Categories
pendidikan perintis

Universitas Terbaik untuk Startup di Indonesia

Jadi 2 tahun lalu, saya membuat posting paling viral di Linkedin. Posting itu mendapat 1600 reaksi, 162 ribu jumlah terlihat, dan 177 komentar. Setelah itu sampai sekarang, saya tidak dapat membuat posting yang mengalahkan posting tersebut.

Berikut posting terviral sepanjang sejarah saya menjadi Linkedinfluencer:

https://www.linkedin.com/posts/arjunaskykok_kuliah-kerjadiunicorn-activity-6528128788478459905-wfSU/

Posting itu saking viralnya sampai membuat aku dihubungi oleh seorang jurnalis dari Kompas. Dan posting aku pun masuk Kompas (daring yah, bukan cetak).

https://edukasi.kompas.com/read/2019/05/14/20334881/5-universitas-paling-banyak-diterima-4-unicorn-besar-indonesia
https://edukasi.kompas.com/read/2019/05/14/20334881/5-universitas-paling-banyak-diterima-4-unicorn-besar-indonesia

Nah, aku menulis posting itu cuma buat ekspresi diri. Iseng-iseng saja. Buat lucu-lucuan saja. Tapi konten posting itu ternyata bagi banyak orang dianggap nyolot dan menyinggung perasaan orang. Setelah dipikir-pikir, iya sih. Bahasa Inggrisnya obnoxious. Cara menulis aku membakar emosi orang karena konten ini berhubungan dengan kelas (status sosial). Kelas lulusan universitas ternama vs kelas “di luar itu”. Tapi cara aku menulis itu juga yang bikin konten itu viral. Menjadi influencer itu kadang harus nyebelin biar bisa viral. 😝

Kalau Anda pergi ke posting Linkedin itu, Anda bisa lihat banyak komentar yang bernada seperti ini, “Aku bukan dari universitas-universitas tersebut. Tapi aku juga sukses,” dan “Aku bukan lulusan universitas. Tapi aku lebih sukses daripada lulusan universitas.

Kita akan membahas tentang peran sebuah universitas terhadap kesuksesan orang. Gulung ke bagian bawah kalau kalian tidak sabar.

Tapi sementara ini mari kita lihat statistik terkini. Apakah sudah berubah. Statistik ini diambil dari Linkedin. Cari perusahaannya. Terus klik tab People. Lihat bagian “Where they studied“. Perhatikan universitas mana yang mengambil posisi tiga teratas.

Tokopedia

Bukalapak

Traveloka

Gojek

Blibli

OVO

Tiket.com

Apa yang Anda bisa simpulkan? Jika Anda bicara karyawan unicorn, maka lulusan universitas yang paling banyak diterima adalah:

  1. Universitas Indonesia
  2. Institut Teknologi Bandung
  3. Universitas Bina Nusantara

Nah, di posting viral Linkedin saya, ada komentar seperti ini, “Apa gunanya kesuksesan universitas yang memproduksi banyak karyawan yang diterima di unicorn? Mending jadi pengusaha.” Jadi yang berkomentar ini adalah lulusan universitas di luar tiga universitas tersebut. Dan dia adalah pengusaha.

Tapi saya sudah menganalisa pendiri perintis itu kebanyakannya dari universitas mana. Tiga universitas itu tetap mendominasi. Betul, posisi mereka tidak selalu posisi tiga teratas karena ada yang namanya *batuk* lulusan Amerika *batuk*. 😘

Terus saya juga sudah menganalisa eksekutif (C-level dan VP-level) di perusahaan teknologi besar itu kebanyakan dari universitas mana. Tiga universitas itu juga tetap mendominasi.

Berikut kesimpulan saya. Kalau ini adalah Olimpiade universitas terbaik untuk dunia startup di Indonesia, maka pemenang medali emas, medali perak, medali perunggu-nya adalah:

  1. ITB
  2. UI
  3. Binus

Mungkin ada yang keberatan dengan pemenang medali emas, yaitu ITB. Harusnya UI yang juara. Tapi saya mempertimbangkan juga faktor lulusan ITB yang lebih sedikit daripada lulusan UI. Selain itu, sudah ada pendiri unicorn yang berasal dari ITB (pendiri Bukalapak). Tapi belum ada alumni UI yang berhasil menjadi pendiri unicorn.

Tapi kalau Anda mau pasang UI sebagai juara 1, yah silakan. Tidak perlulah kita bergelut 🤼 soal ini. 😝

Nah, mari kita bahas apakah kuliah perlu menjadi syarat untuk sukses (tidak harus di dunia perintis, tapi di hidup pada umumnya). Hal ini untuk menanggapi komentar-komentar di posting Linkedin saya yang sudah saya sebutkan.

Perlukah Kuliah di Universitas Ternama?

Untuk sukses, perlukah kita kuliah di universitas ternama seperti Stanford, MIT, Carnegie Mellon, Oxford, ITB, UI?

Ada yang mengambil contoh bahwa ada orang yang sukses tapi tidak kuliah di universitas ternama. Betul, ada. Dari analisa di atas, kalian juga bisa lihat ada orang yang berasal dari universitas yang kurang terkenal, tapi bisa jadi pendiri perintis, bisa jadi eksekutif di unicorn, bisa jadi karyawan di unicorn.

Tapi kalau kita bicara statistik, nah, ceritanya berbeda. Kalau Anda kuliah di tiga universitas tersebut, maka peluang Anda untuk sukses di dunia perintis menjadi lebih besar. Tapi kalau Anda bukan lulusan universitas ternama, tidak berarti Anda tidak bisa sukses.

https://www.dealstreetasia.com/stories/indonesia-itb-195458/

Kenapa ITB, UI, dan Binus bisa secara konsisten menghasilkan lulusan yang sukses (entah sebagai karyawan, eksekutif, pendiri, pengusaha) di dunia teknologi, secara pasti saya tidak tahu. Tapi mungkin dosen-dosennya bagus dalam mengajar.

Masih ingat Onno W. Purbo pernah bilang salah satu alasan kenapa Indonesia tidak punya banyak orang yang jago di IT adalah karena kebanyakan dosen mengajarnya tidak bagus. His words, not mine.

Ngga banyak dosen yang bisa ngajar bagus dan bener gitu. Banyak dosen yang ngajar ecek-ecek.”

Onno W. Purbo

Jadi jika Anda kuliah di universitas yang dosennya mengajar ecek-ecek, maka peluang Anda untuk sukses menjadi lebih redup. Tapi Anda masih bisa tetap sukses. Anda bisa belajar sendiri kan? Anda bisa belajar dari buku, Youtube, dan lain-lain.

Tapi berapa banyak orang yang memiliki dorongan tinggi seperti itu? Hitunglah statistiknya. Jumlahnya rendah.

Selain itu, ada faktor networking yang cuma ada di universitas ternama. Networking di sini maksudnya orang yang bisa memberi Anda rekomendasi ke perusahaan atau investor.

Misalnya, Anda kuliah di ITB. Terus Anda bikin aplikasi web yang keren. Terus dosen melihat potensi Anda. Dia menghubungkan Anda dengan investor. Boom. Jadilah perintis. Atau mungkin dia mendorong Anda untuk ikut lomba hackathon. Nama Anda jadi populer. Setelah lulus, Anda diperebutkan unicorn.

Tapi bandingkan ketika Anda kuliah di universitas XYZ. Anda bikin compiler yang bisa mengkompilasi bahasa daerah menjadi bahasa Python. Tapi tidak ada yang menghubungkan Anda dengan investor. Jadilah potensi Anda terlewatkan.

Yeah, life is not fair, buddy.

Perlukah Kuliah?

Sekarang mari kita ubah pertanyaannya. Perlukah kita kuliah untuk sukses? Apakah lulusan SMU/SMK bisa sukses juga?

Mari kita ambil contoh Susi Pudjiastuti. Beliau menjadi menteri di periode 2014-2019 tapi beliau tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Beliau cuma lulusan SMP. Tapi beliau termasuk sukses kan? Sebelum menjadi menteri, beliau menjadi pengusaha perikanan yang sukses sampai mampu membeli pesawat.

Bayangkan saya bilang, “Wah lulusan SMP saja bisa sukses. Mari kita memberi nasihat kepada anak-anak muda untuk tidak perlu sekolah sampai SMA. Cukup sekolah sampai SMP saja.” Apa pendapat Anda?

Nggak gitu kan?

Anda harus lihat bahwa orang seperti kasus Bu Susi tidak bisa diekstrapolasi ke kalangan umum. Tahu tidak kenapa dia tidak lulus SMA? Karena dia ikut demo mendukung golput di pemerintahan Soeharto. Hal itu menunjukkan dia berani mengambil resiko. Ini salah atribut penting seorang pengusaha. Selain itu dia juga berasal dari keluarga pedagang sapi. Jadi setidaknya dia memiliki safety net. Faktor penting lainnya adalah dia ulet bekerja.

Kebanyakan orang memiliki pemahaman yang salah terhadap realita karena kurang mengerti statistik. Betul ada kasus seperti Bu Susi, tapi itu adalah outlier. Secara statistik, ada perbedaan penghasilan antara lulusan universitas dan lulusan SMU. Lulusan universitas mendapatkan penghasilan lebih besar daripada lulusan SMU.

https://money.kompas.com/read/2020/02/25/112300526/gaji-rata-rata-pekerja-ri-berdasarkan-jenjang-pendidikan-sd-sampai-s1?page=all

https://learn.org/articles/what_is_the_average_salary_for_high_school_graduates_vs_college_graduates.html

Yes!!!

Ada orang di timeline Linkedin saya yang kadang-kadang posting bahwa dia sering diremehkan karena bukan lulusan universitas (tidak kuliah). Ada nada kepahitan di posting-postingnya. Terus dia bercerita bahwa dia berhasil menjadi sukses, lebih sukses daripada lulusan-lulusan universitas.

Saya bisa berempati terhadap dia. Saya lulusan Binus, tapi saya juga kadang-kadang diremehkan karena bukan lulusan Amerika di lingkungan startup di Jakarta. Jadi kira-kira saya bisa merasakan emosi dia.

Tapi statistik adalah statistik. Kasus outlier tidak boleh diekstrapolasi ke masyarakat umum.

Kembali ke kasus Bu Susi, coba Anda cek latar belakang pendidikan menteri-menteri kita. Kebanyakan lulusan apa?

Jumlah lulusan sarjana di Indonesia itu masih rendah. Makanya orang-orang Indonesia perlu didorong untuk kuliah. Tentu saja, saya mengerti, tidak semua orang mampu kuliah. Makanya ada beasiswa, pinjaman dana pendidikan, Income Sharing Agreement.

Nah, bagi orang yang tidak mengenyam pendidikan di universitas, barulah kita menyemangati mereka dengan kisah Bu Susi. Tidak kuliah, no problem. Anda masih bisa sukses.

Idealnya, nasihat terhadap anak muda itu seperti ini, “Kalau bisa kuliahlah. Kalau bisa, kuliah di universitas ternama. Tapi kalau cuma lulusan SMA/SMK, jangan berkecil hati. Masih bisa sukses kok dalam hidup.” (Terms and Conditions Apply)

Tapi Mungkin Kuliah itu Tidak Perlu

Jadi ada orang yang skeptis terhadap pendidikan tingkat lanjut. Contohnya Peter Thiel (pendiri PayPal). Dia memberi $100.000 (Rp 1,4 milyar) bagi anak muda untuk putus kuliah supaya bisa jadi pengusaha.

https://www.newsweek.com/2017/03/03/peter-thiel-fellowship-college-higher-education-559261.html

Berikut situs Thiel Fellowship:

https://thielfellowship.org/

Kalau Anda lebih muda daripada 22 tahun, Anda bisa memohon duit $100.000 ini untuk mendirikan perusahaan. Tapi Anda harus keluar (drop out) dari kuliah.

Nah, salah satu lulusan Thiel Fellowship adalah Vitalik Buterin (pencipta Ethereum)!

https://www.coindesk.com/peter-thiel-fellowship-ethereum-vitalik-buterin

Pendiri Figma juga lulusan Thiel Fellowship.

https://techcrunch.com/2013/06/26/21-years-4-million-dollars/

Tapi kita harus hati-hati terhadap kasus seperti ini. Mereka ini adalah orang yang bakal sukses entah kuliah atau tidak. Makanya kasus seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang drop out itu tidak bisa diekstrapolasi ke kalangan umum. Sebelum kalian putus kuliah, apakah kalian serajin dan sepintar mereka? Keluarga mereka juga lumayan berada.

Tapi Kuliah Mungkin Bukan Pilihan Terbaik

Kalau kalian membaca berita-berita tentang pendidikan, banyak kegelisahan di dunia pendidikan sejak pandemi menghantam bumi ini. Kenapa orang kuliah? Selain mendapat gelar sarjana, itu adalah kesempatan untuk menjadi orang dewasa tanpa tinggal bersama orang tua (kebebasan). Biasanya orang kuliah itu harus merantau. Jadi tidak tinggal serumah dengan orang tuah lagi. Yeah!!!! Kuliah juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang lain (networking).

Nah, kalau kuliahnya online, what’s the point?

Sekalian saja, tidak perlu kuliah. Belajar sendiri dari Khan Academy dan Youtube. Banyak materi pembelajaran gratis terutama di bidang ilmu komputer. Anda bisa belajar Ilmu Komputer (Computer Science) dengan mandiri.

Betul, kalau Anda ingin jadi dokter atau pengacara, apa boleh buat. Tapi kalau Anda ingin jadi software engineer dan bekerja di Gojek, Anda tidak perlu kuliah kan? Kurikulum tersedia di internet. Yang perlu Anda butuhkan adalah disiplin, komputer, dan tempat yang tenang untuk belajar.

Ada banyak startup yang bergerak di bidang pendidikan. Anda bisa membayar lebih murah untuk belajar ilmu ketimbang Anda kuliah.

Lalu Anda bilang, kuliah itu perlu karena Anda butuh kredensial. HRD tidak akan meloloskan Anda untuk bekerja di perusahaan kalau Anda tidak punya surat kelulusan kuliah.

Betulkah demikian? Tidak salah 100%, tapi tidak benar 100% juga. Ada kok lulusan SMK yang kerja di Bukalapak. Saya sudah membaca dokumen IPO Bukalapak.

Tapi kalau Anda memperhatikan latar belakang pendidikan eksekutif di Bukalapak, rata-rata mereka lulusan S2 dan S1. So there’s that.

Nah, kabar baik bagi Anda yang tidak suka kuliah, di “sebagian tempat”, orang-orang sudah tidak memperhatikan surat kelulusan kuliah Anda.

https://twitter.com/balajis/status/1387620880893681670

Sebagai software engineer, Anda bisa bikin portfolio di GitHub/GitLab. Sebagai desainer, Anda bisa bikin portfolio di Behance.

Nah, kalau Anda menjadi software engineer di bagian back-end engineering, kredensial mungkin tidak terlalu penting, tapi kalau Anda bergerak di bidang Deep Learning / Data Science / Machine Learning, kredensial masih dianggap penting. Kalau crypto, tidak terlalu penting.

Networking? Anda juga bisa melakukan networking dengan orang-orang penting di internet, misalnya lewat Twitter, Discord, GitHub, Linkedin.

Kesimpulan

Kuliah penting atau tidak penting? Anda mungkin jadi tambah bingung setelah membaca artikel blog ini. Di satu pihak, saya bilang kuliah itu penting. Di tempat lain, saya bilang, kuliah itu tidak penting.

There are nuances in this problem.

Kalau saya jadi figur publik, misalnya Presiden atau Menteri Pendidikan, maka saya akan bilang, kuliah itu penting. Karena saya berbicara dengan masyarakat umum.

Tapi seandainya ada mahasiswi yang memiliki karakter seperti Bu Susi, dan dia bilang dia bosan kuliah. Dia pengen bikin startup dan putus kuliah saja. Kemungkinannya saya akan mendukungnya.

Kita juga tidak bisa tergantung terhadap universitas untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Makanya saya menulis visi saya, yaitu Pendidikan Terdesentralisasi. Orang bisa belajar dari bootcamp atau Youtuber.

Categories
bisnis remote startup

Outsource dan Ambil Dua Pekerjaan Remote Sekaligus

Jadi aku mendapat surat dari fans (awwww wadidawww 😍). Suratnya dalam bahasa Indonesia. Tapi untuk melindungi privasi fans saya, saya ubah kalimatnya dan terjemahkan ke bahasa Inggris:

Dear Pak Arjuna,

I’m one of your fans. Right now I’m X years old and work as a software engineer in a startup in Y sector. I have Z years experience.

I have a question about a crazy idea which is quite risky. I want to ask your opinion about this.

I’m planning to do double, triple, even 10+ jobs on remote working in many companies, and outsource to other people to do the jobs. I think that is a superior way to generate income if you can execute it well.

What do you think, Pak Arjuna? Is it possible? I have done my research and there are some people who have done it. But there is a possibility of failure as well.

I know you’re busy. Thanks for reading this email. I hope I can get your reply.

Best Regards,
XXX

Surat fans

Nah, saya jawab di sini saja karena saya memang punya rencana untuk menulis tentang topik ini.

Remote ini adalah topik 🔥🔥🔥. Kalau Anda mengikuti berita-berita tentang teknologi, maka Anda melihat pola di mana perusahaan pada umumnya mau karyawan-karyawannya balik kantor, sementara karyawan pada umumnya tetap mau bekerja di rumah. Ada pengecualian, di mana karyawan mau balik ke kantor atas keinginan sendiri, dan perusahaan lebih suka karyawan-karyawan bekerja di rumah. Tapi pada umumnya perusahaan (atau manajemen) suka WFO, karyawan suka WFH.

Oke, kembali ke surat fans tersebut, apa yang harus saya jawab?

Apakah saya harus menjawab dengan idealisme? Saya bisa mengutip kalimat dari sebuah film dan mengubahnya sedikit, “It profit a man nothing to give his soul for the whole world…. but for outsourcing jobs!

Terus saya bisa bilang bahwa biasanya kontrak perjanjian kerja itu ada klausul di mana Anda tidak boleh meng-outsource pekerjaan Anda ke orang lain. Anda harus melakukan pekerjaan tersebut dengan darah dan keringat Anda sendiri.

Saya bisa mengkuliahi bahwa kejujuran adalah nilai-nilai yang dicari oleh perusahaan dari karyawan.

Tapi ketika menulis kalimat-kalimat di atas, saya bisa mendengar nada sinis dan sarkastik dari kalian, “Bro, cry me a river. You think companies are innocent? Do you really think they are the beacon of integrity and innovation? Lol.

Betul sih, Anda dan saya sudah mendengar kisah ketika pandemi sedang puncak-puncaknya, perusahaan tetap memaksa karyawan untuk bekerja di kantor (WFO), padahal pekerjaan itu jelas-jelas bisa dikerjakan dari rumah. Perusahaan itu membahayakan kesehatan (dan mungkin nyawa) karyawan-karyawannya. Sementara rencana fans saya ini melanggar kontrak tapi tidak membahayakan kesehatan orang lain.

Di luar masalah pandemi ini, perusahaan juga tidak polos-polos amat. Sebuah perusahaan di fintech misalnya melakukan trik untuk mengakali auditor di tempat mereka. Ada cerita bahwa dari belakang (back-end), mereka mengintervensi proses logging untuk memuaskan hati auditor.

But two wrongs don’t make one right.

Betul. Mari kita lanjut pembahasan kita.

Adakah Orang yang Melakukannya?

Fans saya bilang dia sudah melakukan riset dan melihat bahwa ada sebagian orang yang berhasil melakukannya. Dia benar.

Mari kita lihat anekdot. Teman saya bercerita bahwa teman dia (teman temannya saya) memecat karyawan yang terbukti mengambil dua pekerjaan remote. Ketahuannya gara-gara dia salah kirim pesan ke manajer. Jadi pesan untuk manajer di perusahaan B dia kirim ke manajer di perusahaan A. Dia bekerja untuk perusahaan A dan perusahaan B. Kebetulan manajer di perusahaan A dan manajer di perusahaan B ini berteman. Jadi manajer yang terima pesan salah alamat ini curiga dan mengontak temannya. Ketahuanlah bahwa karyawan ini mengambil dua pekerjaan. Akhirnya dia dipecat.

Anekdot lain. Kenalan saya menerima pekerjaan dari sebuah perusahaan. Tapi dia tidak melepas pekerjaan lamanya. Tapi setelah beberapa bulan, dia melepas salah satunya. Tidak ketahuan sama sekali oleh dua perusahaan tersebut. Jadi ada beberapa bulan dia menerima gaji dari dua perusahaan.

Mari kita lihat kasus di luar anekdot.

https://edition.cnn.com/2013/01/17/business/us-outsource-job-china/index.html

There’s nothing new under the sun. Ada orang di Amerika Serikat yang meng-outsource pekerjaannya ke Tiongkok dan dengan waktu luangnya dia menonton video kucing. Tentu saja dia dipecat. Kalau dia tidak ketahuan, dia tidak akan masuk berita.

Fans saya itu bukanlah satu-satunya orang yang memikirkan rencana ini. Dari dulu sudah ada yang berkontemplasi untuk melakukan hal ini.

https://old.reddit.com/r/cscareerquestions/comments/45f490/has_anyone_ever_secretly_outsourced_their_own_job/

Kasusnya juga tidak sedikit.

https://www.wsj.com/articles/these-people-who-work-from-home-have-a-secret-they-have-two-jobs-11628866529
https://www.wsj.com/articles/these-people-who-work-from-home-have-a-secret-they-have-two-jobs-11628866529

Bahkan ada komunitasnya. 🤣

https://overemployed.com/
https://www.businessinsider.com.au/two-jobs-overemployed-website-discord-2021-8
https://www.buzzfeed.com/meganeliscomb/overemployed-working-two-remote-jobs

Ada dua kategori dari kasus ini. Outsource pekerjaan dan mengambil lebih dari satu pekerjaan. Bisa saja orang cuma melakukan salah satu kategori ini. Kebetulan fans saya ini berniat melakukan dua kategori ini. Mari kita bedah setiap kategori.

Outsource pekerjaan

Orang bisa outsource pekerjaannya ke orang lain. Tapi dia tidak mengambil dua pekerjaan. Dengan waktu luangnya dia bisa menonton video kucing, main Genshin Impacts, menulis pantun, bikin meme.

Kenapa perusahaan tidak suka orang meng-outsource pekerjaannya? Biasanya berhubungan dengan kerahasiaan data perusahaan. Kode (source code) perusahaan itu adalah sumber keunggulan perusahaan. Dengan meng-outsource pekerjaan Anda, orang luar bisa mengintip rahasia perusahaan. Misalnya, oh ternyata perusahaan Gojek atau Traveloka melakukan pengurutan rute dengan algoritma Merge Sort. Maka perusahaan kompetitor bisa mencontek keunggulan mereka.

Bisa juga karena faktor insentif. Perusahaan membayar Anda Rp 30 juta per bulan. Tapi Anda membayar Rp 10 juta ke pemrogram di tempat lain. Asumsi perusahaan dalam membayar Anda itu adalah Anda cukup termotivasi untuk melakukan pekerjaan tersebut. Orang dengan bayaran Rp 10 juta mungkin motivasinya lebih asal-asalan.

Selain itu perusahaan sudah melakukan wawancara teknis terhadap Anda. Tapi orang yang di-outsource itu belum teruji oleh perusahaan. Jadi ada faktor kontrol kualitas.

Pertanyaan muncul.

Bagaimana jika kita meng-outsource pekerjaan kita ke Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)? 🤔

Tentu saja kita bisa berandai-andai apa yang terjadi jika orang yang di-outsource oleh karyawan yang bekerja di perusahaan meng-outsource ke orang lain.

Ada lelucon. Perusahaan A mendapat kontrak membuat aplikasi web dari pemerintah daerah sebesar Rp 5 milyar. Terus perusahaan A lempar ke perusahaan B dengan harga Rp 3 milyar. Terus perusahaan B lempar ke perusahaan C dengan harga Rp 500 juta. Terus perusahaan C lempar ke freelancer dengan harga Rp 50 juta. Terus freelancer lempar ke temannya baru belajar pemrograman dengan harga Rp 10 juta. Terus temannya itu lempar ke tetangganya dengan harga Rp 3 juta. Terus tetangganya…. stack overflow.

Hal ini juga akan membuat banyak orang semakin yakin dengan pilihan hidupnya, yaitu mending menjadi manajer/politisi daripada pembuat/engineer.

Di Indonesia, terdapat pandangan bahwa keahlian berpolitik itu bakal mendapatkan nilai lebih besar daripada pembuat (maker) / engineer. Makanya banyak orang lebih suka menjadi politisi ketimbang insinyur.

https://www.merdeka.com/uang/menko-luhut-sebut-indonesia-krisis-insinyur-lebih-banyak-politikus.html

Tapi kan kita membahas manajer bukan politisi?

Apa definisi politisi? Orang yang menjalankan sistem pemerintahan. Apa definisi manajer? Orang yang mengatur pekerjaan.

Manajer = Politisi

Jadi akhirnya orang-orang Indonesia semakin kehilangan minat untuk menjadi engineer, yang mengakibatkan Indonesia semakin kekurangan engineer, yang mengakibatkan kita mengimpor engineer India.

Mengambil Dua (Atau Lebih) Pekerjaan

Kategori lain adalah orang itu mengambil dua pekerjaan remote sekaligus. Atau lebih. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan outsourcing karena orang yang mengambil dua pekerjaan itu tidak selalu meng-outsource ke orang lain. Dia bisa saja mengerjakan dua pekerjaan itu dengan keringat dan darahnya sendiri.

Bagaimana seandainya dia bisa mengerjakan pekerjaan di perusahaan A dengan efisien sehingga dia hanya butuh waktu 4 jam? Mungkin dia mengubah pola hidupnya, misalnya dia mulai minum suplemen Vitamin C, yang mengakibatkan otaknya bekerja 200% lebih kencang. Atau dia disambar petir sehingga dia mendapatkan kekuatan super di mana dia bisa bekerja jauh lebih efisien? Ini kembali ke pertanyaan filosofis. Apakah karyawan itu boleh melakukan hal lain di sisa 4 jam (asumsi kerja 8 jam sehari). Anggap saja dia tidak mengambil pekerjaan lain. Tapi dia main Genshin Impact. Atau dia bikin pantun. Apakah boleh?

Apakah perusahaan membayar karyawan itu berdasarkan lama bekerja atau nilai yang dihasilkan oleh karyawan tersebut?

Anda bertanya, mana mungkin orang bisa mengerjakan pekerjaan 8 jam dengan 4 jam? Anda bisa melakukannya dengan otomatisasi. Misalnya Anda disuruh mengisi data di berkas Excel. Anda bisa membuat script Python untuk melakukannya. Ada orang yang sudah melakukannya.

https://www.payscale.com/career-news/2016/05/programmer-fired-after-6-years-realizes-he-doesnt-know-how-to-code
https://www.payscale.com/career-news/2016/05/programmer-fired-after-6-years-realizes-he-doesnt-know-how-to-code

Jika saya bisa mengotomatisasi pekerjaan saya sehingga saya cuma butuh 2 atau 4 jam untuk melakukannya, apakah saya boleh bermain Genshin Impact atau bikin pantun atau bikin meme atau mengerjakan pekerjaan dari perusahaan lain dengan sisa waktu saya? Jika tidak, apakah hasil kerja saya bisa dianggap sebagai perpetuity? 🤔

Tapi memang ada perusahaan yang membayar Anda bukan atas nilai yang Anda berikan, tapi mereka membayar Anda atas loyalitas Anda. Jadi Anda harus tunjukkan loyalitas kepada perusahaan dengan berada di kantor 8-10 jam. Tidak masalah nilai yang Anda berikan itu tidak seberapa.

Pengusaha

Pembaca yang budiman mungkin berpikir, kenapa fans saya tidak dianjurkan untuk jadi pengusaha. Ketimbang melanggar kontrak kerja, dia sebaiknya jadi pengusaha software house atau software agency. Atau dia minta promosi jadi manajer ke perusahaan.

Ada beberapa alasan. Mungkin dia bukan anak orang kaya. Dia masih butuh gaji. Saya punya teman saya, anak orang kaya. Setelah kerja beberapa tahun, dia membuka usaha software house. Modalnya dari orang tua. Dia mendapat kliennya dengan bantuan oleh keluarganya.

Tapi kan tidak semua orang anak orang kaya.

Anda mungkin bilang, mau jadi pengusaha tidak boleh curang. Bukan anak orang kaya tidak berarti boleh melanggar aturan. Anda benar. Hidup memang tidak adil. Hanya karena Anda mendapatkan kondisi hidup yang tidak adil, tidak berarti Anda boleh melanggar aturan.

Tapi melihat kisah-kisah pengusaha yang sukses, salah satu faktor yang saya sering lihat adalah mereka melanggar aturan.

Banyak pengusaha yang mendapatkan banyak keuntungan dari penyelundupan (bawa barang dari luar negeri, tapi tidak bayar pajak). Ada teman saya yang punya kode etik seperti ini. Tidak apa berbisnis yang mengandung unsur penyelundupan karena Anda cuma merugikan pemerintah. Tapi haram berbisnis obat-obatan terlarang (drugs) karena bisa menghancurkan hidup orang lain.

Sebelum pandemi, banyak orang berbisnis jastip (jas titipan). Mereka jalan-jalan keluar negeri, misalnya ke Seoul atau Paris. Kemudian mereka membeli barang titipan dan membawanya ke Indonesia. Kemudian mereka mengirim barang tersebut ke klien mereka. Klien mereka membayar biaya premium tambahan. Apakah Anda pikir pebisnis jastip ini membayar pajak barang tersebut pada saat masuk ke Indonesia?

Ini adalah blog tentang dunia perintis (startup). Mari kita berbicara tentang perintis yang melanggar aturan. Salah satu perusahaan teknologi yang paling sukses adalah Gojek. Tahu tidak di hari-hari awalnya Gojek itu melanggar aturan. Motor dan kendaraan beroda dua bukan termasuk angkutan umum. Aturan ini tertuang di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tapi akhirnya aturan ini dilunakkan. Kita bisa berandai-andai apa yang terjadi jika Nadiem Makarim patuh terhadap aturan 100%? Mungkin ketika dia mulai membangun Gojek, dia berpikir, “Wah, motor tidak boleh jadi angkutan umum. Kita tidak boleh melanggar peraturan.” Akhirnya dia batal membangun Gojek.

Pernah dengar kredo startup, “Ask for forgiveness rather than permission.

Banyak perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley yang melanggar aturan kiri dan kanan untuk mengejar pertumbuhan (growth hacking at all cost). Nanti kapan-kapan saya cerita.

Anda bisa anggap fans saya ini memiliki naluri pengusaha. Dia melihat kesempatan dalam kesempitan.

Tapi di sisi lain fans saya ini bisa dianggap sebagai karyawan yang mensabotase perusahaannya sendiri. Saya jadi ingat video TikTok dari pemotivasi, “Bisa bangun gak? Bisa. Bisa jalan gak? Bisa. Bisa makan gak? Bisa. Bisa naik motor gak? Bisa. Berarti bisa ke kantor. Kebanyakan orang yang izin sakit, izin sakit, izin sakit, kebanyakan gak benar-benar sakit. Mereka hanya ingin menyabotase bisnis Anda.

Saya bisa bayangkan artikel saya menjadi materi TikTok. “Hati-hati terhadap karyawan remote. Mereka bakal outsource pekerjaannya. Mereka ingin mensabotase bisnis Anda.”

Oh ya, ngomong-ngomong tentang software house, bagi kalian yang berminat membangun software house, sebentar lagi saya akan menulis bab tentang itu.

https://arjunaskykok.com/buku-pemrogram-rp-100-juta/

Saat ini saya sedang menulis bab tentang NFT. Setelah itu saya akan menulis bab tentang software house. Bab ini didasarkan dari kisah nyata teman saya yang sukses membangun software house.

Efek Makro

Saya bisa bayangkan artikel saya ini adalah anugrah terindah kepada manajemen perusahaan yang tidak suka dengan kerja remote. Mereka ingin karyawan-karyawan balik ke kantor tapi karyawan-karyawan sudah keenakan kerja dari rumah. Kan produktivitas tidak turun. Kenapa harus balik ke kantor.

Benar juga sih. Mereka jadi bingung bagaimana membalas argumen karyawan pro-WFH. Sampai ada artikel saya.

Artikel saya lalu dijadikan sebagai referensi untuk memaksa karyawan-karyawan kembali ke kantor. Benar kan? Mereka tidak bisa dipercaya kerja dari rumah.

Saya bisa bayangkan townhall lewat Zoom di perusahaan A. CEOnya memberi wejangan, “Linkedinfluencer, Arjuna Sky Kok, menulis artikel yang bagus tentang mudharat kerja dari rumah. Maka dari itu, setelah vaksin, kalian harus kembali ke kantor. No debate.”

Atau karyawan masih boleh kerja dari rumah, tapi laptop mereka mesti dipasang aplikasi spyware yang mengirim gambar mereka dari webcam setiap beberapa menit, untuk memastikan mereka benar-benar bekerja.

Kesimpulan

Anda bisa pastikan bakal banyak drama tentang kerja remote. Ada hubungan antagonis antara karyawan dan perusahaan. Tidak semua, tentu saja. Tapi saya bisa merasakan ketegangan di antara mereka.

Tahun itu tahun 2036. Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2036.

https://www.reuters.com/lifestyle/sports/indonesia-launch-new-bid-host-2036-summer-olympics-2021-07-23/

Istri saya hamil tua. Bisnis saya (SwanLove, PredictSalary, blog ini, Pembangun) tidak menghasilkan cukup uang. Akhirnya saya mendengar kata istri saya untuk melepaskan impian saya menjadi pengusaha startup dan mencari pekerjaan sebagai software engineer. Saya melamar di perusahaan YYY di mana fans saya menjadi CEOnya. Perusahaan dia sesukses Crossover. Akhirnya saya diterima karena dia suka membaca blog saya.

Saat koding di hari pertama, saya mulai berpikir, “Bagaimana jika saya meng-outsource pekerjaan saya ke mahasiswa?” 😂

The End. Tirai ditutup.

Categories
pemrogram startup

Engineer Indonesia vs Engineer India

Sebelumnya saya harus minta maaf dulu karena judul artikel ini nginggris. Tapi jika saya memakai bahasa Indonesia yang baku dan benar, maka judulnya jadi aneh. Perekayasa Peranti Lunak Indonesia vs Perekayasa Peranti Lunak India. Insinyur Indonesia vs Insinyur India. Pemrogram Indonesia vs Pemrogram India. Tidak ada yang cocok. SEO artikel ini juga bakal jadi jelek. 😜

Jadi maafkanlah saya, Ibu Pertiwi. 🙏

Topik ini adalah topik yang panas di komunitas engineer Indonesia dan dunia perintis. Dunia perintis Indonesia tergantung terhadap engineer-engineer Indonesia. Misalnya, Gojek.

https://the-ken.com/story/gojeks-indian-engine-got-it-to-10-billion-now-it-wants-to-change-it/
https://the-ken.com/story/gojeks-indian-engine-got-it-to-10-billion-now-it-wants-to-change-it/
Can you enhance that
Can you enhance that
Gojek relied on Indian tech talent to take the company from $100 million to $10 billion
Gojek relied on Indian tech talent to take the company from $100 million to $10 billion

“Indian tech talent” di sini lebih luas daripada sekadar engineer. Ia juga mencakup Product Manager, desainer UI/UX, dan lain-lain. Tapi di artikel ini, kita akan fokus terhadap engineer saja.

Terjadilah perdebatan di dunia perintis tanah air. Apakah kita tidak memiliki cukup engineer Indonesia yang kompeten sampai kita harus mengimpor sebegitu banyak engineer-engineer India?

Anekdot

Saya akan memberi kisah anekdot. Teman saya bilang sebuah perintis (bukan Gojek, yang lain) terpaksa memaksa memakai jasa engineer-engineer India karena engineer-engineer Indonesia tidak bisa deliver.

Terus ada perintis yang baru mendapat pendanaan gila-gilaan (bukan Gojek, yang lain) dan mereka mencari engineer-engineer dari luar Indonesia. Bukan India, tapi Pakistan. Tapi tetap saja. Itu menandakan sesuatu.

Di lain pihak, di sebuah video Youtube, ada orang yang bertanya, “benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?” kepada Bapak Onno W. Purbo. Bagi yang tidak tahu Pak Onno, beliau adalah aktivis dan pakar di dunia teknologi informasi.

SDM IT = Sumber Daya Manusia Information Technology (kalau kalian tidak tahu)

Benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?
Benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?
Zooooom in

Videonya cuma 6 menit. Saya sarankan kalian tonton video jawaban Pak Onno. Tapi saya rangkum jawaban Pak Onno W. Purbo di sini:

  • Dia punya teman yang berkedudukan tinggi (pimpinan) di perusahaan minyak dan gas di Oman (Pertamina-nya Oman).
  • Posisi temannya Wells Capability Development Coach.
  • Pak Onno dikenalkan dengan orang-orang Indonesia di Oman dan orang-orang Indonesia itu hebat semua (menurut dia).
  • Orang Arab ini cari banget orang Indonesia.
  • SDM (terutama di bidang IT) di dunia dari mata orang Arab bisa dibagi menjadi tiga kategori: SDM bule (bagus banget tapi mahal), SDM India/Pakistan (paling murah tapi ngga bagus), SDM Indonesia (murah dan bagus).
  • Ngga banyak orang Indonesia yang benar-benar jago IT.
  • Ngga banyak dosen yang bisa ngajar bagus dan bener gitu. Banyak dosen yang ngajar ecek-ecek.
  • Ada dosen yang ngajar bagus tapi ngga banyak. Akibatnya tidak banyak orang-orang Indonesia yang bagus yang bisa bekerja di luar.
  • SDM India banyak sekali. Kalau dia lagi meeting internasional, di meeting-nya Facebook-lah, meeting conference atau apa, isinya orang India melulu.
  • SDM India/Pakistan itu jago ngomong.
  • Orang India kalau ngomong bahasa Inggrisnya nyerocos lagi. Mereka debat sama bule, orang bule bisa kalahloh. Orang India ngomong jago, tapi kalau disuruh kerja parah.
  • Orang Indonesia ngga banyak ngomong, rata-rata diam. Kerjanya bagus. Orang Indonesia itu rata-rata gigih. Santun, ngga banyak ngomong, kerja keras.
  • Makanya orang Arab lebih suka orang Indonesia daripada orang India.

Nah, kisah dari Pak Onno ini adalah anekdot.

The thing I have noticed is when the anecdotes and the data disagree, the anecdotes are usually right. There’s something wrong with the way you are measuring it

Jeff Bezos

Metode Penelitian

Ini adalah artikel blog, bukan paper. Jadi jangan berharap banyak terhadap keilmiahan dari metode penelitian saya. Saya menggunakan banyak anekdot seperti yang saya lakukan di paragraf sebelumnya. Walaupun begitu, saya juga akan menggunakan data keras dari lapangan yang susah dipungkiri.

Untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih unggul: engineer Indonesia atau engineer India, kita harus memperhitungkan jumlah engineer. Ini bukan seperti Olimpiade di mana masing-masing dari Indonesia dan India mengirim 10 engineer terbaik dan beradu kompetisi pemrograman, misalnya siapa yang lebih cepat membuat kode Red-Black Tree. Jumlah engineer yang dihasilkan negara itu penting.

Walaupun begitu kita juga akan mencoba menganalisa kompetisi antara India dan Indonesia dengan format Olimpiade (the best versus the best). Siapakah yang akan merebut medali emas?

Nah, tidak dipungkiri populasi India itu sebesar 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Populasi India itu 1,4 milyar. Populasi Indonesia itu 270 juta. Kita akan menormalisasikan data dengan perbandingan populasi India – Indonesia untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya. Faktor normalisasi data adalah 5 (lima). Maksudnya begini. Seandainya kita ambil 100 orang secara acak dari India, berapa banyak dari mereka yang merupakan engineer atau sedang belajar ilmu komputer. Begitu juga dengan Indonesia. Kita mau lihat persentase engineer per populasi juga. Jadi bukan cuma jumlah engineer doang.

Jumlah Engineer di Linkedin

Coba kalian cari Programmer atau “Software Engineer” di Linkedin untuk kategori People dan pilih negara Indonesia atau India.

95 ribu Programmer Indonesia di LInkedin
95 ribu Programmer Indonesia
1,8 juta Programmer India di Linkedin
1,8 juta Programmer India
36 ribu software engineer Indonesia
36 ribu software engineer Indonesia
1,8 juta software enginer India
1,8 juta software enginer India

Ambil contoh kata kunci “Software Engineer” di India. Kita bagi angka 1,8 juta dengan 5 sehingga menjadi 360 ribu. Angka itu adalah 10x dari jumlah “Software Engineer” di Indonesia. Dengan kata kunci Programmer, perbandingannya menjadi 4x.

Kesimpulan: persentasi penduduk India yang bekerja (atau yang mau menjadi) sebagai “software engineer” atau “programmer” itu jauh lebih tinggi daripada Indonesia.

Anggap kita ambil 10 ribu orang secara acak dari India, ada sekitar 12 orang yang bekerja atau mau menjadi engineer.

Anggap kita ambil 10 ribu orang secara acak dari Indonesia, ada sekitar 1 atau 2 orang yang bekerja atau mau menjadi engineer.

Dan India punya 5x lebih banyak penduduk daripada Indonesia. 🤯

Betul tidak semua engineer memiliki akun Linkedin. Makanya kita lihat angka engineer dari tempat lain juga.

Google’s Code Jam

Coba kalian pergi ke Google’s Code Jam.

Google’s Code Jam

Klik tombol View Result. Lalu pilih negara India atau Indonesia.

Hasil kompetisi
Indonesia
India

India punya 49 baris, 10 kali lebih banyak daripada Indonesia. Angka 49 dibagi dengan 5 menjadi 10. Berarti dua kali lipat daripada Indonesia. Tapi Anda harus mempertimbangkan distribusi ranking juga.

Leetcode

Leetcode adalah tempat Anda berlatih mengerjakan soal-soal yang bakal ditanyakan di wawancara teknis.

Lihat persebaran orang-orang yang ikut Leetcode dari artikel ini.

Pemain Leetcode

Anda juga bisa melihat data dari halaman Global Ranking.

Global Ranking dari Leetcode

Anda coba jelajahi halaman Global Ranking.

Menjelajahi Global Ranking di Leetcode

Tidak perlu menjelajahi 7440 halaman. Cukup jelajahi 20 halaman pertama dan jangan lupa hitung berapa bendera India dan Indonesia yang Anda temui.

Unicorn

Unicorn adalah perusahaan teknologi dengan valuasi $1 milyar atau Rp 14 trilyun. Bahan bakar utama perusahaan teknologi adalah engineer. Mari kita hitung jumlah unicorn yang dihasilkan India dan Indonesia.

Jumlah unicorn negara-negara
Jumlah unicorn negara-negara

Grafik ini memiliki kesalahan perhitungan di bagian China (makanya angka China itu terlalu rendah), tapi kita membandingkan India dengan Indonesia. Artikelnya dapat dibaca di sini.

Dalam 5 tahun, India menghasilkan 27 unicorn sementara Indonesia menghasilkan 4 unicorn. 27 / 5 itu masih lebih besar daripada angka 4. Ingat, populasi India itu 5 kali lebih besar daripada populasi Indonesia.

Google Summer of Code

Google Summer of Code adalah program bimbingan bagi pelajar di proyek open source. Tahun 2021 ini ada sekitar 1.200 murid yang mendapat kesempatan untuk dibimbing di 199 proyek open source. Anda dapat membaca artikelnya di sini.

Representasi India yang dominan di Google Summer of Code
Murid India dominan di Google Summer of Code

Paling banyak pesertanya dari India. Untuk melihat peserta-pesertanya, Anda bisa pergi ke halaman-halaman proyek open sourcenya. Setelah itu pergi ke salah satu halaman proyek open sourcenya. Anda bisa melihat murid-murid untuk proyek tersebut.

Halaman proyek open source di Google Summer of Code
Halaman proyek open source di Google Summer of Code

Jumlah Lulusan Ilmu Komputer

India menyumbangkan 20% lulusan STEM (Science Technology Engineering Mathematics) ke dunia. 3/4 lulusan STEM itu lulusan ilmu komputer. Indonesia cuma menyumbangkan 1,6% lulusan STEM ke dunia. 20 / 5 itu 4 dan angka 4 itu lebih tinggi daripada angka 1.6. Artikelnya dapat dibaca di sini.

Persentase lulusan STEM

Silicon Valley

Banyak orang-orang yang berasal India (tidak selalu engineer) yang memegang posisi penting di perusahaan-perusahaan Silicon Valley. Contoh: Sundar Pichai (CEO Google/Alphabet), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe).

Bukan cuma CEO. Banyak posisi penting diisi oleh orang yang berasal dari India.

Halaman Summit Machine Learning
https://aws.amazon.com/events/summits/machine-learning/

Dua orang di gambar atas, VP di AWS, berasal dari India (saya sudah cek Linkedin mereka). Tidak berarti tidak ada orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Ada orang Indonesia yang bekerja sebagai engineer di Facebook. Tapi jika Anda menghitung jumlahnya…..

StackOverflow

Mari kita lihat partisipasi pengembang Indonesia dan India di StackOverflow.

https://insights.stackoverflow.com/survey/2021#key-territories-all-countries

Di survei pengembang di StackOverflow, orang India jauh lebih banyak ikut daripada orang Indonesia. Jumlah orang India yang ikut survei itu sekitar 10.500 dan jumlah orang Indonesia yang ikut survei itu sekitar 600.

10.500 / 5 = 2100 dan angka 2100 itu 3 setengah kali lebih banyak daripada angka 600.

Perusahaan Remote

Mari kita lihat jumlah karyawan GitLab dari India. Anda bisa cek di halaman tim mereka.

Karyawan GitLab dari India

Ada berapa? 3 + 4 + 7 + 2 + 18 = 34.

Mari kita lihat Indonesia.

Karyawan GitLab di Indonesia

Tapi orang itu bukan orang Indonesia.

Karyawan Jepang GitLab di Indonesia

Dia kebetulan saja sedang di Indonesia (menurut petanya).

Sebenarnya ada orang Indonesia yang bekerja di GitLab tapi mereka tidak tinggal di Indonesia. Ada yang tinggal di Taiwan, Amerika Serikat, dan Australia. Berapa jumlahnya? Mungkin 3-4 orang.

Tanah Air

Nah, kembali ke tanah air. Banyak perintis Indonesia (termasuk *batuk* Gojek *batuk*) yang mengandalkan SDM India. Gojek sampai mengakuisisi software house di India.

Jumlah eksekutif (level VP atau C) asing di Indonesia paling banyak dari India. Sudah saya hitung.

Coba Anda buka Linkedin, terus ketik “vp of engineering”, dan pilih “People” dan Indonesia di “Location”.

vp of engineering di Linkedin

Nah, coba Anda jelajahi orang-orangnya. Lihat nama-namanya. Kalau namanya berbau asing, coba lihat negaranya. Dan hitung negara mana yang paling banyak.

Nah, mari kita lihat jumlah karyawan (tidak harus engineer) India di unicorn-unicorn awal, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Karyawan India di Gojek
Karyawan India di Traveloka
Karyawan India di Tokopedia

Menariknya Bukalapak hampir tidak ada karyawan India. Ada 5 orang saja. Angka di Linkedin sedikit meleset.

Kebetulan gara-gara proyek SailorCoin, saya punya hobi baru, yaitu baca dokumen IPO perusahaan teknologi. Nah, kebetulan saya membaca dokumen IPO Bukalapak dan kita bisa lihat jumlah karyawan asing di dokumen tersebut.

Karyawan asing di Bukalapak
Karyawan asing di Bukalapak

Nah, sekarang coba Anda lakukan kebalikannya. Cari perusahaan teknologi di India (seperti Flipkart, Zomato) dan coba cari karyawan-karyawan yang berasal dari Indonesia.

India memiliki keunggulan dari segi jumlah. Itupun diakui oleh Pak Onno W. Purbo.

Anda mungkin ingin mereka duel dengan format Duel of Honor atau format Olimpiade. Seperti perang Trojan, pihak Troy mengirimkan ksatria terbaik mereka, yaitu Hector. Pihak Sparta mengirimkan ksatria terbaik mereka, yaitu Achilles. Lalu wasitnya berteriak, “Then by bloodshed, do the gods make known their will.” Ooops, tidak ada wasit. Dan mereka bertarung dengan tombak, perisai, dan pedang.

Tapi bagaimana cara engineer terbaik Indonesia dan engineer terbaik India bertarung? Jika mereka bertarung dengan algoritma, kita sudah pasti kalah karena peringkat engineer terbaik India lebih tinggi daripada peringkat engineer terbaik Indonesia di Leetcode. Tapi kan engineering itu lebih dari sekadar membuat kode algoritma. Jadi bagaimana memutuskan seorang engineer itu lebih baik daripada engineer lainnya.

Nah, susah kan mengukurnya. Mungkin Anda bisa hitung lewat proyek open source dan berapa jumlah kontribusi engineer India di proyek terkenal misalnya React, Vue, Go, Kubernetes, dan bandingkan dengan jumlah kontribusi engineer Indonesia.

Tapi saya lebih tertarik membahas persentase engineer per populasi India yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia.

Kenapa Orang India Lebih Suka Menjadi Engineer Daripada Orang Indonesia?

Betul, India punya jumlah populasi lebih banyak. Tapi seandainya tiba-tiba India populasinya menyusut menjadi 270 juta, jumlah engineer India tetap lebih tinggi daripada jumlah engineer Indonesia.

Kenapa?

Mungkin pertanyaannya dibalik dulu.

Kenapa Orang Indonesia Kurang Suka Menjadi Engineer?

Engineering culture kita kurang kuat. Selain itu, profesi engineer status sosialnya rendah. Dan untuk membuat keadaan menjadi lebih parah, dulunya gajinya kecil. Jadi kebanyakan orang-orang yang benar-benar suka dengan komputer saja masuk jurusan ilmu komputer.

https://www.quora.com/Why-are-engineers-paid-so-low-in-the-UK-compared-to-other-professionals-Even-though-there-is-shortage/answer/Dominic-Connor-1

Di Indonesia ada streotipe nerd terhadap engineer. Nerd itu seperti kutu buku, orang aneh, susah bergaul, tidak bisa jadi pemimpin.

Saya sudah mengobrol dengan orang-orang di dunia perintis Indonesia. Mereka tidak terlalu memandang tinggi profesi engineer. Engineer dianggap barang komoditas. Mereka dianggap seperti minion yang cuma bisa disuruh-suruh.

Twit dari Patrick Mckenzie tentang komoditasi pemrogram
https://twitter.com/patio11/status/1298540555350114309

Tapi ketika dunia startup booming di Indonesia…. sekitar tahun 2014-2016, beberapa hal berubah…. sedikit.

https://twitter.com/robinhanson/status/1421212797795409921

Setidaknya gaji engineer naik lumayan di Indonesia seperti yang saya rangkum di PredictSalary. Tapi tidak semua orang berbahagia dengan keadaan ini. Ada teman saya yang bilang Tokopedia merusak harga pasaran engineer. Dia ingin mempekerjakan engineer-engineer tapi keberatan dengan gaji mereka yang naik drastis gara-gara perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Tokopedia, Traveloka, dll, berani membayar mahal.

Betul, fenomena di mana engineer tidak dipandang dengan hormat itu terjadi di semua negara, termasuk di India. Tapi Anda mesti menganggap fenomena ini sebuah spektrum. Engineer lebih dihargai di negara A ketimbang negara B ketimbang negara C. Jadi jangan berpikir seperti angka binari, 0 atau 1. Tapi spektrum. Ada angka pecahan di antara 0 atau 1. Ada warna abu-abu di antara warna hitam dan putih.

Nah, India lebih menghargai profesi engineer ketimbang Indonesia. Kalau mau kasih angka, mungkin nilai untuk India itu 7, nilai untuk Indonesia itu 5,5. Anggap nilai 10 itu artinya engineer paling dihormati. Nilai 0 itu engineer dihina-hina.

3 Idiots

Nah, kita kembali ke India. Pernah menonton film 3 Idiots (2009)?

3 Idiots

Film ini adalah kisah 3 mahasiswa engineering (tapi lebih ke mechanical engineering, ketimbang software engineering). Tokoh utama di film itu, Rancho (yang diperankan oleh Aamir Khan), belajar engineering bukan cuma demi nilai saja, tapi dia mencintai engineering itu.

Di film ini, engineer mendapat peran utama. PERAN UTAMA! 😎

Kalau mau dibikin analogi, kebanyakan orang Indonesia melihat engineer itu tidak layak mendapat peran utama. Engineer pantasnya jadi pemeran figuran. Misalnya kita ambil film Mission Impossible 6. Engineer di Indonesia itu dianggap seperti Benji Dunn (Simon Pegg).

Benji Dunn

Engineer itu dianggap sebagai orang pintar tapi cuma teknikal doang, canggung, comic relief. Jadi banyak orang Indonesia yang ingin jadi pemimpin / manajer engineer tapi tidak mau jadi engineer. Pemimpin engineer itu status sosialnya lebih tinggi daripada engineer. Dengan kata lain, jadi engineer itu tidak keren di Indonesia.

Ada satu kisah anekdot. Saya berdiskusi dengan teman saya dan membahas kenapa partisipasi orang Indonesia di competitive programming (seperti Leetcode atau HackerRank) rendah. Dia bercerita kepada saya, ada orang yang mengusulkan untuk penyelesaian masalah di Leetcode itu dijadikan sebagai bahan untuk memberi nilai di mata kuliah algoritma dan pemrograman. Tapi salah satu dosen di universitas itu menolak dan bilang, murid-murid di universitas ini didorong untuk jadi manajer atau pemimpin bukan programmer. 🙃

https://www.merdeka.com/uang/menko-luhut-sebut-indonesia-krisis-insinyur-lebih-banyak-politikus.html

Insinyur yang dimaksud oleh Pak Luhut itu lebih luas, bukan cuma software engineer. Tapi masalahnya mirip-mirip dengan hal yang saya bahas di artikel ini. It rhymes.

Orang lebih suka jadi politisi daripada insinyur karena jadi politisi itu lebih keren.

Orang lebih suka jadi manajer / konsultan McKinsey atau BCG daripada (software) engineer karena jadi manajer / konsultan McKinsey atau BCG itu lebih keren.

Kuliah Ilmu Komputer di India

Nah, selain film, mari kita lihat bukti lain India lebih menghargai engineer.

https://collegedunia.com/university/25455-indian-institute-of-technology-iit-new-delhi/cutoff

Lihat tidak opening rank yang paling kecil itu jurusan apa. Di India, Anda ambil ujian penerimaan kuliah. Semakin tinggi nilai Anda, semakin kecil ranking Anda. Paling pintar rankingnya 1. Jadi orang yang masuk jurusan ilmu komputer di IIT Delhi, General Category, Round 1, itu paling tinggi (kecil) rankingnya 31.

Cutoff trends (https://collegedunia.com/university/25455-indian-institute-of-technology-iit-new-delhi/cutoff)

Nah, 7 dari 10 universitas paling top di India itu IIT (Indian Institute of Technology). IIT itu seperti ITB tapi tiap kota bisa punya IIT tersendiri. Tingkat penerimaan IIT itu 1-2%.

Murid-murid yang sangat pintar di India cenderung mengambil jurusan ilmu komputer (Computer Science).

https://worldofbuzz.com/two-students-in-india-retake-exams-as-they-were-not-satisfied-with-their-99-99-99-97-scores/
https://worldofbuzz.com/two-students-in-india-retake-exams-as-they-were-not-satisfied-with-their-99-99-99-97-scores/

Kesimpulan apakah yang Anda dapatkan dari hal yang saya beberkan ini? Orang-orang India banyak yang pengen jadi engineer dan menganggap engineer itu adalah profesi yang menjanjikan dan terhormat.

Peringatan: mungkin mereka dipaksa jadi engineer oleh orang tua mereka. Seperti dalam film 3 Idiots, ada yang minatnya bukan di engineering, tapi di fotografi. Salah satu moral dari film 3 Idiots itu adalah tidak semua orang harus jadi engineer. Tapi kalau sampai sengaja dibikin film seperti 3 Idiots, Anda bisa bayangkan obsesi India terhadap engineering itu seberapa besar.

Mari saya ulangi.

https://arghyaban.medium.com/why-indias-obsession-over-engineering-as-a-career-must-end-b7319065c375

India terobsesi dengan engineering sampai pada tahap yang tidak sehat. Makanya film 3 Idiots itu begitu populer dan menyentil, engineering bukan segalanya. Dunia itu lebih luas daripada sekadar engineering.

Anak-anak India didorong keras untuk diterima di universitas IIT sampai mereka banyak yang kehilangan masa kecil mereka.

https://theprint.in/india/education/no-life-no-hobbies-burnout-lost-childhood-the-price-students-pay-for-a-prized-iit-seat/625040/

Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia tidak memiliki obsesi yang dalam terhadap engineering. Biasanya orang tua mendorong anaknya untuk berdagang (buka toko), jadi PNS, atau jadi akuntan.

Lalu Apa yang Kita Harus Lakukan?

Setelah saya membeberkan kenapa India memiliki jumlah engineer yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia, sekarang kita fokus kepada bagaimana cara meningkatkan jumlah engineer Indonesia. Kita tidak perlu meniru India habis-habisan. Saya juga tidak ingin engineering terlalu didewakan. Tapi kita perlu mendorong orang-orang untuk menjadi engineer. Kita juga harus mendorong orang-orang untuk menghargai pendidikan.

Mengenai pertanyaan manakah yang lebih unggul: SDM IT Indonesia vs SDM IT India, silakan tarik kesimpulan sendiri. Data-data dan anekdot-anekdot sudah saya berikan.

Saya lebih tertarik membahas bagaimana cara meningkatkan jumlah engineer Indonesia. Ini penting karena menurut laporan World Bank, kita bakal kekurangan talenta digital (tidak selalu engineer) dalam jumlah banyak.

https://inet.detik.com/cyberlife/d-5054815/menkominfo-sebut-indonesia-masih-kekurangan-talenta-digital
https://inet.detik.com/cyberlife/d-5054815/menkominfo-sebut-indonesia-masih-kekurangan-talenta-digital

Usaha dari Pemerintah

Untuk menjadi engineer, orang tidak harus sejenius Albert Einstein, tapi setidaknya butuh tingkat intelejensi tertentu. Tingkat kepintaran orang tergantung daripada asupan gizi di masa kecil mereka. Kita banyak kasus stunting. Jadi kita mesti memastikan anak-anak Indonesia cukup asupan gizinya. Seperti kata Bu Susi, “Ayo, makan ikan biar pintar.

Setelah memastikan gizi mereka cukup, kita harus memberikan pendidikan yang berkualitas kepada mereka. Ingat kata Pak Onno, tidak banyak dosen yang bisa mengajar dengan baik. Tapi masalahnya lebih luas daripada itu. Ada masalah finansial juga. Banyak orang Indonesia yang tidak sanggup membayar biaya pendidikan.

Ada beberapa solusi: pinjaman dana pendidikan, beasiswa, Income Sharing Agreement.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita adalah mantan CEO Gojek yang memberi nama perusahaannya Aplikasi Karya Anak Bangsa, tapi realitas kejam memaksa dia untuk menggunakan jasa banyak engineer-engineer India. Dia merasakan sendiri betapa Indonesia kekurangan SDM terampil. Mari kita tunggu hasil kerja beliau.

Usaha dari Anda

Ada ungkapan, “Be the change you want to see in this world.”

Jika Anda adalah engineer, maka Anda harus terus meningkatkan kemampuan Anda. Misalnya mengikuti Leetcode, dan mendapatkan ranking yang tinggi. Kalau bisa coba kalahkan peringkat tertinggi dari India. 😛

Kalau Anda mahasiswa/i ilmu komputer, coba ikuti program Google Summer of Code atau Google’s Code Jam.

Bikin unicorn.

Tulis buku pemrograman.

Kontribusi ke proyek open source.

Bikin bootcamp.

You get the idea.

Usaha dari Saya

Nah, saya pun akan berusaha untuk membawa keseimbangan ke Indonesia yang kekurangan engineer ini.

Avatar Korra bermeditasi

Saya sudah bermeditasi dan berbicara dengan Avatar masa lalu saya, yaitu Avatar Aang, Avatar Korra, dan Avatar lain-lainnya. Oh ya, omong-omong, saya ini adalah Avatar Arjuna, the Earth bender, siklus setelah Water. 🧘‍♂️

Jadi hasil dari dialog saya dengan Avatar masa lalu saya, 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣, adalah sebagai berikut. Tapi ini adalah rangkuman saja. Di artikel blog selanjutnya, akan saya ceritakan lebih panjang apa yang ingin saya lakukan di hidup saya.

Saya akan membujuk orang-orang untuk menjadi engineer.

Dengan PredictSalary, saya akan menunjukkan bahwa gaji engineer itu tinggi. Bagi yang ingin mendapatkan mobilitas sosial dalam hidupnya, menjadi engineer adalah langkah yang bagus dan aman.

Ada sebagian teman-teman saya yang meninggalkan pekerjaan penuh waktunya (bukan sebagai engineer, tapi di akuntansi). Mereka ada yang menekuni MLM, dan ada juga yang menjadi agen asuransi. Salah satu hal yang dikeluhkan mereka adalah tidak ada hidup yang seimbang di pekerjaan masa lalu mereka. Ada yang bercerita bahwa dengan pekerjaan penuh waktunya, dia susah mengambil cuti karena dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak di kampung halamannya ketika kakeknya meninggal dunia.

Saya akan menunjukkan kepada orang-orang bahwa sebagai engineer, orang bisa mengambil pekerjaan remote. Pekerjaan remote akan memberi Anda fleksibilitas yang Anda inginkan.

Masih kurang fleksibel?

Dengan ParttimeCareer, saya akan menunjukkan sebagai engineer, Anda bisa bekerja paruh waktu dan memiliki waktu luang yang banyak. Ini penting bagi orang-orang yang ingin mengurus anak atau orang tua. Memaksa mereka bekerja penuh waktu akan membuat mereka beralih ke MLM dan bisnis asuransi.

Nah, kalau Anda suka travel, pekerjaan sebagai engineer bisa mendukung gaya hidup nomad.

Bagi Anda, engineer-engineer, yang ingin bekeluarga, saya akan membantu Anda mencari pasangan dengan proyek saya, yaitu SwanLove. Ingat, orang tua engineer akan cenderung memiliki anak engineer juga. Pengaruh orang tua terhadap profesi seorang anak itu besar sekali.

Bagi engineer-engineer yang ingin berbisnis swakarya (tanpa modal dari VC), maka saya juga menyediakan tempat untuk mencari inspirasi, yaitu Pembangun. Hal ini penting untuk mengurangi stigma bahwa engineer tidak bisa berbisnis.

Inilah visi dan misi saya dalam membangun negara Indonesia. 🇮🇩

Categories
perintis startup

Hidup Nomad

Jadi beberapa waktu yang lalu, Menteri Luhut mengajak masyarakat untuk bekerja dari Bali (Work From Bali). Ini beritanya. Sebagian pegawai negeri sipil ikut bekerja di Bali sebagai teladan bagi masyarakat bahwa kita di jaman now bisa bekerja dari mana saja. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Hanya orang dengan pekerjaan tertentu yang bisa bekerja dari mana saja, misalnya spesialis SEO, penulis konten, pemrogram, product manager, seniman meme.

Pemerintah juga sudah mulai terbuka terhadap Nomad Tourism. Di dunia ini, ada sebagian orang yang mengunjungi suatu tempat/negara bukan untuk berlibur tapi untuk bekerja (dan berlibur di antaranya). Jadi di jaman dulu, Lucy dari Denmark pergi ke Bali dan tinggal di sana 1 minggu. Dia menghabiskan waktunya dengan berjemur di pantai, minum bir di bar di Kuta, memberi makan di monkey forest, ikut retret yoga, memanjakan dirinya di spa, menyelam di Amed.

Tapi sekarang di jaman Nomad Tourism, mungkin kegiatan Lucy itu seperti ini. Dia tinggal di Bali selama 2 bulan. Minggu pertama, dari jam 9 sampai jam 16, dia bekerja, terus sorenya dia bersantai di pantai Kuta. Akhir pekan dia habiskan di Klungkung. Minggu kedua, Lucy berdiam di Amed. Di minggu kedua, dari jam 9 sampai jam 16, dia bekerja. Setelah itu dia menikmati Amed yang tenang dan tidak hiruk pikuk. Akhir pekan kedua dia habiskan di Bedugul. Lihat perbedaannya?

Dulu kegiatan bekerja dan turisme itu terpisah jelas. Di jaman dulu, Lucy bekerja di kantor di Denmark. Dia datang ke Bali, dia tidak bekerja di Bali, dia berlibur di Bali. Kalau dia bekerja di Bali, dia bakal ditangkap dan dideportasi oleh pihak imigrasi Bali. Sekarang dia bisa bekerja di Bali tapi pihak perusahaannya tidak berdiri di Bali. Jadi dia tidak mengambil lapangan pekerjaan orang Bali.

Nah, pandemi sudah memaksa perusahaan-perusahaan untuk belajar budaya kerja jarak jauh (remote). Memang sih sebagian perusahaan mau balik lagi ke budaya kerja kantor dan meninggalkan budaya kerja remote tapi efeknya akan berbekas dalam. Akan tumbuh banyak perusahaan remote. Karyawan perusahaan remote bisa bekerja dari rumah atau dari Bali.

Eh, siapa bilang orang harus bekerja dari Bali. Tidak ada yang melarang orang untuk bekerja dari Semarang, Bandung, atau Cilegon. Pemerintah memutuskan untuk membuat program Work From Bali itu karena Bali sangat tergantung terhadap pariwisata dan Bali sedang sekarat. Saya sudah mendengar cerita-cerita menyedihkan dari teman saya yang bekerja sebagai direktur hotel di Bali.

Hidup Berpindah-pindah

Jadi Anda bisa hidup berpindah-pindah (jika Anda mau). Saya mengasumsikan Anda memiliki pekerjaan yang fleksibel. Jika belum, ada banyak lowongan pekerjaan remote di luar sana. Anda bisa keliling Jawa dengan gaya hidup nomad. Ketimbang ambil cuti 1 bulan untuk keliling Jawa, Anda bisa keliling Jawa selama 1 atau 2 tahun. Misalnya bulan Januari, Anda tinggal di Sukabumi selama satu bulan. Iya, satu bulan. Biar lebih meresapi suasana di Sukabumi. Bulan Februari, Anda tinggal di Bandung. Bulan Maret, Anda tinggal di Cirebon. Bulan April, Anda tinggal di Tegal. Bulan Mei, Anda tinggal di Semarang. Bulan Juni, Anda tinggal di Salatiga. Dan seterusnya.

Generasi sebelumnya tidak dapat melakukan hal itu. Tapi Anda dapat melakukan hal itu. Iya, sekarang kita sedang dalam masa pemulihan dari pandemi. Jadi mungkin bukan ide yang baik untuk melakukannya tahun ini. Tapi pikirkan kemungkinan ini untuk tahun depan atau dua tahun lagi.

Tentu saja ini dengan asumsi kalau Anda suka jalan-jalan. Saya sendiri bukan penggemar berat gaya hidup nomad. Saya suka travel tapi tidak suka travel amat sangat. Saya kalau berlibur pilihan utamanya yah kalau tidak ke Yogyakarta, yah ke Bali. Saya adalah orang yang membosankan. Kalau saya travel lebih dari dua minggu, saya sudah merasa bosan.

Tren hidup nomad ini adalah peluang bagi Anda yang ingin membuat perintis yang mendukung gaya hidup nomad. Misalnya ketimbang tinggal di hotel, orang mungkin lebih suka kontrak rumah selama satu atau beberapa bulan. Contoh perintis: Zeus.

Bayangkan sebuah perintis yang karyawannya berjumlah 6 orang. Ketimbang bekerja di tempat co-working di Jakarta Pusat, bagaimana jika mereka hidup nomad sebagai satu tim. Mereka menyewa sebuah rumah yang bisa menampung 6 orang, atau dua rumah jika ada pihak lawan jenis. Bulan Januari, perintis ini bekerja di Cilegon. Bulan Februari, perintis ini bekerja di Solo. Bulan Maret, perintis ini bekerja di Malang. Dan seterusnya.

Ketika menulis artikel blog yang sedang Anda baca ini, saya sedang mendengar lagu Bon Voyage, yang merupakan lagu pembuka anime One Piece. Jika Anda tidak tahu tentang anime atau manga One Piece, ia menceritakan tentang kisah bajak laut. Sekelompok orang bertualang dengan kapal laut. Di jaman modern, apa yang saya gambarkan di paragraf sebelumnya itulah yang paling mendekati kehidupan petualangan bajak laut dan masih realistis. Anda tidak mungkin menyewa kapal kan? Berapa harga sewa kapal? Belum masalah koneksi internet.

Hidup sebagai nomad untuk merasakan petualangan sebagai bajak laut di One Piece

Pertemuan dengan Orang Lokal

Banyak orang yang menyebut turisme itu hal yang dangkal karena turis datang ke tempat tujuan tanpa berinteraksi dengan penduduk lokal. Kalaupun ada interaksi, interaksinya dangkal. Mungkin dengan tinggal lebih lama, turis dapat berinteraksi dengan lebih dalam dengan penduduk lokal.

Bayangkan Anda datang ke kota Solo, Anda bisa berjumpa dengan sekelompok mahasiswa yang haus dengan ilmu di dunia perintis. Anda bisa menunjukkan bagaimana men-deploy aplikasi web di awan dengan Ansible. Betul, Anda dapat melakukannya lewat Zoom atau Google Meet dari Jakarta. Saya adalah pendukung budaya kerja remote garis keras. Tapi saya menyadari ada sesuatu di pertemuan laring secara fisik yang tidak dapat Anda temukan di pertemuan remote. Lagipula manusia adalah makhluk sosial yang butuh interaksi sosial laring.

Mungkin sesuatu yang seperti Meetup perlu dibuat untuk menjembatani pertemuan antara penduduk lokal dengan orang yang hidup nomad.

Orang Tua

Anda mungkin menyadari apa yang saya tulis ini cuma berlaku bagi orang lajang. Tapi pasangan suami istri juga dapat melakukannya sepanjang mereka berdua memiliki misi dan visi yang sama. Atau kalau tidak, salah satu pihak mengalah. Mungkin saya perlu buat fitur pilih pasangan dengan gaya hidup nomad ini di situs pencari jodoh saya, SwanLove. 🧳👩‍❤️‍👨

Kalau sudah punya anak? Nah, ini adalah eksplorasi yang sangat menarik. Dapatkah keluarga dengan anak hidup secara nomad? Dua tahun lalu, mungkin saya jawab tidak mungkin. Tapi pandemi memaksa anak-anak untuk belajar secara daring. Tentu saja proses belajarnya tidak sempurna. Banyak anak yang tidak memiliki koneksi internet yang bagus. Tapi ia memberikan sekelumit potensi pembelajaran di masa depan. Kebayang tidak kalau di masa depan ada sekolah daring 100% terlepas dari pandemi atau tidak? Jadi orang tua dengan anaknya bisa hidup sebagai nomad.

Nah, di samping itu ada yang namanya homeschooling. Saya tanya teman saya yang merupakan seorang guru apakah pendapat dia terhadap homeschooling. Dia bilang untuk anak SD tidak masalah. Tapi pas anak sudah SMP, tidak banyak orang tua yang sanggup mengajarkan mata pelajaran seperti fisika kepada anak mereka. Dengan asumsi demikian, orang tua bisa hidup sebagai nomad ketika anak mereka masih TK dan SD. Setelah anak mereka masuk SMP, barulah mereka menetap di sebuah kota dan hidup bahagia selama-lamanya.

Hidup sebagai nomad tidak berarti hidup sebagai nomad sampai Anda meninggal dunia atau pikun. Tapi Anda bisa hidup sebagai nomad selama 5 tahun. Setelah itu Anda menetap di sebuah kota. Dan Anda merasa cukup puas dengan pengalaman hidup nomad 5 tahun.

Lagipula mungkin nanti bakal ada solusi baru bagi orang tua yang memilih homeschooling. Mungkin teknologi bakal jadi canggih di mana anak dapat belajar fisika dengan realitas tertambah (augmented reality). Mungkin ada guru fisika yang dapat mengajar anak Anda di kota-kota tempat Anda hidup sebagai nomad.

Gaya Hidup Baru

Jadi artikel ini ditulis untuk membuka pikiran Anda. Ada tren baru yang bakal mengubah hidup banyak orang, yaitu bekerja jarak jauh (remote). Konsekuensinya adalah orang bisa hidup sebagai nomad. Dulu nenek moyang kita juga hidup sebagai nomad sebagai pemburu dan pengumpul (hunter-gatherer). Ketika jaman pertanian tiba, barulah nenek moyang kita hidup menetap di suatu tempat.

Nah, apa yang ingin Anda lakukan dengan informasi ini terserah Anda. Anda mungkin ingin menjadi petualang seperti Luffy dan bekerja sebagai karyawan remote. Anda mungkin ingin mendirikan perintis yang mendukung tren hidup baru ini. Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk mendukung gaya hidup nomad. Selain contoh perintis yang sudah saya sebutkan, Anda bisa membuat perintis penyewaan motor dengan model langganan. Bayangkan Anda datang ke kota Garut, dengan aplikasi seluler Anda, Anda menyewa motor selama sebulan sebagai transportasi Anda di kota tersebut. Itu dari aspek travel. Anda bisa juga membuat perintis untuk mendukung gaya hidup orang tua yang hidup sebagai nomad. Mereka membutuhkan dukungan dalam pengasuhan anak. Pikirkan masalah apa yang menimpa orang tua dengan anak kecil yang sedang travel.

Striving off the road laid, In between the sky and ocean, We begin rowing our boat, To the dark deep ocean, where an adventure is waiting, Doesn’t it sound fun just imagining it? Traveling through the seas of the world, Roaring our battle cry, When your spirit is ready, let us signal the start.

Dari lagu pembuka One Piece

A ship in harbor is safe, but that is not what ships are built for.

Orang bijak