Categories
startup wealth

Startup Mainan Anak Orang Kaya?

Blog ini merupakan lanjutan dari artikel “Kenapa Susah Cari CTO?” yang terpicu oleh kicauan seorang pemodal ventura. Nah, ada satu balasan kicauan itu menyinggung stereotipe latar belakang pendiri perintis, yaitu berasal dari keluarga yang kaya. Dengan kata lain, anak orang kaya yang (kebanyakan) mendirikan perintis.

Sebagian dari Anda pasti bilang, tidak semua kicauan itu sudah pasti benar. Banyak berita bohong beredar di Twitter. Masakan tiap kicauan mesti dibahas dengan satu artikel blog. Betul. Tapi stereotipe ini bukan cuma beredar di Twitter. Ada orang yang bilang ke saya secara langsung ke muka saya sentimen yang serupa. Mari kita bahas topik ini. Tentu saja kita juga akan membahas kerangka pemikiran dan perilaku dalam menghadapi stereotipe ini (jika benar).

Sebelumnya, seperti biasa, saya mesti minta maaf karena judul artikel blog ini menggunakan kata “startup” yang sebenarnya ada padanannya di bahasa Indonesi, yaitu “perintis”. Apa boleh buat? Untuk memasarkan artikel blog ini di media sosial, saya terpaksa “nginggris” soalnya kata “startup” bisa memberikan dampak emosional yang lebih dalam ketimbang kata “perintis”. Maafkanlah saya, Ibu Pertiwi, karena saya terpaksa berkhianat bahasa dalam mengejar jumlah penglihatan (views) artikel ini. πŸ™

Oke, kembali ke topik. Baru-baru ini saya baca artikel kisah seorang pendiri perintis yang berhasil mendapatkan pendanaan satu trilyun Rupiah lebih baru-baru ini. Saya baca kisahnya dan saya buka Linkedin-nya. Sekolah di JIS (Jakarta Intercultural School, dulu namanya Jakarta International School), terus kuliah di Amerika Serikat. Balik ke tanah air, beberapa tahun buka restoran yang lumayan mewah (butuh modal beberapa milyar Rupiah). Kemudian barulah dia mendirikan perintis tersebut.

Tapi itu cuma satu contoh, kata Anda. Betul. Kemudian saya iseng-iseng buka Linkedin CEO sebuah perintis yang valuasinya di atas sepuluh trilyun Rupiah. Sekolahnya di mana? JIS. Kuliah di mana? Amerika Serikat.

Tapi itu baru dua contoh, kata Anda. Betul. Lagipula kuliah di Amerika Serikat belum tentu juga Anda anak orang kaya. Bisa saja Anda pintarnya selangit sehingga dapat beasiswa untuk kuliah di Amerika Serikat. Maka dari itu kita harus menggunakan probabilitas dalam menebak apakah pendiri perintis ini anak orang kaya atau bukan.

Mari kita ambil contoh pendiri yang kebetulan juga CEO 4 yunikon (unicorn) di masa awal. Nadiem Makarim, adalah anak seorang pengacara, lahir di Singapura, kuliah di Amerika Serikat. Saya tidak berani bilang Nadime 100% anak orang kaya. Tapi kemungkinan besar (ingat hukum probabilitas) dia adalah anak orang kaya. Lagipula, jika Nadiem benar anak orang kaya, hal itu tidak mengurangi prestasi cemerlang dia dalam mendirikan perusahaan Gojek. Saya dalam posisi dia belum tentu bakal sesukses dia. Dia berhasil jadi pendiri dan CEO Gojek, perusahaan decacorn. Dalam posisi dia, mungkin saya bakal jadi penulis blog yang sukses. Sama-sama orang sukses, tapi skalanya beda. πŸ™ƒ

Kemudian Ferry Unardi, kuliah di Amerika Serikat. Belum tentu anak orang kaya. Bisa saja dia dapat beasiswa.

Jika Anda bandingkan Nadiem dengan Ferry, probabilitas Nadiem anak orang kaya itu jauh lebih besar daripada probabilitas Ferry. Nadiem memiliki 4 faktor: anak seorang pengacara, kuliah di Amerika Serikat, bersekolah di SMA internasional di Singapura, kuliah di Ivy League. Ferry cuma punya 1 faktor saja: kuliah di Amerika Serikat.

Nah, kabar gembira bagi Anda yang bukan anak orang kaya tapi bercita-cita mendirikan perintis yunikon, dua pendiri yunikon sisanya (kemungkinan besar) bukan anak orang kaya.

Tambahan info (10 Agustus 2020): Teman saya bilang Ferry berasal dari keluarga menengah. Teman saya ini punya hubungan dengan orang-orang di Padang yang “tahu” tentang keluarga Ferry.

William Tanuwijaya, sempat jaga warnet sebelum jadi Bos Tokopedia. Achmad Zaky itu orang tuanya adalah guru SMP. Ingat ya, kita mesti melihat kisah mereka dengan kacamata probabilitas. Saya tidak bilang mereka 100% sudah pasti bukan anak orang kaya tapi kemungkinan besarnya mereka bukan anak orang kaya. Setahu saya, guru SMP susah jadi orang kaya. Saya juga tidak ingat ada anak orang kaya yang sengaja jaga warnet. Banyak orang yang senang membaca kisah mereka ini. Bukan anak orang kaya, tapi akhirnya bisa punya kekayaan sampai Rp 1 trilyun lebih dengan mendirikan perintis. Benar-benar kisah Cinderella.

Nah, imbang ya. 2 (kemungkinan besar) anak orang kaya dan 2 (kemungkinan besar) anak bukan orang kaya berhasil mendirikan (dan menjadi CEO) yunikon.

Selain itu ada seorang pendiri perintis yang terkenal, sampai masuk 30 under 30 Forbes, sempat bercerita, dia bukan anak orang kaya (secara implisit). Dia bilang dia dari kampung. Kuliah di Jakarta.

Terus saya hitung teman-teman saya yang mendirikan perintis, lulusan Amerika Serikat berimbang jumlahnya dengan lulusan dalam negeri.

Apakah terbukti bahwa stereotipe pendiri perintis itu anak orang kaya itu tidak benar? Sebelum menulis artikel blog ini, saya punya rencana untuk buat daftar perintis di Indonesia berikut pendirinya. Terus saya buka Linkedin mereka satu persatu. Lalu saya buat mesin prediksi penggolong (classifier) anak orang kaya atau bukan berdasarkan profil Linkedin mereka. Iya, kayak pembelajaran mesin (machine learning) atau pembelajaran dalam (deep learning).

Fitur-fiturnya seperti kuliah di negara mana, kuliah di Ivy League atau tidak, SMA di sekolah internasional atau tidak. Kalau di Amerika Serikat, kuliahnya di Pantai Barat (West Coast), Pantai Timur (East Coast), atau di tengah-tengah. Orang yang kuliah di West Coast atau East Coast memiliki kemungkinan yang lebih besar sebagai anak orang kaya ketimbang orang yang kuliah di tengah-tengah, misalnya MidWest. Jangan tanya saya dapat dari mana hipotesis ini. Terus kalau dia dapat beasiswa, kemungkinan dia sebagai anak orang kayanya berkurang.

Aplikasi ini akan saya namakan PredictRichParent. πŸ˜‚

Kalau Anda tidak tertawa, mungkin Anda tidak memiliki konteksnya. Mari saya kasih Anda konteksnya. Saya ini pembuat pengaya perambah (browser extension) PredictSalary yang berfungsi untuk memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Ke depannya, saya mau tambah fitur untuk memprediksi gaji dari profil Linkedin. Nah, sekarang Anda boleh ketawa. πŸ˜‚

Jadi sekarang ini saya masih tidak tahu mana yang lebih banyak: anak orang kaya atau anak bukan orang kaya yang mendirikan perintis. Saya sih pengen lihat distribusi normal kekayaan orang tua mereka. Apakah imbang? 50% vs 50%? Atau anak bukan orang kaya itu sedikit (cuma masuk ekor distribusi normal saja)? Suatu hari saya akan melakukan riset terhadap hal ini. Tapi saat ini saya sibuk.

Lalu memangnya kenapa kalau pendiri perintis itu kebanyakan anak orang kaya? Yang penting anak bukan orang kaya tidak dilarang kan bikin perintis. Betul sih. Cuma begini, teman. Apakah kita sebagai masyarakat menginginkan hal itu? Jika kita memberikan kesempatan lebih besar kepada anak bukan orang kaya untuk mendirikan perintis, mungkin masyarakat kita akan menjadi lebih kaya.

Tapi mereka (anak bukan orang kaya) tidak dilarang bikin perintis kan? Betul, tapi ada banyak hambatan yang menghalangi mereka mendirikan perintis.

Misalnya, menjadi pendiri perintis, sebelum mendapatkan investasi, maka Anda tidak akan digaji. Anda harus menggunakan tabungan Anda. Jika Anda anak bukan orang kaya, maka Anda harus berhemat. Anda pikir 1000x sebelum keluar dari pekerjaan Anda apalagi jika Anda punya tanggungan. Tapi jika Anda anak orang kaya, kualitasi hidup Anda tidak akan turun. Anda bisa minta uang kepada orang tua. Anda masih bisa liburan di Eropa atau Amerika Latin (sebelum pandemi) sebagai pendiri perintis.

Kalaupun Anda mendapat investasi awal (seed funding) di perintis Anda, gaji Anda tidak akan tinggi. Kisarannya Rp 10 juta – Rp 15 juta. Bahkan dari sumber tidak resmi, gaji pendiri perintis bisa di bawah Rp 10 juta. Nah, bagi anak orang kaya, tidak ada bedanya. Orang tua Anda masih bisa mensubsidi Anda. Tapi kalau Anda bukan anak orang kaya, apalagi jika Anda harus memberikan uang kepada orang tua setiap bulan, maka gaji rendah akan menurunkan kualitas hidup Anda.

Manajemen resiko anak orang kaya dan anak bukan orang kaya itu beda. Yang satu bisa menolerir beta yang sangat tinggi. Yang lain tidak punya kemampuan itu.

Ambil contoh: si A, kuliah di Amerika Serikat, terus balik ke tanah air, kerja di perusahaan B selama 1 tahun (kurang-lebih). Setelah itu dia membangun perintis. Dia bangun perintisnya bukan dengan laptop di kamar kos. Dia menyewa satu ruko. Rukonya direnovasi sampai habis ratusan Juta rupiah. Kemudian dia berusaha membajak banyak orang dari perusahaan tempat kerja dia dulu.

Tentu saja, dia belum tentu anak orang kaya. Mungkin tahun 2012, dia menambang Bitcoin. Mungkin dia menulis novel yang laris manis dan royaltinya membuat dia mampu kuliah di Amerika Serikat. Sekali lagi, kita harus menggunakan probabilitas melihat kasus dia. Semuanya itu cuma kemungkinan.

Lagipula kalau dia benar-benar anak orang kaya, tidak ada yang salah dari apa yang dilakukannya. Dia tidak melanggar hukum. Anak orang kaya sah-sah saja kan menyewa ruko dengan uang orang tuanya dan membangun perintis. Kadang saya berpikir, enak banget hidupnya. Tapi saya turut bergembira saja atas rejekinya. Warren Buffet bilang ada yang namanya Ovarian Lottery. Dari rahim mana Anda lahir itu menentukan kesuksesan Anda.

Jadi apa inti artikel blog ini? Artikel ini tidak dapat menjawab apakah benar kebanyakan pendiri perintis itu anak orang kaya atau bukan. Lalu apa gunanya artikel ini? 🀣

Sabar, woi, sabar. Kita akan memasuki bagian terbaik dari artikel ini. Kita akan menggunakan kerangka berpikir yang tepat jika kita adalah anak orang kaya atau anak bukan orang kaya ketika kita ingin membangun perintis.

Jika Anda Adalah Anak Orang Kaya….

Mintalah modal kepada orang tua Anda untuk membangun perintis.

Saya tahu apa yang Anda pikirkan. No shit, Sherlock.

Nasihat ini mungkin terlihat tidak berguna. Jadi saya tambahkan nasihat lainnya.

Jangan merasa bersalah ketika minta modal untuk bikin perintis dari orang tua Anda jika Anda adalah anak orang kaya.

Jangan terlalu memusingkan kata orang lain jika Anda dianggap memiliki privilese. Terus kenapa jika Anda punya privilese?

Apakah Anda harus mengambil sikap Adrian Veidt (Ozymandias) di cerita Watchmen? Adrian, “the smartest man on the planet“, menolak warisan dari keluarganya. Dia membangun perusahaannya dengan sumber daya dia sendiri.

Tapi itu kan cerita fiktif. Di dunia yang sebenarnya, sebagian besar orang menerima bantuan orang tua untuk membangun bisnis, termasuk Jeff Bezos. Dia menerima $300.000 dari orang tuanya untuk membangun Amazon.

Jadi jangan merasa tersinggung ketika ada orang bilang, peran orang tua yang kaya berperan besar dalam kesuksesan Anda sebagai pendiri perintis. So what? Orang tua bekerja keras kan demi masa depan anaknya.

Saya sebagai anak bukan orang kaya malah berharap anak orang kaya mengambil resiko yang jauh lebih besar ketika mendirikan perintis. Jangan bermimpi terlalu rendah. Kebanyakan malah mereka (anak orang kaya) membuat saya kecewa karena mereka main terlalu aman.

Jika orang tua Anda kaya (misalnya mereka punya ratusan milyar Rupiah), saya berharap Anda membuat perintis yang tidak terjangkau oleh anak-anak bukan orang kaya seperti saya. Misalnya: membuat prototipe mobil listrik swakemudi, exoskeleton (seperti Iron Man atau Edge of Tomorrow), manipulasi gen CRISPR, dan ide-ide lainnya yang butuh banyak duit. Jika orang tua saya punya ratusan milyar Rupiah, saya akan minta Rp 50 milyar untuk bikin prototipe mobil listrik swakemudi.

Tidak semua orang “beruntung” terlahir dari orang tua yang punya ratusan milyar Rupiah. Jadi manfaatkan privilese Anda itu semaksimal mungkin. Malah jika Anda terlahir dari orang tua konglomerat yang punya harta trilyunan, bagusnya menurut saya, Anda mencoba untuk membuat perusahaan satelit atau roket. Tapi kalau Anda “cuma” mau bikin mobil listrik, juga tidak apa-apa. πŸ˜‰

Jika Anda Adalah Anak Bukan Orang Kaya….

Jangan khawatir. Masih ada harapan bagi Anda yang ingin bikin perintis. Anda harus menggunakan strategi yang apik. Anda harus bekerja lebih keras. Anda harus lebih kreatif.

“Bukan orang kaya” itu maksudnya orang yang tidak miskin dan punya harta di bawah Rp 10 milyar. Ada tingkatannya “bukan orang kaya” ini. Orang tua saya tidak kaya. Tapi jika saya bangkrut, saya masih bisa menelpon mereka untuk minta dikirimkan uang sehingga saya tidak mati kelaparan. Tapi saya tidak bisa minta uang untuk bikin restoran (sekitar Rp 2-4 milyar). Saya tidak bisa minta uang dari mereka untuk beli mobil Tesla. Mereka tidak ada uangnya. Saya tidak perlu kirim uang ke mereka karena mereka masih punya penghasilan. Terus di bawah tingkatan ini ada teman saya yang harus kirim uang ke orang tuanya tiap bulan karena orang tuanya sudah pensiun dan tidak punya penghasilan. Dana pensiunnya habis karena satu dan lain hal. Privilese saya lebih tinggi daripada privilese teman saya. Tapi privilese kami jauh lebih rendah daripada privilese anak konglomerat. Privilese ini bukan hitam dan putih, tapi spektrum. Ada warna abu-abu (#d3d3d3) di tengah-tengah warna hitam (#000) dan warna putih (#fff).

Nah, kalau Anda tidak punya orang tua yang kaya, Anda bisa menikah dengan orang yang kaya atau anak orang kaya. Saya punya teman saya yang menikah dengan anak orang kaya dan dia diberi modal oleh mertuanya untuk membangun bisnis (bukan perintis, tapi bisnis tradisional). Anda boleh percaya atau tidak. Pernikahan adalah cara yang sah dan tidak melanggar hukum untuk menjadi kaya. 🀣

Kalau Anda tidak dapat menemukan orang kaya atau anak orang kaya yang bersedia menikah dengan Anda, jangan menangis. Anda cari teman yang bakal menjadi super kaya di masa depan dan Anda mesti berbaik hati kepadanya. Hal ini penting karena di masa depan teman Anda kalau sudah menjadi super kaya, dia mungkin akan membayar hutang budi kepada Anda dengan uang yang banyak, seperti George Clooney. George waktu masih berjuang menjadi aktor di Hollywood sempat sampai tidur di sofa temannya. Kemudian beberapa tahun lalu dia memberikan uang 1 juta dollar masing-masing ke 14 teman baiknya. Pajak untuk tahun pertama dibayar George. πŸ˜›

Anda tidak punya teman yang seperti itu? Jangan khawatir. Kita kembali ke orang tua Anda. Mungkin mereka tidak dapat memberikan beberapa milyar Rupiah kepada Anda. Tapi membangun perintis dengan peranti lunak tidak selalu membutuhkan uang banyak.

Suatu hari di masa lampau, saya berbincang dengan dosen di universitas di Jakarta. Kami mendiskusikan satu kasus yang lucu. Jadi ada lulusan universitas itu yang mendapat tawaran kerja dengan gaji sekitar Rp 8 juta. Ini adalah angka yang bagus untuk lulusan anyar. Tapi ditolaknya karena uang saku dari orang tuanya lebih besar daripada Rp 8 juta. Orang tuanya bakal menyetop pemberian uang saku jika dia mendapatkan pekerjaan.

Bukan soal manjanya lulusan anyar itu yang mau saya bahas. Tapi saya tahu banyak orang tua yang sanggup membayar biaya hidup anaknya tapi mereka bukan orang kaya. Mungkin kita sebutnya kelas menengah atau golongan sejahtera tapi tidak kaya.

Hal ini penting untuk Anda sadari karena membangun peranti lunak tidak selalu mahal. Anda hanya perlu komputer yang lumayan terjangkau. Taruhlah laptop belasan juta Rupiah. Ditambah dengan biaya hosting di peladen sekitar Rp 1 – 2 juta per bulan. Jadi 10 juta Rupiah per bulan (di luar biaya laptop) itu sebenarnya cukup untuk memodali Anda dalam membangun perintis. Banyak orang tua yang tidak kaya sanggup bayar Rp 10 juta per bulan.

Beda ketika Anda ingin bikin bank yang butuh modal minimal Rp 3 trilyun atau restoran mewah yang butuh modal milyaran Rupiah.

Contoh peranti lunak yang dapat dibangun dengan biaya terjangkau? PredictSalary. Dalam mengembangkan PredictSalary, saya tidak membutuhkan duit yang banyak. Saya hanya butuh komputer yang harganya sekitar Rp 30 juta lebih (biaya satu kali di depan) dan biaya hosting yang masih di bawah Rp 1 juta per bulan. Dan lihatlah…. PredictSalary sudah digunakan oleh banyak orang. Jumlah pengguna PredictSalary sekitar 500 orang (82 di Firefox + 413 di Chrome) tanggal 10 Agustus 2020.

Jumlah pengguna PredictSalary di Firefox
Jumlah pengguna PredictSalary di Chrome

Betul, PredictSalary masih belum menghasilkan uang. Aplikasinya saja belum genap satu bulan (baru dirilis pertengahan Juli 2020). Tapi jumlah pengguna yang sudah setengah ribu membuat saya bahagia. Dan orang tua saya tidak kaya. Moral dari cerita saya adalah Anda tidak butuh duit yang banyak untuk membuat peranti lunak yang memberi nilai kepada banyak orang, seperti PredictSalary. Biaya paling besar dari PredictSalary adalah biaya jasa rekayasa peranti lunak itu tapi karena saya adalah perekayasa peranti lunak itu sendiri, maka saya tidak perlu bayar biayanya. πŸ˜›

Terus ada orang yang bikin peranti lunak seperti After Effects tapi berbasis awan dan dia membutuhkan waktu 11 bulan.

Bisnis pengembangan penggubah teks Sublime juga tidak membutuhkan biaya besar (di luar biaya hidup perekayasa peranti lunaknya).

Jadi dengan asumsi Anda adalah perekayasa peranti lunak yang kompeten, banyak jenis perintis yang bisa Anda kembangkan. Anda hanya perlu meminta orang tua menanggung biaya hidup Anda selama 1-2 tahun. Nanti kapan-kapan saya bikin daftar ide perintis yang bisa dikerjakan dengan biaya sangat murah (dengan asumsi Anda adalah perekayasa peranti lunak itu sendiri).

Masalahnya adalah kebanyakan orang tua tidak bisa melihat nilai yang bisa diberikan oleh peranti lunak. Bisnis restoran itu jelas. Ada makanannya. Ada tempat makannya. Bisnis pembuatan penggubah teks seperti Sublime…. Semoga berhasil membujuk orang tua Anda untuk melihat nilai yang dapat diberikan oleh penggubah teks seperti Sublime. Saran saya adalah edukasi yang penuh kesabaran. Tunjukkan banyak orang yang jadi kaya dengan membuat peranti lunak.

Tapi ingat ada beberapa peranti lunak yang terlalu mahal untuk dikerjakan oleh anak bukan orang kaya seperti kita. Misalnya jangan coba-coba berpikir untuk membuat kompetitor TikTok. Biaya hosting videonya bakal membuat Anda bangkrut. Selain itu algoritma daftar videonya butuh biaya besar.

Jika orang tua Anda tidak sanggup atau tidak mau menalangi biaya hidup Anda selama Anda membangun perintis, masih ada cara lainnya.

Investor-investor yang mau memberikan pendanaan itu semakin banyak jumlahnya. Dulu mungkin Anda bisa berkilah bahwa hanya anak orang kaya yang punya koneksi ke investor-investor. Tapi sekarang akses ke investor-investor itu sudah lebih terdemokratisasikan. Baru-baru ini Sahil Lavingia, pendiri Gumroad, menyediakan pendanaan awal ke perintis. Belum lagi SurgeAhead, YCombinator. Dan masih banyak investor-investor lainnya. Mungkin kapan-kapan saya bikin daftar investor yang bisa Anda ganggu buat perintis Anda.

Tapi kalau tidak ada investor yang mau kasih dana kepada Anda? No investor, no cry. Anda bisa mengumpulkan duit dari gaji sebagai karyawan bergaji mahal di yunikon atau perusahaan teknologi lainnya. Manajer insinyur (engineering manager) bisa dapat gaji di atas Rp 50 juta per bulan. Taruhlah biaya hidup Anda Rp 10 juta. Anda punya Rp 30 – 40 juta untuk ditabung per bulan. Anda bekerja 1 tahun, Anda sudah bisa mengumpulkan harta Rp 300 juta lebih. Ini adalah biaya hidup Anda selama 2 tahun. Itu sudah lebih dari cukup untuk membangun perintis (asal Anda tidak mencoba bersaing dengan TikTok). Untuk menjadi Engineering Manager (EM) bergaji mahal biasanya Anda butuh pengalaman 10 tahun. Yah, lama sih. Tapi setidaknya jalan tersedia bagi Anda.

Jika Anda bekerja di perusahaan sebagai karyawan bergaji mahal, maka Anda tidak akan punya waktu lagi untuk mengerjakan perintis. Anda harus menunggu pada saat Anda mundur dari perusahaan. Anda bakal terlalu sibuk di perusahaan. Energi dan waktu Anda bakal terkuras.

Maka dari itu ada cara lain selain bekerja sebagai karyawan dalam membangun perintis. Anda tidak bekerja sebagai karyawan, tapi Anda mencari penghasilan dari tempat lain dan bekerja secukupnya. Misalnya, ada jalan bagi perekayasa peranti lunak untuk mendapatkan uang Rp 4 juta lebih selama dua hari. Jika biaya hidup Anda Rp 10 juta per bulan, makan Anda cukup bekerja selama 6 hari per bulan dan sisa 24 harinya tersedia bagi Anda untuk membangun perintis. Caranya seperti apa akan dibahas di artikel mendatang. Sabar ya!

Hidup memang tidak adil. Ada yang punya orang tua kaya, ada yang tidak. Tapi jangan biarkan hal ini merintangi ambisi Anda untuk mendirikan perintis. Jika orang tua Anda tidak kaya, anggap saja Anda sedang memainkan permainan video (video game) dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Ketika saya bermain StarCraft 2, pilihan kesulitannya ada 4: Easy, Normal, Hard, Insane. Anggap saja Anda sedang memainkan permainan dengan level Hard sementara mereka yang punya orang tua kaya sedang memainkan permainan dengan level Normal. Anda mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dari mereka dalam menyelesaikan permainan, tapi tidak apa-apa kan. Yang penting nikmati tantangan dalam hidup Anda selama membangun perintis.

Categories
startup wealth

Menaklukkan Dunia dengan Produk 100% Digital

Jadi baru-baru ini Basecamp (CTO-nya adalah DHH, pencipta Ruby on Rails) mengeluarkan produk Hey. Ia adalah layanan surel seperti Gmail. Kelebihannya dari yang saya baca-baca sekilas adalah pengalaman pengguna (UX) yang superior. Mereka tidak ada versi gratis seperti Gmail. Ada 14 hari uji coba tapi pada akhirnya Anda harus membayar atas jasa layanan surel ini. Harganya $99 per tahun. Tapi jika Anda memilih nama pengguna yang lebih pendek seperti sky@hey.com, atau yo@hey.com, maka harganya akan naik beberapa kali lipat. Reaksi dari beberapa orang yang memakai jasa ini positif.

Produk Hey bertipe sama dengan produk Basecamp. Mereka adalah produk murni digital atau 100% digital. Artinya semua interaksi di produk mereka bisa dilakukan di ranah digital. Tidak ada hal yang perlu dilakukan di lapangan. Ada keunggulan (dan kelemahan) dari produk murni digital ini. Mereka bisa menjual jasa mereka ke seluruh dunia (sepanjang pembeli memiliki koneksi internet dan tidak ada embargo ekonomi). Anda bisa menjadi pelanggan Hey ataupun Basecamp sepanjang Anda memiliki kartu kredit atau kartu debit atau akun Paypal. Hayati paragraf ini sebelum kita beranjak ke paragraf berikutnya. Tarik napas dan resapi kata-kata saya. Sudah? Ayo, lanjut!

Nah, mari kita kembali ke tanah air tercinta kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Orang-orang kan sekarang berlomba-lomba bikin perintis (startup) di Indonesia. Siapa yang tidak ngiler melihat kisah sukses Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, Gojek, Tiket.com, dll? Umur kurang-lebih baru 10 tahun, tapi valuasi Gojek sudah mengalahkan perusahaan Garuda yang memiliki pesawat-pesawat terbang!

Tapi coba perhatikan tipe-tipe perusahaan digital yang besar. Bukan cuma yunikon, tapi juga perusahaan-perusahaan besar seperti Kredivo, Blibli, Halodoc, Cekaja, Warung Pintar, Dana, IDN Media, Modalku, Happy Fresh, Fabelio, Sayurbox, Koinworks, Moka, dll. Perhatikan baik-baik contoh-contoh tersebut. Tidak ada perusahaan yang menawarkan produk 100% digital ke seluruh dunia.

Ambil contoh Warung Pintar. Mereka harus ke lapangan untuk mengintegrasikan teknologi dengan warung. Modalku? Anda bisa bilang mereka memiliki produk digital 100% karena mereka tidak terjun ke lapangan. Tapi produk mereka terbatas di Indonesia saja karena aliran finansial antar negara itu kompleks dan penuh dengan birokrasi (yang coba diselesaikan oleh teknologi blockchain). IDN Media? 100% digital dan produknya bisa dinikmati seluruh dunia. Tapi konten mereka dalam bahasa Indonesia yang membatasi segmen pembaca. Dana? Cuma bisa dipakai di Indonesia. Sayurbox? Mesti terjun ke lapangan (beli produk dari petani, mengantarkan sayur ke rumah). Fabelio? Mereka jual dan kirim perabotan ke penduduk Indonesia. Apakah Anda melihat tema besar dari apa yang saya tulis?

Saya pernah berbincang-bincang dengan teman saya. Saya mengutarakan ide saya yaitu membuat platform edukasi tentang suatu teknologi dengan target ke penganut teknologi itu di seluruh dunia. Jawaban dia, “Kenapa kamu memikirkan dunia? Indonesia saja sudah cukup besar sebagai pasar.”

Dia benar. Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono membuat perintis Bukalapak yang cuma melayani segmen Indonesia. Hasilnya? Achmad Zaky diasumsikan memiliki kekayaan sebesar kurang lebih 100 juta USD (sekitar 1,4 trilyun Rupiah). Saking kayanya sekarang mereka bagi-bagi duit ke perintis.

Tidak ada yang salah dari membuat perintis yang hanya melayani segmen Indonesia. Sepanjang Anda memberi nilai ke masyarakat, dan tidak merampok orang, ada yang salah memangnya?

Betul, tidak ada yang salah. Cuma dari pengalaman saya di lapangan, saya mendapat kesan bahwa di Indonesia, orang-orang cenderung membuat perintis yang terbatas terhadap Indonesia. Jarang sekali saya melihat orang membuat produk digital 100% untuk segmen dunia di Indonesia. Tidak percaya? Coba cari perusahaan Indonesia yang membuat produk seperti Hey, Basecamp, atau Gitlab. Saya tunggu.

Hal ini membuat saya gelisah. Kenapa tidak ada (atau jarang) orang yang membuat produk 100% digital untuk segmen dunia? Salah satu figur terkenal di dunia perintis Indonesia (tidak boleh sebut nama!) bilang kepada saya bahwa ketika kita membuat produk 100% digital untuk seluruh dunia, sebenarnya kita cuma membuat produk untuk negara yang menggunakan bahasa Inggris (negara-negara di Eropa, India, Amerika Serikat). Kita berkompetisi dengan perintis-perintis di Amerika Serikat, Eropa, dan India. Bandingkan jika kita membuat perintis untuk segmen Indonesia, kompetitornya jarang dari luar karena ada faktor birokrasi, wilayah dan hukum.

Dia ada benarnya. Misalnya ada orang yang namanya A yang tinggal di Belanda. Dia bakal susah untuk mendirikan perusahaan teknologi finansial yang memberi pinjaman kepada petani di Indonesia. Dia harus datang ke Indonesia dan mendirikan Perusahaan Modal Asing. Belum lagi dia harus berhadapan dengan birokrasi Indonesia yang terkenal akan…. <disensor>. Jadi penghalang masuk (barrier entry) tergolong tinggi. Itulah kenapa kita “dianjurkan” untuk membuat perintis khusus segmen Indonesia. Orang luar susah masuk.

Selain itu Indonesia memiliki populasi yang sangat tinggi, hampir 300 juta penduduk. Alasan egois mendirikan perintis kan jadi super kaya. Apakah kaya dari mendirikan perintis yang cuma melayani penduduk Indonesia atau melayani seluruh dunia, itu kan tidak relevan. Seperti kata teman saya, pasar Indonesia itu besar. Besar sekali. Seperti gajah. Eh, seperti paus deh. Hanya ada 3 negara yang jumlah penduduknya lebih banyak daripada Indonesia: Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Dengan faktor pasar yang besar ini, pendiri perintis pun kehilangan insentif untuk melayani segmen dunia. Bandingkan jika Anda adalah warga negara Belanda atau Singapura. Mau tak mau Anda harus mendirikan perintis dengan segmen internasional.

Sytse Sijbrandij (Belanda) dan Dmitriy Zaporozhets (Ukraina) mendirikan Gitlab, saingan dari Github. Valuasi Gitlab itu sekitar Rp 40 trilyun. Memang masih kalah dengan valuasi Gojek. Tapi itu hitungannya sudah yunikon. Gitlab adalah produk 100% digital dengan segmen dunia.

Kenapa saya menceritakan kisah singkat Gitlab? Karena saya merasa gelisah kenapa jarang sekali orang Indonesia membuat produk internasional seperti Gitlab. Jika Anda membaca kisah-kisah pendanaan (funding) perintis Indonesia akhir-akhir ini, hampir semua fokus mereka adalah segmen Indonesia.

Hanya karena Anda tinggal di negara dengan populasi penduduk yang besar, tidak berarti Anda tidak boleh membangun produk internasional. HackerRank itu berasal dari India.

Indonesia memang pasar yang besar. Tapi dunia adalah pasar yang lebih besar. Jika Anda membuat produk untuk orang-orang yang bisa berbahasa Inggris, Anda bisa menjangkau penduduk Amerika Serikat, India, dan negara-negara di Eropa. Hitung saja jumlah penduduknya. Beberapa kali lipat dari Indonesia.

Jika Anda berpikiran Anda bakal berhadapan dengan kompetitor dari seluruh dunia, so what? Anda kan bukan anak kecil yang masih harus sembunyi di belakang kaki orang tua Anda. Lagipula kompetisi dalam negeri bukannya tidak keras. Jadi jangan membatasi diri terhadap Indonesia saja.

Saya akan menceritakan perintis yang melayani segmen dunia dan pendirinya orang Indonesia. Nama perintisnya adalah Cotter. Ia adalah perintis yang memberikan solusi kata sandi satu sentuhan yang lebih aman dari SMS. Pendirinya adalah Putri Karunia, Kevin Chandra, dll. Produk mereka menjangkau seluruh dunia. Mereka orang Indonesia (lihat saja nama-nama mereka, Indonesia banget). Produk mereka 100% digital. Tidak perlu terjun ke lapangan. Moral dari paragraf ini adalah sebagai orang Indonesia, Anda tidak harus membuat perintis yang cuma melayani segmen Indonesia.

Nah, saya juga tidak mau cuma mengkritik. Tapi tindakan saya juga harus sinkron.

Saya membuat situs ArjunaSkyKok.com ini dengan misi untuk meningkatkan harkat dan martabat pemrogram-pemrogram Indonesia. Lihat saja tulisan blog ini! Target artikel ini adalah pemrogram-pemrogram Indonesia. Kalau saya terjemahkan tulisan blog ini ke bahasa Inggris, maka tulisan saya menjadi tidak relevan lagi. Lagipula kenapa orang Amerika Serikat atau India mau membaca tulisan blog yang membahas masalah spefisik di Indonesia? Situs ini bakal meluncurkan produk-produk yang bakal meningkatkan taraf hidup pemrogram-pemrogram Indonesia, misalnya Buku Pemrogram Rp 100 Juta. Ke depannya situs ini (mungkin) bakal meluncurkan produk (misalnya) English for Software Engineers. Dan lain-lain.

Tapi… bukankah saya mengadvokasikan perintis dengan segmen internasional sementara situs ini hanya melayani segmen Indonesia? SABAR WOI!

Selain situs ini yang cuma melayani segmen Indonesia, saya juga sedang mengembangkan perintis / produk internasional, yaitu Mamba. Memang sekarang ia hanyalah proyek kode terbuka (open source). Itu karena saya lagi menyelesaikan buku saya dan saya masih dalam tahap riset dan pengembangan di bidang blockchain. Saya juga sedang membangun reputasi saya di bidang blockchain. Nanti beberapa tahun lagi baru saya kembangkan proyek kode terbuka ini menjadi perintis internasional. Harus Anda ingat banyak perintis yang berasal dari proyek kode terbuka misalnya Gastby, Red Hat, dan Gitlab. So I’ll walk the talk. Bukan cuma omdo. (Permutakhiran tanggal 24 Agustus 2020: sekarang saya fokus ke produk lain: PredictSalary bukan Mamba lagi. Tapi semangat paragraf ini masih sama karena PredictSalary fokusnya ke pasar internasional.)

Jadi tunggu apa lagi? Negara Indonesia tidak sedang diembargo oleh negara adikuasa. Stripe memang belum masuk Indonesia. Tapi kita masih bisa pakai Paypal untuk menerima pembayaran dari konsumen internasional. Masih ada mata uang kripto juga yang lintas negara. Jadi tidak ada yang menghalangi Anda untuk membuat produk internasional. Jangan rendah diri dengan orang-orang luar. Taklukkan dunia dengan produk digital Anda! Go get’em, tiger! 🐯

Categories
javascript wealth

Mendulang Emas di Dunia JavaScript yang Edan

JavaScript adalah salah satu bahasa pemrograman yang paling populer di dunia. Salah satu alasannya karena dulu JavaScript adalah satu-satunya bahasa yang Anda bisa pakai di tampak-muka web. Sekarang sudah ada bahasa lain yang bisa digunakan selain JavaScript, yaitu TypeScript, Elm, Dart. Tapi JavaScript tetap memegang tombak kepemimpinan di dunia tampak muka karena JavaScript sudah memegang manfaat gerakan-pertama (first-move advantage). Di samping itu JavaScript juga tidak membutuhkan proses yang ribet, seperti kompilasi (kecuali Anda menggunakan versi terbaru JavaScript).

Google mengeluarkan mesin JavaScript V8 yang akhirnya digunakan oleh seorang pemrogram untuk membuat Node.js. JavaScript pun berekspansi ke dunia peladen juga selain dunia tampak-muka. Orang-orang mulai menggunakan JavaScript sebagai bahasa pemrograman peladen. Artinya apa? Orang tidak perlu belajar dua bahasa lagi untuk membuat aplikasi web. Dengan satu bahasa utama, yaitu JavaScript, orang bisa menjadi pemrogram seluruh tumpukan (fullstack engineer). Dulu orang harus belajar bahasa lain untuk mengerjakan bagian peladen, misalnya PHP, Ruby, Perl, Java, atau Python.

Kemudian JavaScript pun menempati pangkalan aplikasi desktop. Electron adalah kerangka pengembangan yang popular dalam membuat aplikasi desktop. Alasannya adalah dengan menggunakan bahasa pemrograman yang populer, yaitu JavaScript, Anda dapat membuat aplikasi multiplatform, aplikasi yang bisa digunakan di platform Windows, Mac, dan Linux. Tidak perlu lagi bikin aplikasi 3 kali. Banyak aplikasi populer yang menggunakan Electron, seperti Visual Studio Code, Slack, Spotify, dan lain-lain.

Kemudian JavaScript masuk ke bahasa pemrograman yang digunakan untuk membuat aplikasi seluler. React Native adalah kerangka pengembangan yang sangat populer untuk membuat aplikasi seluler multiplatform, aplikasi seluler di atas platform Android dan iOS. Tidak perlu aplikasi seluler 2 kali.

Bahkan JavaScript ikut-ikutan masuk menjadi bahasa pemrograman di Pembelajaran Dalam (Deep Learning) dengan Tensorflow.js. Tapi untuk yang satu ini, JavaScript masih kalah populer dibandingkan Python. πŸ˜€

Tapi di balik kejayaan JavaScript, ada banyak masalah yang tertimbun. Masalah-masalah ini ada yang sampai membuat pemrogram-pemrogram menjadi letih untuk mengerjakan pemrograman tampak-muka. Ada yang meninggalkan dunia pemrograman tampak-muka untuk bekerja di dunia pemrograman lain seperti pemrograman peladen atau pemrograman aplikasi seluler. Dunia pemrograman tampak-muka menjadi sangat kompleks. Perkembangan teknologinya begitu pesat sehingga dibutuhkan penulis penuh-waktu untuk mengikuti perkembangan teknologi di dunia JavaScript.

Berlalu sudah dunia JavaScript yang sederhana di mana Anda cukup menggunakan jQuery untuk membantu Anda dalam membuat aplikasi web antar-muka yang dinamis. Sekarang sudah lazim orang menggunakan kerangka pengembangan JavaScript yang super kompleks misalnya React, Vue, Angular, Ember, dan masih banyak lagi lainnya. Setiap tahun sepertinya muncul kerangka pengembangan JavaScript yang baru.

NPM adalah tempat di mana pustaka Node.js hidup. NPM mirip dengan PyPi (Python), Maven Repository (Java), RubyGems (Ruby). Untuk memasang pustaka JavaScript dari NPM, orang tinggal melakukan perintah ini:

$ npm install pustakayangmaudipasang

Masalahnya ada orang jahat yang sempat berhasil mengunggah pustaka di NPM yang mencoba untuk mencuri kunci privat (private key) Bitcoin. Ada pustaka yang namanya Event-Stream yang digunakan oleh aplikasi dompet Copay. Pemelihara pustaka ini kehilangan minat dan tidak punya waktu lagi untuk memelihara pustaka Event-Stream dan menyerahalihkan kepemilikan pustaka Event-Stream ke seorang pemrogram lain. Pemelihara baru ini kemudian memasang kode jahat yang mencoba untuk mencuri kunci privat Bitcoin.

Selain itu entah kenapa NPM menarik banyak pemrogram yang membuat pustaka sangat pendek, misalnya modul dengan fungsi 1 baris. Banyak pustaka atau aplikasi yang tergantung dari modul seperti ini sehingga ketika terjadi masalah, ada efek dominonya. Misalnya, modul 1 baris membuat pustaka create-react-app menjadi rusak. Masalah ini bukan kali pertama terjadi. Pada tahun 2016, seorang pemelihara modul di NPM menarik semua modulnya. Salah satu modulnya bernama left-pad yang digunakan oleh banyak modul lainnya. Akhirnya ribuan modul JavaScript menjadi rusak (termasuk pustaka populer Babel).

Tapi ada masalah, ada peluang. Di tengah kekacauan di dunia JavaScript, ada peluang untuk mendulang emas. Masalah-masalah terjadi karena banyaknya orang / energi / duit yang dilemparkan di dunia JavaScript. Sejelek-jeleknya JavaScript lebih baik daripada bahasa pemrograman yang sepi masalah karena hampir tidak dipergunakan oleh orang lain, seperti <disensor>.

Bagaimana cara mendulang emas di dunia JavaScript yang edan? Ah, saya senang Anda menanyakan pertanyaan itu.

πŸ‘©β€πŸ’Ό Mencari Kerja sebagai Pemrogram JavaScript

Ada banyak lowongan pekerjaan sebagai pemrogram JavaScript. Ini adalah salah satu dari sekian dikit bahasa pemrograman yang memberi keamanan pekerjaan. Hampir semua perusahaan membutuhkan aplikasi web. Sebagian besar aplikasi web menggunakan tampak-muka yang sebagian besar ditulis dengan JavaScript. Memang ada aplikasi web yang cuma menggunakan aplikasi seluler sebagai klien. Peladen mereka hanya mengeluarkan JSON saja.

Ada banyak lowongan pekerjaan pemrogram JavaScript di Indonesia. Saya cuma melihat bagian “Web Development” belum “Mobile Development”. Seperti yang kita tahu, React Native adalah kerangka pengembangan JavaScript yang populer dalam membuat aplikasi seluler.

Ada banyak juga lowongan pekerjaan jarak jauh sebagai pemrogram JavaScript.

🏫 Mendirikan Bootcamp JavaScript

Permintaan atas pemrogram JavaScript naik tapi persediaannya terbatas sehingga diciptakanlah bisnis bootcamp. Orang-orang diajari pemrograman JavaScript selama beberapa bulan sebelum dilepas ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pemrogram JavaScript.

Bootcamp yang terkenal di Indonesia adalah bootcamp Hacktiv8. Perintis ini baru mendapatkan modal dari pemodal ventura sebesar 3 juta USD. Mereka sudah membangun cabang di tempat lain di luar markas mereka yang terletak di Pondok Indah. Badan-badan tertentu memproyeksikan bahwa jumlah lowongan-lowongan pekerjaan pemrogram akan menjadi tinggi beberapa tahun ke depan sementara talentanya masih sedikit.

πŸ—οΈ Mengembangkan Kerangka Pengembangan JavaScript

Evan Yue mengembangkan kerangka pengembangan JavaScript yang bernama Vue. Dia didukung oleh sistem donasi Patreon.

Pada tahun 2013, Evan Yue masih bekerja di Google. Dia menciptakan pustaka Vue. Dia mengerjakan semuanya di waktu luang. Jadi ada waktu di mana dia berminggu-minggu tidak menyentuh Vue karena kesibukannya.

Pada tahun 2015, Evan Yue menghabiskan seluruh waktu liburannya untuk mengerjakan improvisasi terhadap Vue. Vue dengan versi 1.0 keluar.

Pada tahun 2016, Evan Yue memutuskan untuk bekerja penuh waktu untuk mengembangkan pustaka Vue. Dia hidup dari tabungan pada awal-awalnya. Rencana dia adalah kalau uang dia sudah habis, dia akan mencari pekerjaan baru. Dia berusaha mencari sokongan dari perusahaan-perusahaan. Jika perusahaan itu menyumbang uang sekian, perusahaan itu bisa memasang logonya di situs Vue.

Pada tahun 2017, Evan Yue menembus angka donasi 10 ribu USD per bulan. Pada tahun 2018, Evan Yue mempekerjakan orang untuk membantu dia dalam mengembangkan pustaka Vue.

Dari sisi kompetitor Vue, yaitu React, ceritanya sedikit berbeda.

Pada tahun 2014, pustaka React.js diluncurkan ke publik. Dan Abramov, seorang pemrogram yang tinggal di Rusia, berkontribusi ke React.js. Dia juga memberi presentasi tentang React.js di temu jumpa BerlinJS. Kemudian pada tahun 2015 dia menciptakan pustaka Redux. Pada tahun itu juga dia pergi ke konferensi teknikal di Paris. Dia bertemu dengan Jing Chen yang bekerja di Facebook. Mereka sudah sering berdialog di saluran React di IRC. Sebelumnya Dan Abramov sudah dikontak oleh perekrut Facebook cuma perbincangannya menjadi stagnan karena Dan Abramov tidak memiliki ijazah S1 (dia tidak menyelesaikan pendidikan kuliah). Dan Abramov bilang dia tidak bisa mendapatkan visa Amerika Serikat. Kemudian Jing Chen menawari pekerjaan di London. Dan Abramov diwawancarai di tempat di mana konferensi teknikal itu diselenggarakan juga. Akhirnya Dan Abramov mendapatkan pekerjaan di Facebook.

✍️ Menulis Buku tentang JavaScript

JavaScript mungkin adalah bahasa pemrograman yang sederhana bagi pemrogram tertentu tapi ekosistemnya sangat rumit. Dunia JavaScript (termasuk pustaka, ekosistem, perambah, dan lain-lain) itu seperti labirin yang membuat banyak orang tersesat. Maka dibutuhkanlah panduan untuk memahami JavaScript termasuk kerangka pengembangannya.

Menulis buku tentang JavaScript adalah prospek yang menggiurkan karena jumlah potensial pembaca (dan pembeli) buku-buku JavaScript itu sangat besar. Misalnya buku tentang kerangka pengembangan Angular bisa mendapat 400 ribu USD per tahun (penghasilan kotor) untuk 2 tahun pertama. Itu adalah penjualan dari penerbit. Royaltinya sekitar 50% untuk pengarang yang menggunakan penerbit itu.

Dokumentasi resmi di situs proyek kode terbuka saja kadang tidak cukup untuk memahami kegilaan JavaScript. Makanya penulis buku tentang JavaScript bisa memberi nilai lebih untuk menyelesaikan titik sakit ini.

πŸ“Ί Membuat Video Pelatihan JavaScript

Ada sebagian orang yang lebih suka belajar tentang JavaScript dari video ketimbang tulisan. Bermuncullah video-video tutorial tentang JavaScript. Orang sering pergi ke Udemy untuk membeli video-video tentang JavaScript. Instruktur yang sangat populer adalah Maximilian SchwarzmΓΌller. Penghasilan dari penjualan video di Udemy yang bakal masuk ke kantong instruktur adalah 50% (untuk pemasaran organik). Salah satu kursus Maximilian yaitu React – The Complete Guide (incl Hooks, React Router, Redux), dibeli sebanyak hampir 250 ribu. Harga video tutorial di Udemy bervariasi. Tapi jika Anda sabar, biasanya harga bisa turun menjadi sekitar 10 USD atau sekitar Rp 140 ribu. Anda bisa hitung sendiri berapa yang didapat oleh Maximilian.

Ada juga yang menerapkan sistem langganan, jadi bukan bayar lepas seperti Udemy. Misalnya Vue School. Pelanggan membayar 25 USD per bulan. Bayar per tahun lebih murah. Ada juga opsi bayar sekali untuk akses seumur hidup. Mereka mengaku punya 60.000 pengguna. Tidak jelas apakah pengguna ini adalah pengguna premium saja atau termasuk pengguna gratisan saja.

Ada juga yang lebih luas daripada sekadar pelatihan Vue dan menggunakan sistem langganan, yaitu egghead.io. Untuk berlangganan orang harus membayar 350 USD per tahun. Sebagian dari biaya langganan ini akan diteruskan ke proyek kode terbuka. Kursus mereka meliputi Angular, Vue, React, GraphQL, bahkan hingga Git.

πŸ¦„ Membangun Perintis

Anda bisa membangun perintis berdasarkan teknologi JavaScript. Bukan, yang saya maksud bukanlah membangun perintis dengan teknologi JavaScript. Misalnya Anda membangun perintis pencucian baju berdasarkan permintaan (on-demand laundry). Anda menggunakan Node.js dan kerangka pengembangan web Express.js untuk membuat aplikasi web. Bukan itu maksud saya. Tidak ada yang salah sih menggunakan JavaScript untuk membuat aplikasi web di perintis.

Yang saya maksudkan adalah membangun perintis berdasarkan teknologi JavaScript.

Pada suatu hari seorang pemrogram yang bernama Kyle Matthews membuat kerangka pengembangan aplikasi web statis dengan kerangka pengembangan JavaScript React. Namanya Gatsby. Dengan Gatsby Anda dapat membuat aplikasi web statis dengan fleksibilitas aplikasi web dinamis. Gatsby memberi beberapa kelebihan kepada Anda dibandingkan jika Anda menulis aplikasi web dengan HTML + CSS + JavaScript secara manual. Anda bisa menggunakan sumber data seperti MarkDown, REST, WordPress. Anda dapat juga mengemulasi aplikasi web dinamis (sampai tahap tertentu). Karena web Anda adalah statis berarti untuk pemasangan web Anda membutuhkan harga yang lebih murah karena Anda tidak membutuhkan aplikasi peladen seperti PHP, atau Ruby. Untuk sebagian besar situs web statis, Anda bisa menaruhnya secara cuma-cuma di GitHub Pages atau Netlify.

Kemudian Gatsby mendapat pendanaan dari pemodal ventura. Model bisnis mereka ada di awan. Jadi aplikasi web statis itu berisikan halaman-halaman statis. Tapi untuk mendapatkan halaman-halaman statis itu Anda mesti melakukan langkah bangun (build). Setelah itu halaman-halaman statisnya ditaruhlah di awan. Untuk situs yang cuma punya 5 halaman dan diubah sekali setahun, Anda tidak membutuhkan layanan premium dari Gatsby. Tapi ketika situs Anda sudah memiliki ribuan halaman, langkah bangun itu akan menjadi lama sekali. Gatsby menawarkan layanan bangun tambahan di awan jika Anda mau berpisah dengan sebagian uang Anda.

Saya jelaskan sekali lagi model bisnis Gatsby sehingga Anda bisa menghayati apa yang ditawarkan oleh perintis Gatsby. Ketika Anda menggunakan situs aplikasi web dinamis dengan bahasa PHP misalnya, harus ada aplikasi peladen yang mengeksekusi kode PHP (biasanya Apache Httpd atau Nginx dengan pengaya pengeksekusi PHP). Misalnya Anda punya 5 halaman yang memiliki bagian kepala (header) berisikan kode PHP yang sama, bagian kepala itu akan dieksekusi sehingga kita mendapat hasil dalam bentuk HTML.

<?php
// Berkas bagian kepala, header.php
echo "Bagian Kepala";
?>
<?php
// Berkas halaman 1, halaman1.php
include 'header.php';
echo "Halaman 1";
?>

Jika Anda mengubah berkas bagian kepala, semua 5 halaman itu akan mendapatkan perubahannya.

Bandingkan dengan Gatsby. Hal yang serupa terjadi juga. Tapi Anda mesti bangun (build) semua berkas itu sehingga Anda mendapatkan berkas HTML saja sebelum ditaruh di awan. Paham?

Pembangunan berkas-berkas itu bakal menjadi rumit ketika aplikasi web statis Anda menjadi besar. Cukup tentang Gatsby.

Nuxt.js baru saja mendapatkan pendanaan dari pemodal ventura. Nuxt.js adalah kerangka pengembangan yang dibuat di atas kerangka pengembangan Vue.js.

Gatsby dan Nuxt.js membutuhkan aplikasi untuk membuat konten statis yang biasanya berformat MarkDown. Situs profil perusahaan mungkin tidak butuh alat khusus. Tapi kalau Anda membuat Sistem Manajemen Konten atau CMS, Anda akan terbantu dengan alat khusus. Forestry membuat penggubah konten di atas Git. CMS harus bisa gampang diakses oleh pengisi konten yang tidak teknikal. Penggubah teks ini memiliki tampak-muka yang bersahabat untuk menggubah konten. Selain itu, penggubah konten ini memiliki sistem yang bisa mendorong konten ke repositori Git dan langsung terserbar ke tempat produksi. Mereka menggunakan sistem langganan.

Masih banyak lagi lainnya cara untuk mendulang emas di dunia JavaScript yang edan ini. Yang saya lihat Jamstack sudah mulai populer sehingga ada banyak kesempatan di sini. GraphQL juga populer sebagai sumber data (kita akan bahas di lain waktu) dan terkait erat dengan JavaScript. Kerangka pengembangan web Svelte naik daun juga. Mungkin Anda bisa membangun kerangka pengembangan di atas Svelte seperti Nuxt.js di atas Vue, atau seperti Gatsby di atas React? Deno sebentar lagi akan rilis secara resmi. Apakah Deno akan menyalip popularitas Node.js, hanya waktu yang akan menjawab. Jika Deno bakal sukses, banyak hal yang bisa dibangun di atas pengganti Node.js ini.

Tapi hati-hati, ada sebagian jalan mencari kekayaan di dunia JavaScript yang haram hukumnya.