilegon Valley, ….

Jadi negara kita, Indonesia, terobsesi membangun Silicon Valley. Kita akan melihat kenapa membuat Silicon Valley itu susah setengah mati. Dan kenapa kita tidak perlu berkecil hati jika kita gagal dalam membuat Silicon Valley. It’s not us, it’s them. Walaupun begitu, kita akan melihat kota-kota manakah yang berpotensi menjadi Silicon Valley Indonesia. Terus ada paradigma baru yang mentransenden konsep “Silicon Valley Indonesia”.

Apa itu Silicon Valley?

Orang mengartikan Silicon Valley itu berbeda-beda. Ada yang mengartikannya sebagai sebuah tempat di California di mana banyak perusahaan-perusahaan berbasis peranti lunak dan peranti keras sukses berdiri di situ.

Tapi ada juga yang mengartikannya secara umum, yaitu semua perusahaan teknologi berbasis peranti lunak dan peranti keras dari Amerika Serikat.

Ada yang mengartikan Silicon Valley sebagai suatu mindset dalam menghasilkan inovasi dalam membangun perintis (startup).

Karena orang mengartikannya berbeda-beda, maka kadang-kadang terjadi lost in translation. Misalnya, apakah perusahaan teknologi yang didirikan di New York, seperti Digital Ocean itu termasuk Silicon Valley atau tidak? Ada yang bilang tidak karena New York bukan bagian dari Silicon Valley. Ada yang bilang ya, karena Silicon Valley mencakup semua perusahaan teknologi di Amerika Serikat.

Tapi untuk artikel ini, saya akan menggunakan pengertian Silicon Valley yang mencakup semua perusahaan teknologi dari Amerika Serikat. Kecuali saya membicarakan tempat fisik.

Kenapa orang terobsesi dengan Silicon Valley?

Karena πŸ’ΈπŸ’ΈπŸ’Έ.

https://www.visualcapitalist.com/which-companies-belong-to-the-elite-trillion-dollar-club/

Di atas itu adalah daftar perusahaan-perusahaan yang mencapai valuasi setidaknya $1 trilyun (Rp 14.000.000.000.000.000). Hanya ada satu perusahaan yang bukan bagian dari Silicon Valley.

Silicon Valley Indonesia

Mari kita melihat-lihat tempat-tempat yang dielu-elukan sebagai Silicon Valley Indonesia.

Batam

https://tekno.tempo.co/read/1256473/menengok-nongsa-digital-park-silicon-valley-indonesia-di-batam/full&view=ok

Kelebihannya adalah dekat dengan Singapura. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam. Industri animasi di sana sudah berjalan.

Malang

https://www.medcom.id/nasional/daerah/1bVA8BnN-malang-berambisi-jadi-silicon-valley-di-indonesia

Ada KEK juga di Malang.

Bali

https://www.bbc.com/news/business-27043778

Bali merupakan hotspot pengunjung dari belahan dunia lainnya. Ini merupakan potensi terjadinya pertukaran ide. Bali juga merupakan tempat favorit orang nomad.

Papua

https://nasional.kompas.com/read/2019/10/29/13160341/mengenal-silicon-valley-di-papua-yang-diresmikan-jokowi?page=all#page2

Tangerang

https://banten.idntimes.com/news/banten/muhammad-iqbal-15/banyak-yang-gak-tahu-tangerang-punya-silicon-valley/3

Tangerang dekat dengan Jakarta.

Surabaya

https://www.idntimes.com/news/indonesia/rudy-bastam/resmi-dibuka-inilah-silicon-valley-milik-surabaya-1/full

Salah satu kota terbesar di Indonesia.

Yogyakarta

https://www.antaranews.com/berita/687613/diy-siapkan-kawasan-industri-menyerupai-silicon-valley

Bandung

https://www.bbc.com/news/av/business-42889855
https://www.techinasia.com/5-reasons-bandung-great-tech-city-indonesias-silicon-valley

Bogor

https://www.viva.co.id/arsip/999488-pembangunan-silicon-valley-indonesia-di-bogor-dipercepat

Cikarang

https://tekno.sindonews.com/read/348452/207/cikarang-bakal-punya-silicon-valley-untuk-pengembangan-teknologi-ri-1614384122

Depok

https://godepok.com/sandiaga-uno-sebut-depok-silicon-valley/

Medan

https://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2016/05/13/233541/medan_dinilai_bisa_samai_silicon_valley/

Manado

https://beritamanado.com/menuju-sulawesi-utara-silicon-valley-di-indonesia-olly-steven-gagas-cyber-park-center-di-sulut/

Jakarta

https://www.thejakartapost.com/news/2015/08/20/slipicon-valley-new-hub-startups.html

Sukabumi

https://money.kompas.com/read/2021/04/11/232100526/mengenal-bukit-algoritma-sukabumi-tiruan-silicon-valley-ala-indonesia

Makassar

https://makassardigitalvalley.id/

Dari kota-kota atau daerah-daerah yang sudah disebutkan di atas, mana yang Anda jagokan menjadi Silicon Valley Indonesia?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat sejarah Silicon Valley yang sebenarnya.

Sejarah Silicon Valley

Mari kita kembali ke akar. Apa yang membuat Silicon Valley itu Silicon Valley?

Berikut sejarah lengkapnya:

Ceritanya panjang:

https://steveblank.com/secret-history/

Ada versi videonya yang durasinya sejam.

https://www.youtube.com/watch?v=ZTC_RxWN_xo

Kalau Anda punya waktu lebih, coba bacalah artikel-artikelnya atau tontonlah videonya.

Tapi bagi Anda yang sangat sibuk, saya singkatkan sejarah Silicon Valley dalam 3 paragraf.

Di Perang Dunia Kedua, Amerika dan Inggris membutuhkan teknologi untuk men-jamming radar Jerman. Amerika sadar bahwa untuk memenangkan perang, dibutuhkan teknologi yang canggih. Mereka kerjasama dengan universitas. Pemerintah memberi pendanaan yang besar kepada universitas-universitas. Hal ini berlanjut sampai periode setelah Perang Dunia Kedua usai. Musuh Amerika adalah Uni Sovyet saat itu. Amerika ingin terbang melintasi Uni Sovyet untuk memantau kekuatan perang Uni Sovyet. Maka dari itu, Amerika membutuhkan teknologi yang canggih supaya pesawat mereka tidak terdeteksi oleh Uni Sovyet. Teknologi anti-radar dan satelit pun dikembangkan supaya bisa mengintip Uni Sovyet. Teknologi ini membutuhkan hal-hal yang berhubungan dengan Integrated Circuit yang bahannya adalah Silicon.

Nah, teknologi-teknologi ini kebanyakannya dikembangkan di Universitas Stanford. Lalu dekan di sana mendorong murid-muridnya untuk mendirikan perusahaan untuk memproduksi barang-barang elektronik ini dengan klien utama yaitu militer Amerika.

Setelah itu, makin banyak perusahaan yang memproduksi barang-barang elektronik ini. Kemudian ada yang keluarga-keluarga kaya membentuk perusahaan investasi untuk bisnis yang beresiko tinggi. Terus, ada orang yang bikin VC yang memberi pendanaan kepada perusahaan-perusahaan teknologi. Dan seterusnya.

Teknologi-teknologi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan industri Komputer Personal (Personal Computer / PC) di Silicon Valley. Jadi adalah kondisi perang dan militer Amerika yang membesarkan Silicon Valley.

Keistimewaan Silicon Valley

Apa sih keistimewaan Silicon Valley itu? Keistimewaan Silicon Valley itu bisa dibagi menjadi empat kategori, yaitu pemerintah dan masyarakat yang mendukung budaya wirausaha di bidang peranti lunak dan peranti keras, SDM dengan kemampuan yang tinggi, pendiri (founder) perintis yang visioner dan pemodal ventura (VC) yang sangat mendukung perintis.

Kita ambil contoh perekayasa peranti lunak dari SDM di Silicon Valley. Apakah Anda memperhatikan yang mengembangkan bahasa-bahasa pemrograman, kerangka pengembangan (framework) dan sistem operasi itu kebanyakannya orang-orang dari Silicon Valley?

Ada banyak pendiri perintis yang sangat visioner dari Silicon Valley, seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan lain-lain.

Jika saya bilang, SDM dan pendiri perintis Indonesia kalah kualitasnya dibandingkan dengan SDM dan pendiri perintis Silicon Valley, saya yakin pasti sedikit yang akan membantah saya.

Nah, ada satu faktor lagi yaitu VC. Banyak ide-ide cemerlang yang hanya bisa lahir dengan bantuan dana yang besar. Kita ambil contoh VC yang sangat terkenal dari Silicon Valley, yaitu Marc Andreessen. Sebelum menjadi VC, dia adalah pencipta Mosaic, yaitu perambah (browser) yang pertama kali banyak digunakan. Dia juga adalah pasangan pendiri (co-founder) Netscape.

Dia adalah salah satu VC yang visioner dan berani mendanai proyek-proyek ambisius. Contohnya:

https://money.cnn.com/2016/04/04/technology/george-hotz-comma-ai-andreessen-horowitz/index.html

George Hotz mendapatkan pendanaan $3 juta (Rp 42 milyar) pada tahun 2016 dari VC Andreessen Horowitz (salah satu partnernya adalah Mark Andreessen) untuk perintis mobil swakemudinya.

Anda tidak akan menemukan VC yang mau mendanai perintis self-driving car di Indonesia.

Jika Anda tanya VC di Indonesia kenapa mereka tidak mau mendanai perintis self-driving car di Indonesia, maka jawaban mereka kemungkinan adalah di Indonesia tidak ada SDM mumpuni yang sanggup membangun perintis self-driving car.

Itu ada benarnya, tapi ada faktor juga di mana VC di Indonesia terlalu takut mengambil resiko (risk-averse). Mereka hanya berani berinvestasi pada sektor yang sudah pasti dan aman, seperti SaaS atau e-commerce. Kalau teknologinya terlalu baru, misalnya drone, self-driving car, atau NFT, mereka susah untuk dibujuk dalam memberikan pendanaan.

Faktor terakhir adalah pemerintah dan masyarakat. Di Silicon Valley sana, kegagalan adalah hal yang dipandang lumrah. Tidak apa-apa jika gagal. Di Indonesia, masih ada stigma kegagalan dalam menjadi pengusaha. Belum lagi faktor di mana pemerintah Amerika tanpa sengaja mem-bootstrap Silicon Valley dengan proyek militernya yang mengakibatkan banyaknya muncul perusahaan-perusahaan teknologi.

Kombinasi dari 4 hal ini membuat Amerika (tapi tidak Indonesia) memiliki perusahaan teknologi seperti ini:

https://techcrunch.com/2017/03/22/boom-supersonic-raises-33m-to-build-the-fastest-airplane-for-passenger-flight/

It’s not us, it’s them

Mungkin paragraf-paragraf sebelumnya ada yang menyinggung perasaan teman-teman di dunia perintis Indonesia.

“Kita tidak kalah kok dengan Silicon Valley. Buktinya kita punya Tokopedia dengan valuasi $9 milyar atau Rp 100 trilyun lebih. Kita juga punya …. (sebutkan nama perusahaan teknologi Indonesia favorit Anda dengan valuasi besar)”

Anda harus ingat bahwa saya tidak bilang kondisi dunia perintis kita buruk atau menyedihkan secara absolut. Mari kita gunakan analogi. Anggap tim nasional basket kita juara di Asia Tenggara. Itu kondisi yang menggembirakan kan? Kita bisa berbangga akan pencapaian itu. Kemudian tim nasional kita mengikuti Olimpiade dan bertemu dengan tim nasional Amerika Serikat di mana ada Kevin Durant dan teman-temannya. Menurut Anda, berapa skor yang akan terjadi jika Kevin Durant dan teman-temannya bermain serius?

Jika Anda masih ngotot bahwa Indonesia tidak kalah dengan Amerika, lihatlah angka-angka di bawah ini.

Jumlah unicorn di negara-negara

Angka untuk Tiongkok (China) ada kesalahan sedikit. Tapi kita membandingkan Indonesia dengan Amerika. Lihatlah jumlah unicorn yang dihasilkan oleh Indonesia dan Amerika. Iya, saya tahu Amerika populasinya 333 juta, dan Indonesia populasinya 274 juta. Kalaupun Anda menormalisasikan jumlah unicorn dengan jumlah populasi, kita masih kalah JAUH.

Amerika Serikat punya beberapa perusahaan yang menembus valuasi $1 trilyun. Kita tidak punya.

Saya mau bilang tidak perlu malu kalah dengan Amerika Serikat, karena bukan cuma kita yang kalah. Hampir semua negara lain juga kalah dengan Amerika.

Masih ingat saya bilang bahwa VC Indonesia kurang suka mengambil resiko? Bukan cuma mereka, tapi VC Korsel juga.

https://www.thejakartapost.com/life/2018/12/18/no-uber-or-airbnb-in-skorea-red-tape-risk-aversion-hobble-start-ups.html

VC Kanada pun dikeluhkan oleh orang-orang.

https://danco.substack.com/p/why-the-canadian-tech-scene-doesnt

VC Eropa juga.

https://news.ycombinator.com/item?id=28286737

Itulah kenapa saya tidak menyalahkan VC Indonesia. VC Silicon Valley itu seperti timnas basket Amerika. Siapa yang bisa mengalahkan mereka? Tidak Eropa, tidak Kanada.

Ehm, itu tidak sepenuhnya benar. Tiongkok lumayan mendekati Amerika. Ada kemungkinan kecil India juga bisa menyusul di masa depan.

https://companiesmarketcap.com/tech/largest-tech-companies-by-market-cap/

Di atas adalah daftar 10 perusahaan teknologi terbesar di dunia. Adakah negara dari Eropa atau Kanada? Tiongkok pun cuma bisa mengambil dua tempat.

Jadi janganlah Anda bersedih jika dunia perintis Indonesia kalah dengan Silicon Valley. Eropa dan Kanada pun kalah.

Yang punya peluang cukup besar untuk “menyamai” Amerika adalah Tiongkok. Dan mungkin India 15 tahun lagi.

Silicon Valley Indonesia yang realistis

Sepanjang Anda tidak mengartikan Silicon Valley Indonesia itu sebagai Silicon Valley di California, sepanjang Anda mengartikan Silicon Valley itu sebagai upaya untuk membangkitkan industri peranti lunak (mari kita lupakan peranti keras setidaknya untuk 10 tahun) di Indonesia, maka peluangnya cukup besar. Pembicaraannya menjadi realistis.

Kita sudah punya Silicon Valley Indonesia, yaitu Jakarta. Sebagian besar perintis-perintis Indonesia bercokol di sini. Nih buktinya.

Jakarta

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Bandung

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Yogyakarta

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Surabaya

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Bali

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Tangerang

https://www.crunchbase.com/search/organization.companies

Saya sudah cek kota-kota lain seperti Malang, Medan, Semarang. Jumlah perintis-perintisnya sangat sedikit.

Jadi Jakarta adalah kota yang paling banyak memiliki perintis. Jakarta adalah Silicon Valley Indonesia. Penelitian sudah membuktikannya.

Tapi kita tidak puas jika Jakarta yang mendapat kehormatan Silicon Valley Indonesia. Ada alasan bagus juga. Karena jangan semua menumpuk di Jakarta.

Mari kita lihat unicorn-unicorn yang dihasilkan di kota-kota lain.

http://blog.eladgil.com/2021/06/unicorn-market-cap-june-2020-almost.html

Jika Anda perhatikan, India punya Mumbai, Bengaluru, dan New Delhi yang menghasilkan unicorn. Jerman punya Berlin dan Munich. Tiongkok punya Beijing, Shanghai, Hangzhou, Senzhen. Amerika punya banyak kota.

Kita cuma punya Jakarta.

Nah, kota manakah yang paling besar kemungkinannya memunculkan unicorn selain Jakarta di Indonesia?

Tangerang. Karena paling dekat dengan Jakarta. Ingat yah konsentrasi pekerja digital, pendiri perintis, dan VC masih terkonsentrasi di Jakarta.

Saya mendapat informasi dari burung-burung kecil saya, sebagian perintis di bawah portfolio VC tertentu mendapat mandat untuk memindahkan markas mereka ke Tangerang. Saya tidak persis tahu apa alasannya. Mungkin tempat di Jakarta terlalu sesak. Properti di Tangerang masih murah. Atau mungkin feng shui di Tangerang lebih bagus. Entahlah.

Tapi memilih Tangerang sebagai Silicon Valley Indonesia itu curang karena dekat dengan Jakarta. Ada istilah Jabodetabek tahu?

Mari kita pilih kota atau daerah di luar Jabodetabek. Jawabannya ada dua, yaitu Bandung dan Yogyakarta. Mereka bersaing ketat.

Surabaya masih ada harapan. Tapi masih ada perbedaan yang jauh antara Surabaya dengan kota-kota seperti Bandung dan Yogyakarta.

Bali ada harapan sedikit. Bali punya potensi sebenarnya. Ia adalah tempat favorit pekerja nomad. Tapi entah kenapa Bali susah menarik software engineer atau pekerja digital umumnya di Indonesia.

Mari kita kembali ke Bandung dan Yogyakarta.

Bandung karena ia memiliki universitas yang paling sukses di dunia perintis Indonesia. Bandung juga memiliki banyak perintis yang bermarkas di sana. Ingat Silicon Valley (yang di Amerika sana) adalah Silicon Valley karena ada universitas Stanford.

Yogyakarta karena ia yang tampaknya memiliki jumlah pekerja digital paling banyak di luar Jakarta. Budaya software engineering di Yogyakarta adalah yang paling kuat di Indonesia (selain Jakarta). Saya tidak punya data kuat. Nanti kapan-kapan saya investigasi lebih dalam. Sementara datanya dari PredictSalary. Jumlah baris untuk kota Yogyakarta adalah yang paling banyak (di luar Jakarta).

Ada lelucon kejam tentang Yogyakarta, yaitu UMR Yogyakarta. Jadi ada stereotipe tentang Yogyakarta di mana Anda dapat mencari pekerja dengan gaji yang rendah. Saya sering berbincang-bincang dengan pebisnis di Jakarta yang mengeluhkan harga jasa pemrogram di Jakarta terlalu mahal. Solusinya? Cari engineer di Yogyakarta. Saya hampir tidak pernah dengar kota lain. Mungkin 95% pembicaraan ini selalu berakhir dengan, “Mari kita outsource ke Yogyakarta.” Mereka tidak bilang outsource ke Semarang, Solo, Surabaya atau Medan. Selalu Yogyakarta. Yah, ada satu kali paling Bandung disebut.

Nah, Yogyakarta yang selama ini berada di bayang-bayang Jakarta sudah mulai bangkit dan menemukan jati dirinya ketimbang cuma sebagai tempat outsource dari Jakarta atau cabang perusahaan Jakarta.

https://www.gamatechno.com/company-profile/

Gambar di atas adalah footer situs perusahaan Gamatechno yang mengembangkan ERP. Markasnya di Yogyakarta. Cabangnya di Jakarta. Biasanya kan sebaliknya.

https://www.kickstarter.com/projects/coralisland/coral-island-reimagining-the-farm-sim-game/description

Yang mau saya bilang adalah industri software Yogyakarta mulai bangkit. Mereka bukan lagi cuma tempat outsource software engineering perusahaan-perusahaan Jakarta. Mereka bisa bikin perusahaan sendiri dengan karakter sendiri, terlepas dari bayang-bayang Jakarta.

Nah, tapi Bandung juga punya perintis tersendiri. Betul. Bandung punya Bobobox misalnya.

https://bobobox.co.id/en/contact

Saya tidak punya data keras. Saya cuma punya data pentilan dari PredictSalary. Saya cuma bisa bilang berdasarkan intuisi saya, Yogyakarta memiliki lebih banyak perintis dan pekerja digital daripada Bandung. Orang Yogya lebih “cinta” kota mereka. Orang Bandung biasanya pindah ke Jakarta untuk membangun perintis. Orang Yogyakarta lebih keras kepala dan tetap tinggal di Yogyakarta. Ini kesan yang saya dapatkan. Tidak ada data keras. Tapi di masa depan, saya akan mengukurnya, oke? Jadi kita tahu mana yang lebih unggul, Bandung atau Yogyakarta.

Analoginya, Jakarta itu di puncak klasemen dengan 40 poin. Bandung itu punya 30 poin. Yogyakarta itu punya 29 poin. Beda tipislah.

Remote

Tapi apakah konsep tempat fisik sebagai Silicon Valley Indonesia itu masih masuk akal? Sekarang kan jaman remote. Kenapa semua orang harus berkumpul di satu tempat untuk membangun perintis? Haruskah semua orang berkumpul di satu gedung untuk membuat aplikasi SaaS?

Tidak kan? Jadi kenapa kita ngotot mau membangun Silicon Valley Indonesia entah di Bandung, Yogyakarta, Medan atau apalah.

Kan kita bisa bikin perintis dengan konsep remote, seperti GitLab, atau Automattic. Bahkan Coinbase pun memutuskan untuk menjadi remote.

Pastikan koneksi internet kencang, stabil dan terjangkau tersedia bagi masyarakat umum. Saya sering melihat orang masih mengumpat tentang salah satu ISP di Indonesia (tidak boleh sebut nama) di Twitter.

Perkenalkan budaya remote ke masyarakat luas. Masih banyak orang yang keras kepala dan memaksa karyawan digital untuk bekerja di kantor.

Jika Anda menerima remote di hati Anda, maka Silicon Valley Indonesia adalah Indonesia. Ia bukan Jakarta, ia bukan Bandung, ia bukan Yogyakarta, tapi ia adalah Indonesia.

Siapa bilang kita harus membatasi diri dengan batas Indonesia? Tahukah Anda bahwa Anda bisa meminta pendanaan dari VC Amerika? Banyak perintis Eropa yang didanai VC Silicon Valley. Terus Anda juga dapat mempekerjakan pekerja digital dari seluruh dunia.

Batas-batas negara sudah mulai lemah di dunia yang serba cloud dan crypto ini.

Jika Anda menerima remote di hati Anda, maka Silicon Valley ada di awan (cloud). Ia bukanlah tempat fisik. Ia tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa dipijak oleh kaki. Tapi ia nyata.

Bukit Algoritma

Pasti Anda protes jika saya tidak membahas Bukit Algoritma di artikel tentang Silicon Valley Indonesia. Jadi mau tidak mau saya mesti membahas Bukit Algoritma.

Adakah peluang berhasil dari Bukit Algoritma untuk menjadi Silicon Valley? Tentu saja kita mesti memperjelas Silicon Valley yang mana dulu.

https://money.kompas.com/read/2021/04/11/232100526/mengenal-bukit-algoritma-sukabumi-tiruan-silicon-valley-ala-indonesia?page=2

Kalau tujuannya mau bikin Silicon Valley Amerika, yah jelas sangat kecil kemungkinannya. Tapi jangan merasa buruk, karena hampir semua negara (kecuali Tiongkok, dan mungkin India di masa depan) gagal membangun Silicon Valley Amerika.

Mari kita membuat tujuan yang lebih realistis. Dapatkah Bukit Algoritma bersaing dengan Jakarta, Bandung atau Yogyakarta?

Melihat 14 juta kemungkinan

Jadi saya sudah melakukan perjalanan waktu (time travel) ke masa depan berkali-kali. Hanya ada dua jalan di mana Bukit Algoritma menjadi sukses.

Pertama, Bukit Algoritma mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Dukungan penuh. 100%. Artinya pemerintah membatalkan rencana membangun ibukota baru di Kalimantan dan menggunakan duitnya untuk membangun Bukit Algoritma. Ingat yah, Silicon Valley Amerika itu ada campur tangan pemerintahnya (pendanaan dari pemerintah ke universitas dan militer Amerika bekerja sama dengan universitas dalam membangun alat perang).

Kedua, Bukit Algoritma memilih niche-nya. Jangan hajar semuanya.

https://teknologi.bisnis.com/read/20210427/266/1387233/bukit-algoritma-punya-potensi-gagal-dan-perlebar-kesenjangan-digital
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5551805/asal-usul-tercetus-silicon-valley-bukit-algoritma
https://www.kompas.tv/article/166497/apa-itu-bukit-algoritma-yang-disebut-sebagai-silicon-valley-nya-ri-di-sukabumi

Saat ini, Bukit Algoritma mau mengerjakan semuanya, yaitu teknologi nano, pertanian 4.0, drone, robotik, energi terbaharukan, kecerdasan buatan. Anggaran awalnya cuma Rp 18 trilyun. Itu tidak cukup.

Mending Bukit Algoritma fokus ke satu teknologi saja. Kalau bisa teknologi yang berkaitan dengan atom, bukan bit. Atom maksudnya peranti keras, bit maksudnya peranti lunak.

Jadi contohnya Bukit Algoritma didesain menjadi pusat pengembangan drone. Jadi hanya perintis yang berhubungan dengan drone yang diundang ke sini.

Atau Bukit Algoritma fokus ke pertanian 4.0. Jadi Bukit Algoritma mengundang perintis-perintis yang mengembangkan self-driving tractor, drone yang bisa menyemai pupuk, IoT yang memantau tanaman.

Jika Bukit Algoritma fokus ke perintis peranti keras, maka masih masuk akal jika pendiri perintis mau pergi ke sana. Tapi kalau pendiri perintis e-commerce atau SaaS diundang ke Bukit Algoritma, mereka pasti pikir-pikir. Kenapa aku mau pindah ke sana?

Salah satu faktor kenapa Bandung dan Yogyakarta menarik untuk menjadi kota markas perintis adalah mereka banyak hiburan. Di Yogyakarta, ada banyak cafe yang dipenuhi anak-anak muda. Terus ada juga restoran yang unik-unik. Di Yogyakarta, saya pernah menonton konser Raisa. Belum lagi faktor budaya Yogyakarta yang sangat unik dan susah ditiru.

Bagaimana Anda mengharapkan Sukabumi bersaing dengan kota besar seperti Bandung dan Yogyakarta (apalagi Jakarta)?

Jadi cara kedua untuk sukses adalah Bukit Algoritma didesain menjadi pusat perintis peranti keras (hardware) khusus.

Salah satu misi Bukit Algoritma adalah supaya generasi cemerlang Indonesia di luar negeri punya tempat untuk berkarya jika balik ke Indonesia. Tapi di jaman remote, orang Indonesia bisa kontribusi ke Indonesia sambil tetap tinggal di luar negeri. Misalnya karyawan perusahaan yang bermarkas di Indonesia bisa bekerja di Kosta Rika. Atau mereka tinggal di Kosta Rika, bekerja di GitLab dan kirim duit ke keluarga di Indonesia. Itu kan termasuk kontribusi?

https://www.lonelyplanet.com/articles/costa-rica-digital-nomad

Tapi untuk masalah hardware, remote masih belum bisa diterapkan. Jadi masih masuk akal jika Bukit Algoritma mengambil niche itu.

Kesimpulan

Silicon Valley di Amerika itu hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya. SDM dan VC-nya levelnya beda. They’re on the league of their own. Tapi kita bisa membuat tujuan yang lebih realistis. Kembangkan industri software engineering dengan Silicon Valley sebagai pedoman. Kota-kota yang berpotensial menjadi pusat industri software engineering adalah Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tapi dengan konsep remote, pusat fisik itu mungkin jadi tidak relevan lagi.

Categories
pendidikan perintis

Universitas Terbaik untuk Startup di Indonesia

Jadi 2 tahun lalu, saya membuat posting paling viral di Linkedin. Posting itu mendapat 1600 reaksi, 162 ribu jumlah terlihat, dan 177 komentar. Setelah itu sampai sekarang, saya tidak dapat membuat posting yang mengalahkan posting tersebut.

Berikut posting terviral sepanjang sejarah saya menjadi Linkedinfluencer:

https://www.linkedin.com/posts/arjunaskykok_kuliah-kerjadiunicorn-activity-6528128788478459905-wfSU/

Posting itu saking viralnya sampai membuat aku dihubungi oleh seorang jurnalis dari Kompas. Dan posting aku pun masuk Kompas (daring yah, bukan cetak).

https://edukasi.kompas.com/read/2019/05/14/20334881/5-universitas-paling-banyak-diterima-4-unicorn-besar-indonesia
https://edukasi.kompas.com/read/2019/05/14/20334881/5-universitas-paling-banyak-diterima-4-unicorn-besar-indonesia

Nah, aku menulis posting itu cuma buat ekspresi diri. Iseng-iseng saja. Buat lucu-lucuan saja. Tapi konten posting itu ternyata bagi banyak orang dianggap nyolot dan menyinggung perasaan orang. Setelah dipikir-pikir, iya sih. Bahasa Inggrisnya obnoxious. Cara menulis aku membakar emosi orang karena konten ini berhubungan dengan kelas (status sosial). Kelas lulusan universitas ternama vs kelas “di luar itu”. Tapi cara aku menulis itu juga yang bikin konten itu viral. Menjadi influencer itu kadang harus nyebelin biar bisa viral. 😝

Kalau Anda pergi ke posting Linkedin itu, Anda bisa lihat banyak komentar yang bernada seperti ini, “Aku bukan dari universitas-universitas tersebut. Tapi aku juga sukses,” dan “Aku bukan lulusan universitas. Tapi aku lebih sukses daripada lulusan universitas.

Kita akan membahas tentang peran sebuah universitas terhadap kesuksesan orang. Gulung ke bagian bawah kalau kalian tidak sabar.

Tapi sementara ini mari kita lihat statistik terkini. Apakah sudah berubah. Statistik ini diambil dari Linkedin. Cari perusahaannya. Terus klik tab People. Lihat bagian “Where they studied“. Perhatikan universitas mana yang mengambil posisi tiga teratas.

Tokopedia

Bukalapak

Traveloka

Gojek

Blibli

OVO

Tiket.com

Apa yang Anda bisa simpulkan? Jika Anda bicara karyawan unicorn, maka lulusan universitas yang paling banyak diterima adalah:

  1. Universitas Indonesia
  2. Institut Teknologi Bandung
  3. Universitas Bina Nusantara

Nah, di posting viral Linkedin saya, ada komentar seperti ini, “Apa gunanya kesuksesan universitas yang memproduksi banyak karyawan yang diterima di unicorn? Mending jadi pengusaha.” Jadi yang berkomentar ini adalah lulusan universitas di luar tiga universitas tersebut. Dan dia adalah pengusaha.

Tapi saya sudah menganalisa pendiri perintis itu kebanyakannya dari universitas mana. Tiga universitas itu tetap mendominasi. Betul, posisi mereka tidak selalu posisi tiga teratas karena ada yang namanya *batuk* lulusan Amerika *batuk*. 😘

Terus saya juga sudah menganalisa eksekutif (C-level dan VP-level) di perusahaan teknologi besar itu kebanyakan dari universitas mana. Tiga universitas itu juga tetap mendominasi.

Berikut kesimpulan saya. Kalau ini adalah Olimpiade universitas terbaik untuk dunia startup di Indonesia, maka pemenang medali emas, medali perak, medali perunggu-nya adalah:

  1. ITB
  2. UI
  3. Binus

Mungkin ada yang keberatan dengan pemenang medali emas, yaitu ITB. Harusnya UI yang juara. Tapi saya mempertimbangkan juga faktor lulusan ITB yang lebih sedikit daripada lulusan UI. Selain itu, sudah ada pendiri unicorn yang berasal dari ITB (pendiri Bukalapak). Tapi belum ada alumni UI yang berhasil menjadi pendiri unicorn.

Tapi kalau Anda mau pasang UI sebagai juara 1, yah silakan. Tidak perlulah kita bergelut 🀼 soal ini. 😝

Nah, mari kita bahas apakah kuliah perlu menjadi syarat untuk sukses (tidak harus di dunia perintis, tapi di hidup pada umumnya). Hal ini untuk menanggapi komentar-komentar di posting Linkedin saya yang sudah saya sebutkan.

Perlukah Kuliah di Universitas Ternama?

Untuk sukses, perlukah kita kuliah di universitas ternama seperti Stanford, MIT, Carnegie Mellon, Oxford, ITB, UI?

Ada yang mengambil contoh bahwa ada orang yang sukses tapi tidak kuliah di universitas ternama. Betul, ada. Dari analisa di atas, kalian juga bisa lihat ada orang yang berasal dari universitas yang kurang terkenal, tapi bisa jadi pendiri perintis, bisa jadi eksekutif di unicorn, bisa jadi karyawan di unicorn.

Tapi kalau kita bicara statistik, nah, ceritanya berbeda. Kalau Anda kuliah di tiga universitas tersebut, maka peluang Anda untuk sukses di dunia perintis menjadi lebih besar. Tapi kalau Anda bukan lulusan universitas ternama, tidak berarti Anda tidak bisa sukses.

https://www.dealstreetasia.com/stories/indonesia-itb-195458/

Kenapa ITB, UI, dan Binus bisa secara konsisten menghasilkan lulusan yang sukses (entah sebagai karyawan, eksekutif, pendiri, pengusaha) di dunia teknologi, secara pasti saya tidak tahu. Tapi mungkin dosen-dosennya bagus dalam mengajar.

Masih ingat Onno W. Purbo pernah bilang salah satu alasan kenapa Indonesia tidak punya banyak orang yang jago di IT adalah karena kebanyakan dosen mengajarnya tidak bagus. His words, not mine.

Ngga banyak dosen yang bisa ngajar bagus dan bener gitu. Banyak dosen yang ngajar ecek-ecek.”

Onno W. Purbo

Jadi jika Anda kuliah di universitas yang dosennya mengajar ecek-ecek, maka peluang Anda untuk sukses menjadi lebih redup. Tapi Anda masih bisa tetap sukses. Anda bisa belajar sendiri kan? Anda bisa belajar dari buku, Youtube, dan lain-lain.

Tapi berapa banyak orang yang memiliki dorongan tinggi seperti itu? Hitunglah statistiknya. Jumlahnya rendah.

Selain itu, ada faktor networking yang cuma ada di universitas ternama. Networking di sini maksudnya orang yang bisa memberi Anda rekomendasi ke perusahaan atau investor.

Misalnya, Anda kuliah di ITB. Terus Anda bikin aplikasi web yang keren. Terus dosen melihat potensi Anda. Dia menghubungkan Anda dengan investor. Boom. Jadilah perintis. Atau mungkin dia mendorong Anda untuk ikut lomba hackathon. Nama Anda jadi populer. Setelah lulus, Anda diperebutkan unicorn.

Tapi bandingkan ketika Anda kuliah di universitas XYZ. Anda bikin compiler yang bisa mengkompilasi bahasa daerah menjadi bahasa Python. Tapi tidak ada yang menghubungkan Anda dengan investor. Jadilah potensi Anda terlewatkan.

Yeah, life is not fair, buddy.

Perlukah Kuliah?

Sekarang mari kita ubah pertanyaannya. Perlukah kita kuliah untuk sukses? Apakah lulusan SMU/SMK bisa sukses juga?

Mari kita ambil contoh Susi Pudjiastuti. Beliau menjadi menteri di periode 2014-2019 tapi beliau tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Beliau cuma lulusan SMP. Tapi beliau termasuk sukses kan? Sebelum menjadi menteri, beliau menjadi pengusaha perikanan yang sukses sampai mampu membeli pesawat.

Bayangkan saya bilang, “Wah lulusan SMP saja bisa sukses. Mari kita memberi nasihat kepada anak-anak muda untuk tidak perlu sekolah sampai SMA. Cukup sekolah sampai SMP saja.” Apa pendapat Anda?

Nggak gitu kan?

Anda harus lihat bahwa orang seperti kasus Bu Susi tidak bisa diekstrapolasi ke kalangan umum. Tahu tidak kenapa dia tidak lulus SMA? Karena dia ikut demo mendukung golput di pemerintahan Soeharto. Hal itu menunjukkan dia berani mengambil resiko. Ini salah atribut penting seorang pengusaha. Selain itu dia juga berasal dari keluarga pedagang sapi. Jadi setidaknya dia memiliki safety net. Faktor penting lainnya adalah dia ulet bekerja.

Kebanyakan orang memiliki pemahaman yang salah terhadap realita karena kurang mengerti statistik. Betul ada kasus seperti Bu Susi, tapi itu adalah outlier. Secara statistik, ada perbedaan penghasilan antara lulusan universitas dan lulusan SMU. Lulusan universitas mendapatkan penghasilan lebih besar daripada lulusan SMU.

https://money.kompas.com/read/2020/02/25/112300526/gaji-rata-rata-pekerja-ri-berdasarkan-jenjang-pendidikan-sd-sampai-s1?page=all

https://learn.org/articles/what_is_the_average_salary_for_high_school_graduates_vs_college_graduates.html

Yes!!!

Ada orang di timeline Linkedin saya yang kadang-kadang posting bahwa dia sering diremehkan karena bukan lulusan universitas (tidak kuliah). Ada nada kepahitan di posting-postingnya. Terus dia bercerita bahwa dia berhasil menjadi sukses, lebih sukses daripada lulusan-lulusan universitas.

Saya bisa berempati terhadap dia. Saya lulusan Binus, tapi saya juga kadang-kadang diremehkan karena bukan lulusan Amerika di lingkungan startup di Jakarta. Jadi kira-kira saya bisa merasakan emosi dia.

Tapi statistik adalah statistik. Kasus outlier tidak boleh diekstrapolasi ke masyarakat umum.

Kembali ke kasus Bu Susi, coba Anda cek latar belakang pendidikan menteri-menteri kita. Kebanyakan lulusan apa?

Jumlah lulusan sarjana di Indonesia itu masih rendah. Makanya orang-orang Indonesia perlu didorong untuk kuliah. Tentu saja, saya mengerti, tidak semua orang mampu kuliah. Makanya ada beasiswa, pinjaman dana pendidikan, Income Sharing Agreement.

Nah, bagi orang yang tidak mengenyam pendidikan di universitas, barulah kita menyemangati mereka dengan kisah Bu Susi. Tidak kuliah, no problem. Anda masih bisa sukses.

Idealnya, nasihat terhadap anak muda itu seperti ini, “Kalau bisa kuliahlah. Kalau bisa, kuliah di universitas ternama. Tapi kalau cuma lulusan SMA/SMK, jangan berkecil hati. Masih bisa sukses kok dalam hidup.” (Terms and Conditions Apply)

Tapi Mungkin Kuliah itu Tidak Perlu

Jadi ada orang yang skeptis terhadap pendidikan tingkat lanjut. Contohnya Peter Thiel (pendiri PayPal). Dia memberi $100.000 (Rp 1,4 milyar) bagi anak muda untuk putus kuliah supaya bisa jadi pengusaha.

https://www.newsweek.com/2017/03/03/peter-thiel-fellowship-college-higher-education-559261.html

Berikut situs Thiel Fellowship:

https://thielfellowship.org/

Kalau Anda lebih muda daripada 22 tahun, Anda bisa memohon duit $100.000 ini untuk mendirikan perusahaan. Tapi Anda harus keluar (drop out) dari kuliah.

Nah, salah satu lulusan Thiel Fellowship adalah Vitalik Buterin (pencipta Ethereum)!

https://www.coindesk.com/peter-thiel-fellowship-ethereum-vitalik-buterin

Pendiri Figma juga lulusan Thiel Fellowship.

https://techcrunch.com/2013/06/26/21-years-4-million-dollars/

Tapi kita harus hati-hati terhadap kasus seperti ini. Mereka ini adalah orang yang bakal sukses entah kuliah atau tidak. Makanya kasus seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang drop out itu tidak bisa diekstrapolasi ke kalangan umum. Sebelum kalian putus kuliah, apakah kalian serajin dan sepintar mereka? Keluarga mereka juga lumayan berada.

Tapi Kuliah Mungkin Bukan Pilihan Terbaik

Kalau kalian membaca berita-berita tentang pendidikan, banyak kegelisahan di dunia pendidikan sejak pandemi menghantam bumi ini. Kenapa orang kuliah? Selain mendapat gelar sarjana, itu adalah kesempatan untuk menjadi orang dewasa tanpa tinggal bersama orang tua (kebebasan). Biasanya orang kuliah itu harus merantau. Jadi tidak tinggal serumah dengan orang tuah lagi. Yeah!!!! Kuliah juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang lain (networking).

Nah, kalau kuliahnya online, what’s the point?

Sekalian saja, tidak perlu kuliah. Belajar sendiri dari Khan Academy dan Youtube. Banyak materi pembelajaran gratis terutama di bidang ilmu komputer. Anda bisa belajar Ilmu Komputer (Computer Science) dengan mandiri.

Betul, kalau Anda ingin jadi dokter atau pengacara, apa boleh buat. Tapi kalau Anda ingin jadi software engineer dan bekerja di Gojek, Anda tidak perlu kuliah kan? Kurikulum tersedia di internet. Yang perlu Anda butuhkan adalah disiplin, komputer, dan tempat yang tenang untuk belajar.

Ada banyak startup yang bergerak di bidang pendidikan. Anda bisa membayar lebih murah untuk belajar ilmu ketimbang Anda kuliah.

Lalu Anda bilang, kuliah itu perlu karena Anda butuh kredensial. HRD tidak akan meloloskan Anda untuk bekerja di perusahaan kalau Anda tidak punya surat kelulusan kuliah.

Betulkah demikian? Tidak salah 100%, tapi tidak benar 100% juga. Ada kok lulusan SMK yang kerja di Bukalapak. Saya sudah membaca dokumen IPO Bukalapak.

Tapi kalau Anda memperhatikan latar belakang pendidikan eksekutif di Bukalapak, rata-rata mereka lulusan S2 dan S1. So there’s that.

Nah, kabar baik bagi Anda yang tidak suka kuliah, di “sebagian tempat”, orang-orang sudah tidak memperhatikan surat kelulusan kuliah Anda.

https://twitter.com/balajis/status/1387620880893681670

Sebagai software engineer, Anda bisa bikin portfolio di GitHub/GitLab. Sebagai desainer, Anda bisa bikin portfolio di Behance.

Nah, kalau Anda menjadi software engineer di bagian back-end engineering, kredensial mungkin tidak terlalu penting, tapi kalau Anda bergerak di bidang Deep Learning / Data Science / Machine Learning, kredensial masih dianggap penting. Kalau crypto, tidak terlalu penting.

Networking? Anda juga bisa melakukan networking dengan orang-orang penting di internet, misalnya lewat Twitter, Discord, GitHub, Linkedin.

Kesimpulan

Kuliah penting atau tidak penting? Anda mungkin jadi tambah bingung setelah membaca artikel blog ini. Di satu pihak, saya bilang kuliah itu penting. Di tempat lain, saya bilang, kuliah itu tidak penting.

There are nuances in this problem.

Kalau saya jadi figur publik, misalnya Presiden atau Menteri Pendidikan, maka saya akan bilang, kuliah itu penting. Karena saya berbicara dengan masyarakat umum.

Tapi seandainya ada mahasiswi yang memiliki karakter seperti Bu Susi, dan dia bilang dia bosan kuliah. Dia pengen bikin startup dan putus kuliah saja. Kemungkinannya saya akan mendukungnya.

Kita juga tidak bisa tergantung terhadap universitas untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Makanya saya menulis visi saya, yaitu Pendidikan Terdesentralisasi. Orang bisa belajar dari bootcamp atau Youtuber.

Categories
bisnis remote startup

Outsource dan Ambil Dua Pekerjaan Remote Sekaligus

Jadi aku mendapat surat dari fans (awwww wadidawww 😍). Suratnya dalam bahasa Indonesia. Tapi untuk melindungi privasi fans saya, saya ubah kalimatnya dan terjemahkan ke bahasa Inggris:

Dear Pak Arjuna,

I’m one of your fans. Right now I’m X years old and work as a software engineer in a startup in Y sector. I have Z years experience.

I have a question about a crazy idea which is quite risky. I want to ask your opinion about this.

I’m planning to do double, triple, even 10+ jobs on remote working in many companies, and outsource to other people to do the jobs. I think that is a superior way to generate income if you can execute it well.

What do you think, Pak Arjuna? Is it possible? I have done my research and there are some people who have done it. But there is a possibility of failure as well.

I know you’re busy. Thanks for reading this email. I hope I can get your reply.

Best Regards,
XXX

Surat fans

Nah, saya jawab di sini saja karena saya memang punya rencana untuk menulis tentang topik ini.

Remote ini adalah topik πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯. Kalau Anda mengikuti berita-berita tentang teknologi, maka Anda melihat pola di mana perusahaan pada umumnya mau karyawan-karyawannya balik kantor, sementara karyawan pada umumnya tetap mau bekerja di rumah. Ada pengecualian, di mana karyawan mau balik ke kantor atas keinginan sendiri, dan perusahaan lebih suka karyawan-karyawan bekerja di rumah. Tapi pada umumnya perusahaan (atau manajemen) suka WFO, karyawan suka WFH.

Oke, kembali ke surat fans tersebut, apa yang harus saya jawab?

Apakah saya harus menjawab dengan idealisme? Saya bisa mengutip kalimat dari sebuah film dan mengubahnya sedikit, “It profit a man nothing to give his soul for the whole world…. but for outsourcing jobs!

Terus saya bisa bilang bahwa biasanya kontrak perjanjian kerja itu ada klausul di mana Anda tidak boleh meng-outsource pekerjaan Anda ke orang lain. Anda harus melakukan pekerjaan tersebut dengan darah dan keringat Anda sendiri.

Saya bisa mengkuliahi bahwa kejujuran adalah nilai-nilai yang dicari oleh perusahaan dari karyawan.

Tapi ketika menulis kalimat-kalimat di atas, saya bisa mendengar nada sinis dan sarkastik dari kalian, “Bro, cry me a river. You think companies are innocent? Do you really think they are the beacon of integrity and innovation? Lol.

Betul sih, Anda dan saya sudah mendengar kisah ketika pandemi sedang puncak-puncaknya, perusahaan tetap memaksa karyawan untuk bekerja di kantor (WFO), padahal pekerjaan itu jelas-jelas bisa dikerjakan dari rumah. Perusahaan itu membahayakan kesehatan (dan mungkin nyawa) karyawan-karyawannya. Sementara rencana fans saya ini melanggar kontrak tapi tidak membahayakan kesehatan orang lain.

Di luar masalah pandemi ini, perusahaan juga tidak polos-polos amat. Sebuah perusahaan di fintech misalnya melakukan trik untuk mengakali auditor di tempat mereka. Ada cerita bahwa dari belakang (back-end), mereka mengintervensi proses logging untuk memuaskan hati auditor.

But two wrongs don’t make one right.

Betul. Mari kita lanjut pembahasan kita.

Adakah Orang yang Melakukannya?

Fans saya bilang dia sudah melakukan riset dan melihat bahwa ada sebagian orang yang berhasil melakukannya. Dia benar.

Mari kita lihat anekdot. Teman saya bercerita bahwa teman dia (teman temannya saya) memecat karyawan yang terbukti mengambil dua pekerjaan remote. Ketahuannya gara-gara dia salah kirim pesan ke manajer. Jadi pesan untuk manajer di perusahaan B dia kirim ke manajer di perusahaan A. Dia bekerja untuk perusahaan A dan perusahaan B. Kebetulan manajer di perusahaan A dan manajer di perusahaan B ini berteman. Jadi manajer yang terima pesan salah alamat ini curiga dan mengontak temannya. Ketahuanlah bahwa karyawan ini mengambil dua pekerjaan. Akhirnya dia dipecat.

Anekdot lain. Kenalan saya menerima pekerjaan dari sebuah perusahaan. Tapi dia tidak melepas pekerjaan lamanya. Tapi setelah beberapa bulan, dia melepas salah satunya. Tidak ketahuan sama sekali oleh dua perusahaan tersebut. Jadi ada beberapa bulan dia menerima gaji dari dua perusahaan.

Mari kita lihat kasus di luar anekdot.

https://edition.cnn.com/2013/01/17/business/us-outsource-job-china/index.html

There’s nothing new under the sun. Ada orang di Amerika Serikat yang meng-outsource pekerjaannya ke Tiongkok dan dengan waktu luangnya dia menonton video kucing. Tentu saja dia dipecat. Kalau dia tidak ketahuan, dia tidak akan masuk berita.

Fans saya itu bukanlah satu-satunya orang yang memikirkan rencana ini. Dari dulu sudah ada yang berkontemplasi untuk melakukan hal ini.

https://old.reddit.com/r/cscareerquestions/comments/45f490/has_anyone_ever_secretly_outsourced_their_own_job/

Kasusnya juga tidak sedikit.

https://www.wsj.com/articles/these-people-who-work-from-home-have-a-secret-they-have-two-jobs-11628866529
https://www.wsj.com/articles/these-people-who-work-from-home-have-a-secret-they-have-two-jobs-11628866529

Bahkan ada komunitasnya. 🀣

https://overemployed.com/
https://www.businessinsider.com.au/two-jobs-overemployed-website-discord-2021-8
https://www.buzzfeed.com/meganeliscomb/overemployed-working-two-remote-jobs

Ada dua kategori dari kasus ini. Outsource pekerjaan dan mengambil lebih dari satu pekerjaan. Bisa saja orang cuma melakukan salah satu kategori ini. Kebetulan fans saya ini berniat melakukan dua kategori ini. Mari kita bedah setiap kategori.

Outsource pekerjaan

Orang bisa outsource pekerjaannya ke orang lain. Tapi dia tidak mengambil dua pekerjaan. Dengan waktu luangnya dia bisa menonton video kucing, main Genshin Impacts, menulis pantun, bikin meme.

Kenapa perusahaan tidak suka orang meng-outsource pekerjaannya? Biasanya berhubungan dengan kerahasiaan data perusahaan. Kode (source code) perusahaan itu adalah sumber keunggulan perusahaan. Dengan meng-outsource pekerjaan Anda, orang luar bisa mengintip rahasia perusahaan. Misalnya, oh ternyata perusahaan Gojek atau Traveloka melakukan pengurutan rute dengan algoritma Merge Sort. Maka perusahaan kompetitor bisa mencontek keunggulan mereka.

Bisa juga karena faktor insentif. Perusahaan membayar Anda Rp 30 juta per bulan. Tapi Anda membayar Rp 10 juta ke pemrogram di tempat lain. Asumsi perusahaan dalam membayar Anda itu adalah Anda cukup termotivasi untuk melakukan pekerjaan tersebut. Orang dengan bayaran Rp 10 juta mungkin motivasinya lebih asal-asalan.

Selain itu perusahaan sudah melakukan wawancara teknis terhadap Anda. Tapi orang yang di-outsource itu belum teruji oleh perusahaan. Jadi ada faktor kontrol kualitas.

Pertanyaan muncul.

Bagaimana jika kita meng-outsource pekerjaan kita ke Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)? πŸ€”

Tentu saja kita bisa berandai-andai apa yang terjadi jika orang yang di-outsource oleh karyawan yang bekerja di perusahaan meng-outsource ke orang lain.

Ada lelucon. Perusahaan A mendapat kontrak membuat aplikasi web dari pemerintah daerah sebesar Rp 5 milyar. Terus perusahaan A lempar ke perusahaan B dengan harga Rp 3 milyar. Terus perusahaan B lempar ke perusahaan C dengan harga Rp 500 juta. Terus perusahaan C lempar ke freelancer dengan harga Rp 50 juta. Terus freelancer lempar ke temannya baru belajar pemrograman dengan harga Rp 10 juta. Terus temannya itu lempar ke tetangganya dengan harga Rp 3 juta. Terus tetangganya…. stack overflow.

Hal ini juga akan membuat banyak orang semakin yakin dengan pilihan hidupnya, yaitu mending menjadi manajer/politisi daripada pembuat/engineer.

Di Indonesia, terdapat pandangan bahwa keahlian berpolitik itu bakal mendapatkan nilai lebih besar daripada pembuat (maker) / engineer. Makanya banyak orang lebih suka menjadi politisi ketimbang insinyur.

https://www.merdeka.com/uang/menko-luhut-sebut-indonesia-krisis-insinyur-lebih-banyak-politikus.html

Tapi kan kita membahas manajer bukan politisi?

Apa definisi politisi? Orang yang menjalankan sistem pemerintahan. Apa definisi manajer? Orang yang mengatur pekerjaan.

Manajer = Politisi

Jadi akhirnya orang-orang Indonesia semakin kehilangan minat untuk menjadi engineer, yang mengakibatkan Indonesia semakin kekurangan engineer, yang mengakibatkan kita mengimpor engineer India.

Mengambil Dua (Atau Lebih) Pekerjaan

Kategori lain adalah orang itu mengambil dua pekerjaan remote sekaligus. Atau lebih. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan outsourcing karena orang yang mengambil dua pekerjaan itu tidak selalu meng-outsource ke orang lain. Dia bisa saja mengerjakan dua pekerjaan itu dengan keringat dan darahnya sendiri.

Bagaimana seandainya dia bisa mengerjakan pekerjaan di perusahaan A dengan efisien sehingga dia hanya butuh waktu 4 jam? Mungkin dia mengubah pola hidupnya, misalnya dia mulai minum suplemen Vitamin C, yang mengakibatkan otaknya bekerja 200% lebih kencang. Atau dia disambar petir sehingga dia mendapatkan kekuatan super di mana dia bisa bekerja jauh lebih efisien? Ini kembali ke pertanyaan filosofis. Apakah karyawan itu boleh melakukan hal lain di sisa 4 jam (asumsi kerja 8 jam sehari). Anggap saja dia tidak mengambil pekerjaan lain. Tapi dia main Genshin Impact. Atau dia bikin pantun. Apakah boleh?

Apakah perusahaan membayar karyawan itu berdasarkan lama bekerja atau nilai yang dihasilkan oleh karyawan tersebut?

Anda bertanya, mana mungkin orang bisa mengerjakan pekerjaan 8 jam dengan 4 jam? Anda bisa melakukannya dengan otomatisasi. Misalnya Anda disuruh mengisi data di berkas Excel. Anda bisa membuat script Python untuk melakukannya. Ada orang yang sudah melakukannya.

https://www.payscale.com/career-news/2016/05/programmer-fired-after-6-years-realizes-he-doesnt-know-how-to-code
https://www.payscale.com/career-news/2016/05/programmer-fired-after-6-years-realizes-he-doesnt-know-how-to-code

Jika saya bisa mengotomatisasi pekerjaan saya sehingga saya cuma butuh 2 atau 4 jam untuk melakukannya, apakah saya boleh bermain Genshin Impact atau bikin pantun atau bikin meme atau mengerjakan pekerjaan dari perusahaan lain dengan sisa waktu saya? Jika tidak, apakah hasil kerja saya bisa dianggap sebagai perpetuity? πŸ€”

Tapi memang ada perusahaan yang membayar Anda bukan atas nilai yang Anda berikan, tapi mereka membayar Anda atas loyalitas Anda. Jadi Anda harus tunjukkan loyalitas kepada perusahaan dengan berada di kantor 8-10 jam. Tidak masalah nilai yang Anda berikan itu tidak seberapa.

Pengusaha

Pembaca yang budiman mungkin berpikir, kenapa fans saya tidak dianjurkan untuk jadi pengusaha. Ketimbang melanggar kontrak kerja, dia sebaiknya jadi pengusaha software house atau software agency. Atau dia minta promosi jadi manajer ke perusahaan.

Ada beberapa alasan. Mungkin dia bukan anak orang kaya. Dia masih butuh gaji. Saya punya teman saya, anak orang kaya. Setelah kerja beberapa tahun, dia membuka usaha software house. Modalnya dari orang tua. Dia mendapat kliennya dengan bantuan oleh keluarganya.

Tapi kan tidak semua orang anak orang kaya.

Anda mungkin bilang, mau jadi pengusaha tidak boleh curang. Bukan anak orang kaya tidak berarti boleh melanggar aturan. Anda benar. Hidup memang tidak adil. Hanya karena Anda mendapatkan kondisi hidup yang tidak adil, tidak berarti Anda boleh melanggar aturan.

Tapi melihat kisah-kisah pengusaha yang sukses, salah satu faktor yang saya sering lihat adalah mereka melanggar aturan.

Banyak pengusaha yang mendapatkan banyak keuntungan dari penyelundupan (bawa barang dari luar negeri, tapi tidak bayar pajak). Ada teman saya yang punya kode etik seperti ini. Tidak apa berbisnis yang mengandung unsur penyelundupan karena Anda cuma merugikan pemerintah. Tapi haram berbisnis obat-obatan terlarang (drugs) karena bisa menghancurkan hidup orang lain.

Sebelum pandemi, banyak orang berbisnis jastip (jas titipan). Mereka jalan-jalan keluar negeri, misalnya ke Seoul atau Paris. Kemudian mereka membeli barang titipan dan membawanya ke Indonesia. Kemudian mereka mengirim barang tersebut ke klien mereka. Klien mereka membayar biaya premium tambahan. Apakah Anda pikir pebisnis jastip ini membayar pajak barang tersebut pada saat masuk ke Indonesia?

Ini adalah blog tentang dunia perintis (startup). Mari kita berbicara tentang perintis yang melanggar aturan. Salah satu perusahaan teknologi yang paling sukses adalah Gojek. Tahu tidak di hari-hari awalnya Gojek itu melanggar aturan. Motor dan kendaraan beroda dua bukan termasuk angkutan umum. Aturan ini tertuang di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tapi akhirnya aturan ini dilunakkan. Kita bisa berandai-andai apa yang terjadi jika Nadiem Makarim patuh terhadap aturan 100%? Mungkin ketika dia mulai membangun Gojek, dia berpikir, “Wah, motor tidak boleh jadi angkutan umum. Kita tidak boleh melanggar peraturan.” Akhirnya dia batal membangun Gojek.

Pernah dengar kredo startup, “Ask for forgiveness rather than permission.

Banyak perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley yang melanggar aturan kiri dan kanan untuk mengejar pertumbuhan (growth hacking at all cost). Nanti kapan-kapan saya cerita.

Anda bisa anggap fans saya ini memiliki naluri pengusaha. Dia melihat kesempatan dalam kesempitan.

Tapi di sisi lain fans saya ini bisa dianggap sebagai karyawan yang mensabotase perusahaannya sendiri. Saya jadi ingat video TikTok dari pemotivasi, “Bisa bangun gak? Bisa. Bisa jalan gak? Bisa. Bisa makan gak? Bisa. Bisa naik motor gak? Bisa. Berarti bisa ke kantor. Kebanyakan orang yang izin sakit, izin sakit, izin sakit, kebanyakan gak benar-benar sakit. Mereka hanya ingin menyabotase bisnis Anda.

Saya bisa bayangkan artikel saya menjadi materi TikTok. “Hati-hati terhadap karyawan remote. Mereka bakal outsource pekerjaannya. Mereka ingin mensabotase bisnis Anda.”

Oh ya, ngomong-ngomong tentang software house, bagi kalian yang berminat membangun software house, sebentar lagi saya akan menulis bab tentang itu.

https://arjunaskykok.com/buku-pemrogram-rp-100-juta/

Saat ini saya sedang menulis bab tentang NFT. Setelah itu saya akan menulis bab tentang software house. Bab ini didasarkan dari kisah nyata teman saya yang sukses membangun software house.

Efek Makro

Saya bisa bayangkan artikel saya ini adalah anugrah terindah kepada manajemen perusahaan yang tidak suka dengan kerja remote. Mereka ingin karyawan-karyawan balik ke kantor tapi karyawan-karyawan sudah keenakan kerja dari rumah. Kan produktivitas tidak turun. Kenapa harus balik ke kantor.

Benar juga sih. Mereka jadi bingung bagaimana membalas argumen karyawan pro-WFH. Sampai ada artikel saya.

Artikel saya lalu dijadikan sebagai referensi untuk memaksa karyawan-karyawan kembali ke kantor. Benar kan? Mereka tidak bisa dipercaya kerja dari rumah.

Saya bisa bayangkan townhall lewat Zoom di perusahaan A. CEOnya memberi wejangan, “Linkedinfluencer, Arjuna Sky Kok, menulis artikel yang bagus tentang mudharat kerja dari rumah. Maka dari itu, setelah vaksin, kalian harus kembali ke kantor. No debate.”

Atau karyawan masih boleh kerja dari rumah, tapi laptop mereka mesti dipasang aplikasi spyware yang mengirim gambar mereka dari webcam setiap beberapa menit, untuk memastikan mereka benar-benar bekerja.

Kesimpulan

Anda bisa pastikan bakal banyak drama tentang kerja remote. Ada hubungan antagonis antara karyawan dan perusahaan. Tidak semua, tentu saja. Tapi saya bisa merasakan ketegangan di antara mereka.

Tahun itu tahun 2036. Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2036.

https://www.reuters.com/lifestyle/sports/indonesia-launch-new-bid-host-2036-summer-olympics-2021-07-23/

Istri saya hamil tua. Bisnis saya (SwanLove, PredictSalary, blog ini, Pembangun) tidak menghasilkan cukup uang. Akhirnya saya mendengar kata istri saya untuk melepaskan impian saya menjadi pengusaha startup dan mencari pekerjaan sebagai software engineer. Saya melamar di perusahaan YYY di mana fans saya menjadi CEOnya. Perusahaan dia sesukses Crossover. Akhirnya saya diterima karena dia suka membaca blog saya.

Saat koding di hari pertama, saya mulai berpikir, “Bagaimana jika saya meng-outsource pekerjaan saya ke mahasiswa?” πŸ˜‚

The End. Tirai ditutup.