Categories
confidence startup

Jangan Terintimidasi dengan Lulusan Amerika

Ada apa dengan lulusan Amerika? Memangnya kenapa dengan lulusan Amerika sampai judul ini seakan-akan mencari keributan? Jadi begini, teman. Di dunia perintis (startup) di tanah air, lulusan Amerika itu punya aura khusus. Mereka spesial. Saya juga dulu tidak sadar akan fenomena “lulusan Amerika” di tanah air.

Kalau saya bilang “lulusan Amerika” itu maksudnya adalah lulusan universitas yang ada di negara Amerika Serikat. Jadi lulusan universitas di Kanada atau Bolivia itu tidak masuk hitungan. 🙃

Walaupun judul artikel blog ini adalah “Jangan Terintimidasi dengan Lulusan Amerika”, semangat artikel ini bisa dipakai di situasi yang mirip misalnya: lulusan universitas swasta vs lulusan universitas negeri elit, lulusan bootcamp vs lulusan universitas, lulusan SMA vs lulusan universitas, orang Indonesia vs ekspat, dll.

Mari kita pergi ke masa lalu saya. Beberapa tahun yang lalu, saya mendekap tubuhnya, rambutnya yang panjang membelai wajah saya, suaranya yang manja…. Ooops, salah memori. Maaf, maaf, saya ambil memori yang salah. 😂

Mari kita mulai lagi. Beberapa tahun yang lalu, saya diajak oleh teman saya untuk mendirikan perintis. Salah satu strategi yang mau dipakai oleh dia adalah posisi CEO (Pejabat Eksekutif Utama / Chief Executive Officer) mau diberikan ke lulusan Amerika. Dia dan saya sama-sama lulusan dalam negeri. Alasan dia adalah lulusan Amerika itu punya koneksi ke investor-investor yang kebanyakannya adalah lulusan Amerika. Teorinya adalah lulusan Amerika itu punya komunitas sendiri di mana mereka sering berkumpul bersama (hang-out). Nah, dengan begitu, maka CEO lulusan Amerika itu punya probabilitas yang besar dalam mendapatkan pendanaan karena teman bergaulnya investor-investor. Begitulah teorinya.

Hal itu membuat saya merenung apakah lulusan Amerika itu begitu spesialnya. Terus selama saya bertualang di dunia perintis, saya bertemu dengan beberapa orang yang mau mendirikan perintis. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan Amerika. Saya jadi bertanya-tanya ini pergaulan saya yang bias atau lulusan Amerika itu memang spesial. Jumlahnya itu signifikan, tidak bisa dikategorikan sebagai kebetulan saja. Ada sesuatu dengan lulusan Amerika ini.

Kemudian saya iseng-iseng lihat statistik latar belakang pendidikan (mereka kuliah di mana) para pendiri perintis. Jumlah perintis itu kan banyak sekali ya. Jadi saya batasi perintis yang masuk kategori yunikon (unicorn) dan centaur. Definisi centaur itu perintis yang memiliki valuasi di atas USD 100 juta tapi di bawah USD 1 milyar. Terus saya tidak masukkan perusahaan yang berasal dari korporasi seperti OVO atau Dana.

Kita mulai dari latar belakang pendidikan pendiri yunikon:

  • Gojek: lulusan Amerika
  • Traveloka: lulusan Amerika
  • Tokopedia: lulusan dalam negeri
  • Bukalapak: lulusan dalam negeri

Imbang ya. 2 lulusan dalam negeri vs 2 lulusan Amerika.

Nah, mari kita lanjut ke daftar perintis lainnya:

  • Akulaku: lulusan Amerika
  • Kredivo: lulusan dalam negeri
  • Halodoc: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Sociolla: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Warung Pintar: lulusan dalam negeri
  • IDN Media: lulusan Amerika
  • Modalku: lulusan Amerika
  • Kopi Kenangan: lulusan Amerika
  • Waresix: lulusan Amerika
  • Moka: lulusan Amerika
  • Investree: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Ralali: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Ruangguru: lulusan Amerika
  • Tanihub: lulusan dalam negeri
  • Sayurbox: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Fabelio: lulusan luar negeri non-Amerika
  • Payfazz: lulusan dalam negeri
  • Mekari: lulusan dalam negeri
  • Xendit: lulusan Amerika
  • Fore: lulusan dalam negeri

Nah, nah, sumber informasi dari Linkedin. Jadi kalau pendirinya “berbohong” di Linkedin, yah informasinya menjadi salah. Atau mungkin pendirinya lupa perbaharui pendidikannya di Linkedin. Jadi saya ketik “founder nama perintis” di Duckduckgo atau Google. Terus cek nama pendirinya di Linkedin. Mungkin juga saya lupa cek semua pendirinya. Perhitungannya bisa salah yah.

Selain itu saya mesti jelaskan bagaimana cara saya mengkategorikan pendiri ini lulusan Amerika atau dalam negeri atau luar negeri non-Amerika. Aturan saya agak acak (ad-hoc). Misalnya si A, kuliah S1 di dalam negeri, terus S2 di Amerika, saya hitungnya lulusan Amerika. Terus ada lagi kasus pendiri S1 di Amerika terus S2 di Eropa, dan pasangan pendiri lainnya kuliah di Amerika saja. Nah, itu saya hitungnya lulusan Amerika. Nah, terus ada lagi pendirinya bukan WNI, tapi orang luar. Yah, wajar sih, dia kuliah di luar. Itu tetap saya hitung.

Idealnya hitung-hitungan begini tidak boleh binary (hitam atau putih). Mesti pakai berat (weight) atau spektrum (hitam – abu-abu – putih). Jadi pendiri S1 di Eropa, terus S2 di Amerika, itu mungkin hitungannya 60% lulusan Amerika, 40% lulusan luar negeri non-Amerika. Terus kalau pasangan pendirinya lulusan Amerika saja maka hitungan spektrumnya berubah menjadi 70% lulusan Amerika, 30% lulusan luar negeri non-Amerika.

Tapi itu mesti menunggu saya punya waktu luang. Sekalian juga saya investigasi perintis-perintis lainnya, seperti Qlue, Ajaib, Bukukas, dan lain-lain. Lagi sibuk saya sekarang. Menyelediki latar belakang para pendiri perintis ini bikin cape, tahu gak? Misalnya, saya ketik “founder fabelio” di Google. Terus saya klik artikel pertama di hasil pencarian.

Ketik “founder fabelio” di Google
Nama “founder fabelio” di artikel yang bersangkutan

Nah, saya tinggal ketik “Christian Sutardi”, “Krisnan Lenon”, “Marsel Utoyo” di Linkedin, terus saya lihat pendidikan mereka di Linkedin. Begitu saja? Tidak begitu cepat, Ferguso. Tidak ada nama “Krisnan Lenon” dan nama “Marsel Utoyo” di Linkedin. Ternyata salah tulis. Harusnya “Krishnan Menon” dan “Marshall Tegar Utoyo“. 😑

Nah, grafiknya seperti ini:

Grafik latar belakang pendidikan pendiri perintis centaur

Lihat tidak, lulusan Amerika yang paling banyak. Padahal jika dibandingkan dengan lulusan dalam negeri, lulusan Amerika itu jumlahnya sedikit sekali. Jumlah mahasiswa Indonesia di Amerika itu 9000 lebih (tahun 2020). Sementara itu jumlah mahasiswa terdaftar di dalam negeri itu hampir 7 juta (tahun 2018). Jumlah mahasiswa dalam negeri itu ratusan kali lebih banyak. Kalau digabungkan kedua kategori ini, mahasiswa Indonesia di Amerika itu jumlahnya di bawah 1%. Hal ini mengasumsikan persentase kelulusan mahasiswa di dalam negeri dan Amerika sama ya.

Jadi 50% pendiri yunikon dan 40% pendiri centaur itu lulusan Amerika. ðŸĪ·â€â™‚ïļ

Kalau Anda penasaran terhadap negara-negara di lulusan luar negeri non-Amerika, paling banyak Australia. Selebihnya tersebar merata di Kanada, Jerman, Belanda, Inggris.

Ini konsisten dengan pengalaman anekdot saya di lapangan. Misalnya ada 9 orang yang “berjumpa” dengan saya dan ingin mendirikan perintis, mungkin persentasenya seperti ini: 5 orang lulusan Amerika, 3 orang lulusan dalam negeri, 1 orang lulusan luar negeri non-Amerika. Lulusan Amerika benar-benar mendominasi dunia perintis.

Nah, kembali ke kasus di mana saya diajak mendirikan perintis dan menyerahkan posisi CEO kepada lulusan Amerika, saya tidak tahu seberapa banyak kasus seperti itu. Apakah lulusan Amerika mendapatkan “keistimewaan” dalam mendirikan perintis? Kalaupun ada, apakah jumlahnya signifikan?

Tapi saya bisa menceritakan hipotesis saya bagaimana lulusan Amerika itu bisa mendominasi dunia perintis. Apa sih kelebihan mereka? Dan, sesuai dengan judul artikel ini, bagaimana supaya tidak terintimidasi mereka? Bagaimana cara menetralkan keunggulan mereka dan malah balik mengintimidasi mereka? Minimal apa yang Anda dapat lakukan supaya tidak minder dekat mereka. Lulusan Amerika itu (dari pengalaman saya) pintar-pintar tapi bukan berarti mereka “tidak bisa dikalahkan”. They are not invincible. Jadi kalau Anda “cuma” lulusan dalam negeri, sementara kompetitor Anda lulusan Amerika dan kalian sedang berebut posisi Wakil Presiden (Vice President) di perusahaan tempat kalian bekerja, baca artikel ini sampai selesai.

Ketika berkompetisi dengan lulusan Amerika, kalau Anda tidak dapat mengalahkan mereka, minimal jangan kalah banyak. JANGAN sampai kalah telak. Analoginya, kalau ini adalah pertandingan sepakbola, jangan sampai bernasib seperti Barcelona yang kalah 2-8 dari Bayern Munich. Jangan seperti Brazil yang kalah 1-7 dengan Jerman di semifinal Piala Dunia 2014. Kalah tipis, seperti kalah 1-2, tidak apa-apa. Kalah telak itu bisa merusak psikologi Anda. Kepercayaan diri Anda bisa tidak pulih bertahun-tahun.

Oke, mari kita mulai. Keunggulan pertama dari lulusan Amerika adalah:

Bahasa Inggris

No shit, Sherlock. 😂

Ini adalah medan pertempuran yang paling penting. Cara untuk tidak kalah di medan pertempuran ini gampang. Tapi kalau Anda sampai kalah telak, rusaklah semuanya. Kalau Anda cuma ambil satu hikmah dari artikel blog yang panjang ini, inilah dia: Belajar bahasa Inggris. This is a low hanging fruit. Saya serius. Jangan sampai bahasa Inggris Anda jelek.

Kalau saya adalah kompetitor Anda di perusahaan (misalnya saya lulusan Amerika), maka hal pertama yang akan saya lakukan adalah mencari tahu apakah bahasa Inggris Anda jelek atau tidak. Kalau jelek, saya akan menyerang Anda habis-habisan dari sini. Saya akan membuat Anda berbicara bahasa Inggris di depan rekan-rekan kerja lain dan Anda akan malu sendiri karena Anda salah mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Anda akan ditertawakan oleh orang lain. Anda akan malu sendiri. Hal itu akan merusak rasa percaya diri Anda dalam merebut posisi Wakil Presiden Teknik (VP of Engineering) misalnya.

Anda pasti berpikir kan kita hidup di Indonesia. Kenapa mesti berbahasa Inggris dengan baik di Indonesia? Memangnya bahasa nasional kita sudah berubah? Kan kita sudah mengucapkan Sumpah Pemuda di mana salah satunya menyangkut berbahasa Indonesia.

Jadi begini, teman! Sekarang ini adalah zaman globalisasi. Perusahaan-perusahaan besar seperti Gojek misalnya sudah mempekerjakan orang-orang luar (bukan WNI). Komunikasi mesti pakai bahasa apa dengan mereka? Bahasa Indonesia? Tidak kan. Jadi kalau Anda ingin karir Anda naik, yah bahasa Inggris mesti bagus.

Ini adalah kelemahan utama orang-orang Indonesia. Sebenarnya banyak lulusan dalam negeri yang punya keahlian apik (jika dibandingkan dengan lulusan Amerika). Cuma bahasa Inggris ini menghambat karir mereka. Misalnya teman saya di sebuah perintis internasional yang menerima karyawan jarak jauh (remote) pernah menunjukkan tulisan seorang kandidat. Jadi kandidat ini menunjukkan portfolionya yaitu blog teknikal dalam bahasa Inggris. Masalahnya bahasa Inggrisnya jelek. Tata bahasanya (grammar) banyak yang salah. Malah kalau dipikir-pikir, untuk melejitkan karir, pemrogram-pemrogram Indonesia lebih baik belajar bahasa Inggris ketimbang bahasa pemrograman baru seperti Dart, Go, Deno, atau Solidity.

Lulusan dalam negeri ini seperti Achilles, ksatria Yunani yang paling perkasa, yang membunuh Hector di depan gerbang Troy, tapi akhirnya mati karena pergelangan kakinya dipanah oleh Paris. Jangan sampai mati konyol “dibunuh” oleh lulusan Amerika karena bahasa Inggris Anda jelek.

Belajar bahasa Inggris itu sumber belajarnya banyak sekali. Di Avatar: The Last Airbender, Aang mesti pergi ke kutub utara untuk belajar manipulasi air (water bending). Kalian belajar bahasa Inggris tidak perlu pergi sebegitu jauhnya. Belajar Inggris bisa di rumah. Banyak situs atau aplikasi untuk belajar bahasa Inggris. Saran saya kalau memang harus keluar duit, yah jangan pelit. Ikut kursus bahasa Inggris yang bagus.

Ingat bahasa Inggris itu terdiri dari 4 komponen: baca (reading), dengar (listening), tulis (writing), bicara (speaking). Hanya karena kalian jago baca novel bahasa Inggris, tidak berarti kalian jago berbicara dalam bahasa Inggris. Jadi pastikan semua komponen bahasa Inggris kalian bagus.

Tidak ada alasan bahasa Inggris kalian jelek. Tapi, tapi, mereka kan tinggal di luar negeri (Amerika), sementara saya tinggal di Indonesia. Wajar bahasa Inggris saya jelek. Kalau itu alasan kalian, saya kasih bukti bahwa kalian bahasa Inggrisnya bisa lebih bagus dari lulusan Amerika. Lihat saja lulusan sastra Inggris. Bahasa Inggris mereka (menurut saya) lebih bagus daripada lulusan Amerika.

Nah, kalian tidak perlu ambil jurusan sastra Inggris untuk mengalahkan lulusan Amerika di medan bahasa Inggris. Ambil kursus dari EF, Wall Street English saja sudah cukup.

No money, no problem. Banyak cara untuk berlatih bahasa Inggris tanpa mengeluarkan banyak duit. Untuk melatih kemampuan membaca bahasa Inggris, banyak kan artikel bahasa Inggris di internet. Kamus Inggris juga gratis. Untuk melatih kemampuan mendengar bahasa Inggris, nonton saja Youtube atau dengar siniar (podcast) dalam bahasa Inggris. Melatih kemampuan menulis bahasa Inggris? Tulis artikel di blog / Medium / Substack / WordPress. Berlatih berbicara bahasa Inggris? Cari saja teman berlatih bahasa Inggris. Tidak ada teman? Monolog. Bicara sama tembok.

Lulusan Amerika itu banyak kelebihannya. Tapi Anda tidak boleh kalah bahasa Inggrisnya karena ada kelebihan mereka lainnya yang susah Anda kalahkan. Jadi itulah kenapa saya tekankan jangan sampai bahasa Inggris kalian jelek.

Keahlian (Skill)

Harus saya akui sebagai lulusan dalam negeri, kualitas universitas-universitas di Amerika Serikat lebih tinggi daripada kualitas universitas-universitas di Indonesia.

In other words, water is wet. 😂

Misalnya kalau mereka lulusan fakultas ilmu komputer Stanford, kemungkinan besar kemampuan pemrograman mereka lebih bagus daripada kemampuan pemrograman lulusan fakultas ilmu komputer Bina Nusantara.

Tapi…. ada cara untuk mengalahkan mereka di medan ini, yaitu pendidikan mandiri (self-education). Entah Anda sadar atau tidak, pendidikan sudah lumayan terdemokratisasikan lewat internet. Anda ingin belajar ilmu komputer (computer science)? Ada kurikulum bagi pelajar mandiri. Pembelajaran mandiri bukan cuma berlaku di dunia ilmu komputer. MIT (Massachusetts Institute Technology) mengeluarkan situs MIT Opencourseware di mana Anda bisa belajar material-material mereka (kalkulus, aljabar linear, psikologi, ekonomi, dll) secara gratis. Selain itu dengan biaya rendah (ratusan ribu per bulan) Anda bisa langganan buku-buku di situs O’Reilly. Di sana, Anda bisa ribuan buku teknikal sampai Anda muntah.

Nah, saya sudah berpasangan (pairing) dengan lulusan Amerika dalam pemrograman. Jadi saya tahu seberapa hebatnya mereka. Nah, saya bilang semua materi untuk menjadi pemrogram yang hebat ada di internet. Jadi sebenarnya bahkan kalian tidak perlu kuliah untuk mengalahkan lulusan Amerika. Materi-materi yang saya sudah tulis di paragraf sebelumnya lebih dari cukup untuk mengalahkan lulusan Amerika, dengan catatan kalian benar-benar belajar dan menghabiskan waktu yang sama banyaknya dengan mereka (3-4 tahun). Nah, bagi kalian lulusan dalam negeri, kalian bisa mengkombinasikan pembelajaran kuliah dengan pembelajaran mandiri. Hasilnya super.

Setidaknya untuk domain ilmu komputer, ini adalah medan pertempuran yang harus dimenangi oleh Anda. Titik.

Mereka Lebih Kaya

Lulusan Amerika itu lebih kaya daripada lulusan dalam negeri.

They’re rich. 😂

Saya belum menyelidiki hal ini secara mendalam. Tapi menurut dugaan saya, rata-rata lulusan Amerika itu jauh lebih kaya (atau orang tuanya kaya) daripada rata-rata lulusan dalam negeri. Betul, memang ada lulusan Amerika yang belajar di Amerika karena dapat beasiswa. Tapi kebanyakan lulusan Amerika itu belajar di Amerika berkat kekayaan orang tuanya.

Ini adalah salah satu kelebihan dari lulusan Amerika yang…. susah Anda kalahkan. Makanya ketika saya bilang jangan sampai bahasa Inggris Anda jelek dan gunakan pembelajaran mandiri untuk meningkatkan kemampuan Anda, saya benar-benar serius.

Lebih mudah mana? Belajar bahasa Inggris dan belajar mandiri atau jadi orang kaya? Menurut saya, lebih susah jadi orang kaya ketimbang memperbaiki bahasa Inggris. Ini adalah medan pertempuran yang boleh Anda lepas. Kadang untuk menang permainan catur, Anda harus merelakan bidak Anda.

Koneksi (Networking) Mereka Lebih Kencang

Ini sebelas dua belas dengan kelebihan lulusan Amerika sebelumnya (mereka lebih kaya). Koneksi mereka lebih kencang daripada koneksi Anda yang “cuma” lulusan dalam negeri. I’m sorry. It hurts. But it’s true. 😔

Apa sih yang dimaksudkan dengan koneksi itu? Misalnya lulusan Amerika ini pengen bikin perintis yang membuat aplikasi finansial. Terus orang tuanya menelpon teman-temannya di bank untuk meluangkan waktunya untuk melihat demo aplikasi web anaknya. Belum apa-apa, lulusan Amerika ini sudah punya klien potensial.

Dari lulusan-lulusan Amerika yang saya “jumpai”, mereka rata-rata memiliki koneksi yang kencang, misalnya punya kenalan investor, dan “orang-orang penting” di “tempat-tempat strategis”.

Ini adalah medan pertempuran yang…. adalah tidak apa-apa jika Anda kalah. Membangun koneksi itu susah luar biasa. Misalnya, untuk meningkatkan kosakata bahasa Inggris, Anda tinggal buka kamus, baca kata-kata dan menghafalkannya. Bangun koneksi dari mana? Anda tidak dapat menghubungi Willson Cuaca tiba-tiba dan bilang, “Yo, bro, kita temenan yuk biar koneksi gw gak kalah jauh ama koneksi lulusan Amerika.” Tidak bisa begitu. 😂

Mereka Lebih Percaya Diri

Mereka lebih PD. Misalnya saya mendorong lulusan dalam negeri untuk membuat perintis, jawaban mereka itu seperti ini. “Ah, saya belum punya kemampuan untuk mendirikan perintis. Saya masih harus banyak belajar.”

Nah, lulusan Amerika jawabannya begini, “LET’S DO IT.” Tidak ada keraguan.

Kadang-kadang (sering mungkin) mereka sering melebih-lebihkan aset mereka (kemampuan, koneksi, dll). Misalnya, anggap lulusan Amerika itu punya paman yang kaya. Anggap pamannya punya kekayaan Rp 20 milyar lebih misalnya. Sebenarnya memiliki kerabat seperti paman yang mempunyai kekayaan Rp 20 milyar itu sudah merupakan suatu “prestasi” tersendiri. Berapa banyak orang yang punya paman sangat kaya? Tapi lulusan Amerika masih ada yang melebih-lebihkan hal itu. Dia bilang, “Oh, paman saya punya aset sana sini. Harta dia ratusan milyar Rupiah.” Kira-kira begitu.

Jadi anggap Anda sebagai lulusan dalam negeri dan lulusan Amerika kalau dihitung-hitung nilai intimidasi dari bahasa Inggris, keahlian, kekayaan, koneksi, mungkin perbandingannya seperti ini.

Perbandingan sebenarnya lulusan dalam negeri dan lulusan Amerika

Nah, Anda masih kalah. Tapi perbedannya tidak begitu besar. Lulusan Amerika melebih-lebihkan kelebihan mereka yang sudah lebih sehingga grafiknya seperti ini.

Perbandingan palsu antara lulusan dalam negeri dan lulusan Amerika

Nah, banyak lulusan dalam negeri yang termakan oleh strategi “melebih-lebihkan” lulusan Amerika ini sehingga lulusan dalam negeri merasa makin terintimidasi. Lulusan dalam negeri merasa jarak antara mereka dengan lulusan Amerika teramat jauh (padahal sebenarnya tidak).

Sebagai lulusan dalam negeri, solusinya adalah normalisasi dari apa yang mereka omongkan. Jangan terlalu percaya semua hal yang mereka katakan. Terus jadi lulusan dalam negeri, Anda jangan terlalu rendah hati. Anda tidak perlu kepedean seperti Presiden Donald Trump, tapi cobalah tambah rasa percaya diri di tindakan dan ucapan Anda.

Strategi

Setelah mengetahui kelebihan mereka, saatnya membicarakan strategi bagaimana cara menghindari intimidasi mereka. Kalau perlu, malah Anda sebagai lulusan dalam negeri yang mengintimidasi mereka. 😎

Nomor satu, belajar bahasa Inggris mati-matian. Ini adalah pertahanan Anda yang paling penting. Jangan sampai jebol. Saya serius 100%.

Nomor dua, tingkatkan kemampuan diri dengan pembelajaran mandiri. Saya sudah sebutkan beberapa sumber pembelajaran mandiri di atas. Tapi masih ada lagi yang lain. Misalnya, Coursera, Khan Academy, Edx. Ada juga yang namanya Youtube di mana Anda bisa belajar banyak hal.

Nomor tiga, bangun portfolio Anda. Misalnya dengan menulis blog, membuat video di Youtube tentang hal-hal di industri Anda, dll. Anda dapat juga mengambil S2, misalnya mengambil MBA di Prasmul.

Nomor empat, bangun kekayaan Anda, dengan menabung dan berinvestasi. Jangan terlalu boros dalam hidup Anda. Begini, Anda mungkin tidak akan bisa menyamai kekayaan orang tua lulusan Amerika tapi setidaknya jangan sampai Anda jatuh miskin (gara-gara Anda teledor di finansial Anda). Kalau Anda sampai jatuh miskin, maka misi Anda untuk mengintimidasi lulusan Amerika masuk kategori Mission Impossible. Hanya Ethan Hunt yang sanggup melaksanakannya. Tapi Anda bukan Ethan Hunt.

Nomor lima, karir Anda bisa menjadi penyelamat Anda. Misalnya Anda berhasil menjadi VP of Engineering di perintis terkenal. Maka hal ini bisa menetralkan keunggulan pendidikan lulusan Amerika. Saya kasih kabar gembira. Sebagai lulusan dalam negeri, tidaklah susah untuk mendapatkan posisi ini. Saya sebagai lulusan dalam negeri sempat menjadi CTO. Teman saya, lulusan dalam negeri, menjadi VP of Engineering di suatu perusahaan teknologi yang terkenal.

Nomor enam, bangun koneksi. Begini, koneksi Anda mungkin tidak akan bisa menyamai koneksi lulusan Amerika. Tapi cobalah sebaik mungkin. Cari koneksi di mana? Di perusahaan tempat Anda bekerja. Bergaullah dengan banyak orang. Jangan jadi orang brengsek. Selain itu Anda dapat juga membangun koneksi di internet.

Nomor tujuh, cari medan pertempuran di mana Anda bisa bersinar lebih terang daripada lulusan Amerika. Seperti apa? Nanti saya cerita di bawah.

Studi Kasus

Nah, mari kita lihat 2 studi kasus. Hidup saya dan kasus hipotetis seorang mahasiswa.

Saya sudah bilang kan saya “cuma” lulusan dalam negeri.

Nah, 7 tahun lalu saya ambil tes IELTS untuk melihat kemampuan bahasa Inggris saya. Nilai saya: Writing 6, Speaking 7, Reading 8.5, Listening 8. Not bad-lah. Saya masih terus memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris saya. Tapi untuk medan pertempuran ini, saya merasa aman.

Setelah lulus kuliah, saya tetap menimba ilmu dari mana saja. Saya nonton video-video dari MIT Opencourseware, misalnya video pelajaran algoritma dari Srini Devadas dan Erik Demaine, video pelajaran finansial dari Andrew Lo, dan lain-lain. Saya baca buku-buku dari O’Reilly. Saya beli video-video dari Udemy. Saya ikut kursus akuntansi oleh Brian Bushee di Coursera.

Saya bukan orang pelit. Malah saya sampai bayar ribuan USD untuk ikut 2 Nanodegree dari Udacity, yaitu Self-Driving Car Engineer dan Robotics Software Engineer.

Sertifikat Nanodegree dari Udacity

Mari kita lanjut ke portfolio. Saya sudah menulis buku yang diterbitkan oleh penerbit resmi. Dalam bahasa Inggris pula. Topiknya eksotis pula (tentang Blockchain).

Sampul buku blockchain

Selain itu saya juga sudah menjadi pembicara di PyCon (konferensi Python) dan berkontribusi ke proyek kode terbuka Python dan Django.

Karir saya juga okelah. Saya sempat mengecap rasanya menjadi CTO (Pejabat Teknologi Utama / Chief Technology Officer).

Nah, bicara koneksi, gara-gara jadi CTO, saya diundang ke grup Whatsapp CTO. Sebagian besar anggotanya CTO, tapi ada juga yang menjadi VP of Engineering, dan orang-orang penting di dunia teknologi di tanah air.

Selain itu saya juga membangun produk digital, yaitu PredictSalary, pengaya perambah (browser extension) yang bisa memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Di Chrome, jumlah penggunanya 493. Di Firefox, jumlah penggunanya 87. Jadi total jumlah pengguna produk saya ini hampir 600 orang. Dan saya baru merilis produk ini bulan lalu.

PredictSalary di Chrome web store

Nah, saya juga pandai bermain di media sosial. Posting saya di Linkedin rata-rata dapat 3000-4000 terlihat (views). Tidak jarang saya buat posting yang dilihat lebih dari 10 ribu kali. Misalnya:

Posting Linkedin banyak jumlah dilihatnya

Nah, Techinasia punya jumlah pelanggan buletin (newsletter) sebanyak 100 ribu. Itu sebagai perbandingannya.

Selain itu, saya juga pandai menulis.

Pujian menulis

Saya banyak menerima pujian atas kemampuan menulis baik terhadap blog ini maupun buku Pemrogram Rp 100 Juta saya. Di atas 10 ada kali.

Terus saya juga membangun ketrampilan dan reputasi di bidang yang sangat baru, misalnya Deep Learning dan Blockchain. Kita ambil contoh Bitcon. Pelajaran tentang Bitcoin itu ada di MIT baru tahun lalu. Padahal Bitcoin itu sudah ada 10 tahun lalu. Bayangkan Anda menekuni teknologi Bitcoin beberapa tahun lalu, lulusan Amerika tidak dapat memiliki kelebihan berarti dibandingkan dengan Anda. Karena tidak ada pelajaran Bitcoin di universitas-universitas di Amerika beberapa tahun lalu. Kalau Anda ingin belajar Bitcoin, yah tempatnya di internet. Nah sekarang ini (tahun 2020), yang lagi hot adalah Decentralized Finance (DeFi) di Ethereum. Anda dan lulusan Amerika memiliki start yang sama. Belum ada pelajaran tentang DeFi yang komprehensif di universitas-universitas. Kalian sama-sama harus belajar topik ini dari internet.

Sama dengan Blockchain, teknologi Deep Learning itu juga tergolong baru. Pustaka Tensorflow saja baru dipublikasikan ke umum tahun 2015. Jadi orang-orang yang belajar Deep Learning, start awalnya kurang lebih sama, baik lulusan Amerika maupun lulusan dalam negeri.

Nah, semua hal-hal yang saya sebutkan di atas kalau digabungkan cukuplah untuk mengintimidasi lulusan Amerika. 😛

Betul, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun keahlian, koneksi, reputasi yang saya miliki. Mengintimidasi lulusan Amerika adalah maraton bukan sprint. ðŸĪĢ

Nah, bayangkan ada anak yang baru lulus dari universitas di Amerika, balik ke tanah air, mengajak saya ngopi-ngopi cantik. Dia mau bikin perintis. Karena dia adalah lulusan Amerika dan saya adalah lulusan dalam negeri, maka dia merasa lebih berhak menjadi CEO. Tapi di dunia nyata, orang ngomongnya secara implisit, tidak terang-terangan. Misalnya, “Saya punya kenalan investor A, B, C, dan D.” Ini artinya Anda sebagai lulusan dalam negeri seharusnya tahu diri. 😉

Nah, saya tinggal bilang kelebihan saya dari A sampai Z. Misalnya saya bilang, CEO yang baik itu harus bisa menulis dengan baik, seperti Jeff Bezos. Saya sudah bilang kan saya bisa menulis.

Selain itu saya bisa menetralkan koneksi dia ke investor-investor itu. Dengan kata lain melemahkan kelebihan dia.

https://twitter.com/yoheinakajima/status/1294453363682074625

Saya bisa bilang investor-investor itu sudah terdemokratisasikan. Jadi dia kenal dengan investor-investor itu tidaklah berarti banyak. Mau cari pendanaan? Bisa cari di Linkedin. Atau bisa kirim lamaran ke SurgeAhead, YC, dan masih banyak lainnya.

Tapi di dunia yang nyata, saya tidak akan melakukan hal itu. Saya akan bilang saya tidak tertarik dengan ide perintisnya. Berdebat siapa yang lebih pantas menjadi CEO dengan lulusan anyar Amerika itu seperti berebut mainan. Kekanak-kanakan. Childish. Saya kan orang yang cool 😎. Saya lebih suka mengintimidasi orang seperti Itachi di seri Naruto, yaitu dengan reputasi dan bahasa tubuh.

Tapi contoh di atas kan masih bau kencur. Bagaimana dengan lulusan Amerika yang sudah punya kelebihan lainnya, misalnya posisinya sekarang adalah VP of Sales di perintis yang terkenal. Koneksi dia lumayan kencang, misalnya kenal dengan pejabat-pejabat penting di OJK, bank-bank swasta dan nasional. Tentu saja, dia kenal dengan banyak investor. Dia mau mengajak saya untuk membangun perintis finansial. Apa yang harus dilakukan? Dia mau menjadi CEO karena dia merasa lebih berhak.

Nah, saya tidak memiliki koneksi kencang di dunia finansial jadi saya harus mengajaknya bertempur di medan lain. Misalnya saya bisa mengajaknya untuk membangun perintis di bidang lain. Contohnya saya mengajak dia untuk membuat penggubah video seperti Adobe After Effects di web. Dengan begitu kelebihan dia yaitu koneksi kencang di dunia finansial menjadi tidak berguna. Saya punya daya lebih dalam bernegosiasi karena saya punya kelebihan di bidang perintis ini, yaitu kemampuan pemasaran digital dan kemampuan rekayasa peranti lunak. Iya, seperti di cerita Avatar: The Last Airbender, Katara (water bender) mengalahkan Azula (fire bender) dengan mengajaknya bertarung di tempat yang banyak airnya. Sorry, spoiler. ðŸĪŠ

Katara vs Azula

Nah, tidak berarti saya bisa mengintimidasi semua lulusan Amerika. Ada sebagian lulusan Amerika yang masih mengintimidasi saya misalnya Nadiem Makarim. Jadi misalnya dia mengajak saya membuat perintis, saya rela posisi CEO diambil dia. 😂

Nah, mari kita lihat kasus hipotetis. Anggap Anda adalah mahasiswa aktif di universitas dalam negeri. Ada ungkapan Latin: Si vis pacem, para bellum. Artinya, jika Anda ingin perdamaian, bersiaplah untuk perang.

Perang masih lama. Anda masih kuliah. Tapi Anda harus bersiap-siap menghadapi lulusan Amerika.

Jadi belajarlah bahasa Inggris benar-benar. Belajar ilmu-ilmu dari luar kampus misalnya MIT Opencourseware. Kontribusi ke proyek kode terbuka (opensource) misalnya React. Di contoh ini, saya asumsikan Anda adalah mahasiswa ilmu komputer. Kalau bukan, sesuaikan jenis portfolio Anda. Bangun koneksi dengan ikut webinar lokal. Kalau Anda suka jadi pemengaruh (influencer), bangun reputasi Anda di media sosial. Belajarlah menulis teknikal di blog.

Beberapa tahun sudah lewat. Anda diterima bekerja di sebuah perintis. Salah satu rekan kerja Anda adalah lulusan Amerika. Congkak sekali dia. Hanya karena dia adalah lulusan Stanford, dia pikir dia adalah matahari di mana rekan-rekan kerjanya adalah planet yang mengitari dia. Ketika berdiskusi di sprint sebuah produk, tanpa babibu, dia menggunakan bahasa Inggris padahal semua orang di dalam ruangan itu adalah orang Indonesia. Dengan sabar Anda meladeni dia. Belum tahu dia, nilai rata-rata IELTS Anda adalah 8. 😉

Kemampuan pemrograman Anda (teruji lewat proyek kode terbuka) mulai mengintimidasi dia. Malah Anda yang sering menegur dia karena standar kode dia masih rendah. Anda juga menulis blog teknikal di bagian teknis (engineering) di perintis Anda. Tulisan Anda memancarkan kirana yang menyilaukan mata lulusan Amerika itu. Akhirnya setelah beberapa minggu, lulusan Amerika itu mulai menunjukkan rasa segan dan hormat terhadap Anda.

Jadi tulisan ini adalah hadiah saya di hari kemerdekaan RI yang ke-75 ini kepada Anda, lulusan dalam negeri (ataupun lulusan SMA, lulusan bootcamp) yang minder terhadap lulusan Amerika (ataupun lulusan luar negeri, ekspat). Saya merdekakan Anda dari rantai penjajahan rendah diri!

Ketika berhadapan dengan lulusan Amerika, jangan melihat ke bawah, tapi lihatlah mata mereka dengan penuh kepercayaan diri. Busungkan dada Anda. Berkacak pingganglah. Berjalanlah seperti Tom Cruise yang penuh kepercayaan diri di film Top Gun. ✈ïļ

Terbanglah ke langit yang biru. Jadilah legenda.

Dirgahayu RI! ðŸ‡ŪðŸ‡Đ

Categories
startup wealth

Startup Mainan Anak Orang Kaya?

Blog ini merupakan lanjutan dari artikel “Kenapa Susah Cari CTO?” yang terpicu oleh kicauan seorang pemodal ventura. Nah, ada satu balasan kicauan itu menyinggung stereotipe latar belakang pendiri perintis, yaitu berasal dari keluarga yang kaya. Dengan kata lain, anak orang kaya yang (kebanyakan) mendirikan perintis.

Sebagian dari Anda pasti bilang, tidak semua kicauan itu sudah pasti benar. Banyak berita bohong beredar di Twitter. Masakan tiap kicauan mesti dibahas dengan satu artikel blog. Betul. Tapi stereotipe ini bukan cuma beredar di Twitter. Ada orang yang bilang ke saya secara langsung ke muka saya sentimen yang serupa. Mari kita bahas topik ini. Tentu saja kita juga akan membahas kerangka pemikiran dan perilaku dalam menghadapi stereotipe ini (jika benar).

Sebelumnya, seperti biasa, saya mesti minta maaf karena judul artikel blog ini menggunakan kata “startup” yang sebenarnya ada padanannya di bahasa Indonesi, yaitu “perintis”. Apa boleh buat? Untuk memasarkan artikel blog ini di media sosial, saya terpaksa “nginggris” soalnya kata “startup” bisa memberikan dampak emosional yang lebih dalam ketimbang kata “perintis”. Maafkanlah saya, Ibu Pertiwi, karena saya terpaksa berkhianat bahasa dalam mengejar jumlah penglihatan (views) artikel ini. 🙏

Oke, kembali ke topik. Baru-baru ini saya baca artikel kisah seorang pendiri perintis yang berhasil mendapatkan pendanaan satu trilyun Rupiah lebih baru-baru ini. Saya baca kisahnya dan saya buka Linkedin-nya. Sekolah di JIS (Jakarta Intercultural School, dulu namanya Jakarta International School), terus kuliah di Amerika Serikat. Balik ke tanah air, beberapa tahun buka restoran yang lumayan mewah (butuh modal beberapa milyar Rupiah). Kemudian barulah dia mendirikan perintis tersebut.

Tapi itu cuma satu contoh, kata Anda. Betul. Kemudian saya iseng-iseng buka Linkedin CEO sebuah perintis yang valuasinya di atas sepuluh trilyun Rupiah. Sekolahnya di mana? JIS. Kuliah di mana? Amerika Serikat.

Tapi itu baru dua contoh, kata Anda. Betul. Lagipula kuliah di Amerika Serikat belum tentu juga Anda anak orang kaya. Bisa saja Anda pintarnya selangit sehingga dapat beasiswa untuk kuliah di Amerika Serikat. Maka dari itu kita harus menggunakan probabilitas dalam menebak apakah pendiri perintis ini anak orang kaya atau bukan.

Mari kita ambil contoh pendiri yang kebetulan juga CEO 4 yunikon (unicorn) di masa awal. Nadiem Makarim, adalah anak seorang pengacara, lahir di Singapura, kuliah di Amerika Serikat. Saya tidak berani bilang Nadime 100% anak orang kaya. Tapi kemungkinan besar (ingat hukum probabilitas) dia adalah anak orang kaya. Lagipula, jika Nadiem benar anak orang kaya, hal itu tidak mengurangi prestasi cemerlang dia dalam mendirikan perusahaan Gojek. Saya dalam posisi dia belum tentu bakal sesukses dia. Dia berhasil jadi pendiri dan CEO Gojek, perusahaan decacorn. Dalam posisi dia, mungkin saya bakal jadi penulis blog yang sukses. Sama-sama orang sukses, tapi skalanya beda. 🙃

Kemudian Ferry Unardi, kuliah di Amerika Serikat. Belum tentu anak orang kaya. Bisa saja dia dapat beasiswa.

Jika Anda bandingkan Nadiem dengan Ferry, probabilitas Nadiem anak orang kaya itu jauh lebih besar daripada probabilitas Ferry. Nadiem memiliki 4 faktor: anak seorang pengacara, kuliah di Amerika Serikat, bersekolah di SMA internasional di Singapura, kuliah di Ivy League. Ferry cuma punya 1 faktor saja: kuliah di Amerika Serikat.

Nah, kabar gembira bagi Anda yang bukan anak orang kaya tapi bercita-cita mendirikan perintis yunikon, dua pendiri yunikon sisanya (kemungkinan besar) bukan anak orang kaya.

Tambahan info (10 Agustus 2020): Teman saya bilang Ferry berasal dari keluarga menengah. Teman saya ini punya hubungan dengan orang-orang di Padang yang “tahu” tentang keluarga Ferry.

William Tanuwijaya, sempat jaga warnet sebelum jadi Bos Tokopedia. Achmad Zaky itu orang tuanya adalah guru SMP. Ingat ya, kita mesti melihat kisah mereka dengan kacamata probabilitas. Saya tidak bilang mereka 100% sudah pasti bukan anak orang kaya tapi kemungkinan besarnya mereka bukan anak orang kaya. Setahu saya, guru SMP susah jadi orang kaya. Saya juga tidak ingat ada anak orang kaya yang sengaja jaga warnet. Banyak orang yang senang membaca kisah mereka ini. Bukan anak orang kaya, tapi akhirnya bisa punya kekayaan sampai Rp 1 trilyun lebih dengan mendirikan perintis. Benar-benar kisah Cinderella.

Nah, imbang ya. 2 (kemungkinan besar) anak orang kaya dan 2 (kemungkinan besar) anak bukan orang kaya berhasil mendirikan (dan menjadi CEO) yunikon.

Selain itu ada seorang pendiri perintis yang terkenal, sampai masuk 30 under 30 Forbes, sempat bercerita, dia bukan anak orang kaya (secara implisit). Dia bilang dia dari kampung. Kuliah di Jakarta.

Terus saya hitung teman-teman saya yang mendirikan perintis, lulusan Amerika Serikat berimbang jumlahnya dengan lulusan dalam negeri.

Apakah terbukti bahwa stereotipe pendiri perintis itu anak orang kaya itu tidak benar? Sebelum menulis artikel blog ini, saya punya rencana untuk buat daftar perintis di Indonesia berikut pendirinya. Terus saya buka Linkedin mereka satu persatu. Lalu saya buat mesin prediksi penggolong (classifier) anak orang kaya atau bukan berdasarkan profil Linkedin mereka. Iya, kayak pembelajaran mesin (machine learning) atau pembelajaran dalam (deep learning).

Fitur-fiturnya seperti kuliah di negara mana, kuliah di Ivy League atau tidak, SMA di sekolah internasional atau tidak. Kalau di Amerika Serikat, kuliahnya di Pantai Barat (West Coast), Pantai Timur (East Coast), atau di tengah-tengah. Orang yang kuliah di West Coast atau East Coast memiliki kemungkinan yang lebih besar sebagai anak orang kaya ketimbang orang yang kuliah di tengah-tengah, misalnya MidWest. Jangan tanya saya dapat dari mana hipotesis ini. Terus kalau dia dapat beasiswa, kemungkinan dia sebagai anak orang kayanya berkurang.

Aplikasi ini akan saya namakan PredictRichParent. 😂

Kalau Anda tidak tertawa, mungkin Anda tidak memiliki konteksnya. Mari saya kasih Anda konteksnya. Saya ini pembuat pengaya perambah (browser extension) PredictSalary yang berfungsi untuk memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan. Ke depannya, saya mau tambah fitur untuk memprediksi gaji dari profil Linkedin. Nah, sekarang Anda boleh ketawa. 😂

Jadi sekarang ini saya masih tidak tahu mana yang lebih banyak: anak orang kaya atau anak bukan orang kaya yang mendirikan perintis. Saya sih pengen lihat distribusi normal kekayaan orang tua mereka. Apakah imbang? 50% vs 50%? Atau anak bukan orang kaya itu sedikit (cuma masuk ekor distribusi normal saja)? Suatu hari saya akan melakukan riset terhadap hal ini. Tapi saat ini saya sibuk.

Lalu memangnya kenapa kalau pendiri perintis itu kebanyakan anak orang kaya? Yang penting anak bukan orang kaya tidak dilarang kan bikin perintis. Betul sih. Cuma begini, teman. Apakah kita sebagai masyarakat menginginkan hal itu? Jika kita memberikan kesempatan lebih besar kepada anak bukan orang kaya untuk mendirikan perintis, mungkin masyarakat kita akan menjadi lebih kaya.

Tapi mereka (anak bukan orang kaya) tidak dilarang bikin perintis kan? Betul, tapi ada banyak hambatan yang menghalangi mereka mendirikan perintis.

Misalnya, menjadi pendiri perintis, sebelum mendapatkan investasi, maka Anda tidak akan digaji. Anda harus menggunakan tabungan Anda. Jika Anda anak bukan orang kaya, maka Anda harus berhemat. Anda pikir 1000x sebelum keluar dari pekerjaan Anda apalagi jika Anda punya tanggungan. Tapi jika Anda anak orang kaya, kualitasi hidup Anda tidak akan turun. Anda bisa minta uang kepada orang tua. Anda masih bisa liburan di Eropa atau Amerika Latin (sebelum pandemi) sebagai pendiri perintis.

Kalaupun Anda mendapat investasi awal (seed funding) di perintis Anda, gaji Anda tidak akan tinggi. Kisarannya Rp 10 juta – Rp 15 juta. Bahkan dari sumber tidak resmi, gaji pendiri perintis bisa di bawah Rp 10 juta. Nah, bagi anak orang kaya, tidak ada bedanya. Orang tua Anda masih bisa mensubsidi Anda. Tapi kalau Anda bukan anak orang kaya, apalagi jika Anda harus memberikan uang kepada orang tua setiap bulan, maka gaji rendah akan menurunkan kualitas hidup Anda.

Manajemen resiko anak orang kaya dan anak bukan orang kaya itu beda. Yang satu bisa menolerir beta yang sangat tinggi. Yang lain tidak punya kemampuan itu.

Ambil contoh: si A, kuliah di Amerika Serikat, terus balik ke tanah air, kerja di perusahaan B selama 1 tahun (kurang-lebih). Setelah itu dia membangun perintis. Dia bangun perintisnya bukan dengan laptop di kamar kos. Dia menyewa satu ruko. Rukonya direnovasi sampai habis ratusan Juta rupiah. Kemudian dia berusaha membajak banyak orang dari perusahaan tempat kerja dia dulu.

Tentu saja, dia belum tentu anak orang kaya. Mungkin tahun 2012, dia menambang Bitcoin. Mungkin dia menulis novel yang laris manis dan royaltinya membuat dia mampu kuliah di Amerika Serikat. Sekali lagi, kita harus menggunakan probabilitas melihat kasus dia. Semuanya itu cuma kemungkinan.

Lagipula kalau dia benar-benar anak orang kaya, tidak ada yang salah dari apa yang dilakukannya. Dia tidak melanggar hukum. Anak orang kaya sah-sah saja kan menyewa ruko dengan uang orang tuanya dan membangun perintis. Kadang saya berpikir, enak banget hidupnya. Tapi saya turut bergembira saja atas rejekinya. Warren Buffet bilang ada yang namanya Ovarian Lottery. Dari rahim mana Anda lahir itu menentukan kesuksesan Anda.

Jadi apa inti artikel blog ini? Artikel ini tidak dapat menjawab apakah benar kebanyakan pendiri perintis itu anak orang kaya atau bukan. Lalu apa gunanya artikel ini? ðŸĪĢ

Sabar, woi, sabar. Kita akan memasuki bagian terbaik dari artikel ini. Kita akan menggunakan kerangka berpikir yang tepat jika kita adalah anak orang kaya atau anak bukan orang kaya ketika kita ingin membangun perintis.

Jika Anda Adalah Anak Orang Kaya….

Mintalah modal kepada orang tua Anda untuk membangun perintis.

Saya tahu apa yang Anda pikirkan. No shit, Sherlock.

Nasihat ini mungkin terlihat tidak berguna. Jadi saya tambahkan nasihat lainnya.

Jangan merasa bersalah ketika minta modal untuk bikin perintis dari orang tua Anda jika Anda adalah anak orang kaya.

Jangan terlalu memusingkan kata orang lain jika Anda dianggap memiliki privilese. Terus kenapa jika Anda punya privilese?

Apakah Anda harus mengambil sikap Adrian Veidt (Ozymandias) di cerita Watchmen? Adrian, “the smartest man on the planet“, menolak warisan dari keluarganya. Dia membangun perusahaannya dengan sumber daya dia sendiri.

Tapi itu kan cerita fiktif. Di dunia yang sebenarnya, sebagian besar orang menerima bantuan orang tua untuk membangun bisnis, termasuk Jeff Bezos. Dia menerima $300.000 dari orang tuanya untuk membangun Amazon.

Jadi jangan merasa tersinggung ketika ada orang bilang, peran orang tua yang kaya berperan besar dalam kesuksesan Anda sebagai pendiri perintis. So what? Orang tua bekerja keras kan demi masa depan anaknya.

Saya sebagai anak bukan orang kaya malah berharap anak orang kaya mengambil resiko yang jauh lebih besar ketika mendirikan perintis. Jangan bermimpi terlalu rendah. Kebanyakan malah mereka (anak orang kaya) membuat saya kecewa karena mereka main terlalu aman.

Jika orang tua Anda kaya (misalnya mereka punya ratusan milyar Rupiah), saya berharap Anda membuat perintis yang tidak terjangkau oleh anak-anak bukan orang kaya seperti saya. Misalnya: membuat prototipe mobil listrik swakemudi, exoskeleton (seperti Iron Man atau Edge of Tomorrow), manipulasi gen CRISPR, dan ide-ide lainnya yang butuh banyak duit. Jika orang tua saya punya ratusan milyar Rupiah, saya akan minta Rp 50 milyar untuk bikin prototipe mobil listrik swakemudi.

Tidak semua orang “beruntung” terlahir dari orang tua yang punya ratusan milyar Rupiah. Jadi manfaatkan privilese Anda itu semaksimal mungkin. Malah jika Anda terlahir dari orang tua konglomerat yang punya harta trilyunan, bagusnya menurut saya, Anda mencoba untuk membuat perusahaan satelit atau roket. Tapi kalau Anda “cuma” mau bikin mobil listrik, juga tidak apa-apa. 😉

Jika Anda Adalah Anak Bukan Orang Kaya….

Jangan khawatir. Masih ada harapan bagi Anda yang ingin bikin perintis. Anda harus menggunakan strategi yang apik. Anda harus bekerja lebih keras. Anda harus lebih kreatif.

“Bukan orang kaya” itu maksudnya orang yang tidak miskin dan punya harta di bawah Rp 10 milyar. Ada tingkatannya “bukan orang kaya” ini. Orang tua saya tidak kaya. Tapi jika saya bangkrut, saya masih bisa menelpon mereka untuk minta dikirimkan uang sehingga saya tidak mati kelaparan. Tapi saya tidak bisa minta uang untuk bikin restoran (sekitar Rp 2-4 milyar). Saya tidak bisa minta uang dari mereka untuk beli mobil Tesla. Mereka tidak ada uangnya. Saya tidak perlu kirim uang ke mereka karena mereka masih punya penghasilan. Terus di bawah tingkatan ini ada teman saya yang harus kirim uang ke orang tuanya tiap bulan karena orang tuanya sudah pensiun dan tidak punya penghasilan. Dana pensiunnya habis karena satu dan lain hal. Privilese saya lebih tinggi daripada privilese teman saya. Tapi privilese kami jauh lebih rendah daripada privilese anak konglomerat. Privilese ini bukan hitam dan putih, tapi spektrum. Ada warna abu-abu (#d3d3d3) di tengah-tengah warna hitam (#000) dan warna putih (#fff).

Nah, kalau Anda tidak punya orang tua yang kaya, Anda bisa menikah dengan orang yang kaya atau anak orang kaya. Saya punya teman saya yang menikah dengan anak orang kaya dan dia diberi modal oleh mertuanya untuk membangun bisnis (bukan perintis, tapi bisnis tradisional). Anda boleh percaya atau tidak. Pernikahan adalah cara yang sah dan tidak melanggar hukum untuk menjadi kaya. ðŸĪĢ

Kalau Anda tidak dapat menemukan orang kaya atau anak orang kaya yang bersedia menikah dengan Anda, jangan menangis. Anda cari teman yang bakal menjadi super kaya di masa depan dan Anda mesti berbaik hati kepadanya. Hal ini penting karena di masa depan teman Anda kalau sudah menjadi super kaya, dia mungkin akan membayar hutang budi kepada Anda dengan uang yang banyak, seperti George Clooney. George waktu masih berjuang menjadi aktor di Hollywood sempat sampai tidur di sofa temannya. Kemudian beberapa tahun lalu dia memberikan uang 1 juta dollar masing-masing ke 14 teman baiknya. Pajak untuk tahun pertama dibayar George. 😛

Anda tidak punya teman yang seperti itu? Jangan khawatir. Kita kembali ke orang tua Anda. Mungkin mereka tidak dapat memberikan beberapa milyar Rupiah kepada Anda. Tapi membangun perintis dengan peranti lunak tidak selalu membutuhkan uang banyak.

Suatu hari di masa lampau, saya berbincang dengan dosen di universitas di Jakarta. Kami mendiskusikan satu kasus yang lucu. Jadi ada lulusan universitas itu yang mendapat tawaran kerja dengan gaji sekitar Rp 8 juta. Ini adalah angka yang bagus untuk lulusan anyar. Tapi ditolaknya karena uang saku dari orang tuanya lebih besar daripada Rp 8 juta. Orang tuanya bakal menyetop pemberian uang saku jika dia mendapatkan pekerjaan.

Bukan soal manjanya lulusan anyar itu yang mau saya bahas. Tapi saya tahu banyak orang tua yang sanggup membayar biaya hidup anaknya tapi mereka bukan orang kaya. Mungkin kita sebutnya kelas menengah atau golongan sejahtera tapi tidak kaya.

Hal ini penting untuk Anda sadari karena membangun peranti lunak tidak selalu mahal. Anda hanya perlu komputer yang lumayan terjangkau. Taruhlah laptop belasan juta Rupiah. Ditambah dengan biaya hosting di peladen sekitar Rp 1 – 2 juta per bulan. Jadi 10 juta Rupiah per bulan (di luar biaya laptop) itu sebenarnya cukup untuk memodali Anda dalam membangun perintis. Banyak orang tua yang tidak kaya sanggup bayar Rp 10 juta per bulan.

Beda ketika Anda ingin bikin bank yang butuh modal minimal Rp 3 trilyun atau restoran mewah yang butuh modal milyaran Rupiah.

Contoh peranti lunak yang dapat dibangun dengan biaya terjangkau? PredictSalary. Dalam mengembangkan PredictSalary, saya tidak membutuhkan duit yang banyak. Saya hanya butuh komputer yang harganya sekitar Rp 30 juta lebih (biaya satu kali di depan) dan biaya hosting yang masih di bawah Rp 1 juta per bulan. Dan lihatlah…. PredictSalary sudah digunakan oleh banyak orang. Jumlah pengguna PredictSalary sekitar 500 orang (82 di Firefox + 413 di Chrome) tanggal 10 Agustus 2020.

Jumlah pengguna PredictSalary di Firefox
Jumlah pengguna PredictSalary di Chrome

Betul, PredictSalary masih belum menghasilkan uang. Aplikasinya saja belum genap satu bulan (baru dirilis pertengahan Juli 2020). Tapi jumlah pengguna yang sudah setengah ribu membuat saya bahagia. Dan orang tua saya tidak kaya. Moral dari cerita saya adalah Anda tidak butuh duit yang banyak untuk membuat peranti lunak yang memberi nilai kepada banyak orang, seperti PredictSalary. Biaya paling besar dari PredictSalary adalah biaya jasa rekayasa peranti lunak itu tapi karena saya adalah perekayasa peranti lunak itu sendiri, maka saya tidak perlu bayar biayanya. 😛

Terus ada orang yang bikin peranti lunak seperti After Effects tapi berbasis awan dan dia membutuhkan waktu 11 bulan.

Bisnis pengembangan penggubah teks Sublime juga tidak membutuhkan biaya besar (di luar biaya hidup perekayasa peranti lunaknya).

Jadi dengan asumsi Anda adalah perekayasa peranti lunak yang kompeten, banyak jenis perintis yang bisa Anda kembangkan. Anda hanya perlu meminta orang tua menanggung biaya hidup Anda selama 1-2 tahun. Nanti kapan-kapan saya bikin daftar ide perintis yang bisa dikerjakan dengan biaya sangat murah (dengan asumsi Anda adalah perekayasa peranti lunak itu sendiri).

Masalahnya adalah kebanyakan orang tua tidak bisa melihat nilai yang bisa diberikan oleh peranti lunak. Bisnis restoran itu jelas. Ada makanannya. Ada tempat makannya. Bisnis pembuatan penggubah teks seperti Sublime…. Semoga berhasil membujuk orang tua Anda untuk melihat nilai yang dapat diberikan oleh penggubah teks seperti Sublime. Saran saya adalah edukasi yang penuh kesabaran. Tunjukkan banyak orang yang jadi kaya dengan membuat peranti lunak.

Tapi ingat ada beberapa peranti lunak yang terlalu mahal untuk dikerjakan oleh anak bukan orang kaya seperti kita. Misalnya jangan coba-coba berpikir untuk membuat kompetitor TikTok. Biaya hosting videonya bakal membuat Anda bangkrut. Selain itu algoritma daftar videonya butuh biaya besar.

Jika orang tua Anda tidak sanggup atau tidak mau menalangi biaya hidup Anda selama Anda membangun perintis, masih ada cara lainnya.

Investor-investor yang mau memberikan pendanaan itu semakin banyak jumlahnya. Dulu mungkin Anda bisa berkilah bahwa hanya anak orang kaya yang punya koneksi ke investor-investor. Tapi sekarang akses ke investor-investor itu sudah lebih terdemokratisasikan. Baru-baru ini Sahil Lavingia, pendiri Gumroad, menyediakan pendanaan awal ke perintis. Belum lagi SurgeAhead, YCombinator. Dan masih banyak investor-investor lainnya. Mungkin kapan-kapan saya bikin daftar investor yang bisa Anda ganggu buat perintis Anda.

Tapi kalau tidak ada investor yang mau kasih dana kepada Anda? No investor, no cry. Anda bisa mengumpulkan duit dari gaji sebagai karyawan bergaji mahal di yunikon atau perusahaan teknologi lainnya. Manajer insinyur (engineering manager) bisa dapat gaji di atas Rp 50 juta per bulan. Taruhlah biaya hidup Anda Rp 10 juta. Anda punya Rp 30 – 40 juta untuk ditabung per bulan. Anda bekerja 1 tahun, Anda sudah bisa mengumpulkan harta Rp 300 juta lebih. Ini adalah biaya hidup Anda selama 2 tahun. Itu sudah lebih dari cukup untuk membangun perintis (asal Anda tidak mencoba bersaing dengan TikTok). Untuk menjadi Engineering Manager (EM) bergaji mahal biasanya Anda butuh pengalaman 10 tahun. Yah, lama sih. Tapi setidaknya jalan tersedia bagi Anda.

Jika Anda bekerja di perusahaan sebagai karyawan bergaji mahal, maka Anda tidak akan punya waktu lagi untuk mengerjakan perintis. Anda harus menunggu pada saat Anda mundur dari perusahaan. Anda bakal terlalu sibuk di perusahaan. Energi dan waktu Anda bakal terkuras.

Maka dari itu ada cara lain selain bekerja sebagai karyawan dalam membangun perintis. Anda tidak bekerja sebagai karyawan, tapi Anda mencari penghasilan dari tempat lain dan bekerja secukupnya. Misalnya, ada jalan bagi perekayasa peranti lunak untuk mendapatkan uang Rp 4 juta lebih selama dua hari. Jika biaya hidup Anda Rp 10 juta per bulan, makan Anda cukup bekerja selama 6 hari per bulan dan sisa 24 harinya tersedia bagi Anda untuk membangun perintis. Caranya seperti apa akan dibahas di artikel mendatang. Sabar ya!

Hidup memang tidak adil. Ada yang punya orang tua kaya, ada yang tidak. Tapi jangan biarkan hal ini merintangi ambisi Anda untuk mendirikan perintis. Jika orang tua Anda tidak kaya, anggap saja Anda sedang memainkan permainan video (video game) dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Ketika saya bermain StarCraft 2, pilihan kesulitannya ada 4: Easy, Normal, Hard, Insane. Anggap saja Anda sedang memainkan permainan dengan level Hard sementara mereka yang punya orang tua kaya sedang memainkan permainan dengan level Normal. Anda mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dari mereka dalam menyelesaikan permainan, tapi tidak apa-apa kan. Yang penting nikmati tantangan dalam hidup Anda selama membangun perintis.