Categories
pemrogram startup

Engineer Indonesia vs Engineer India

Sebelumnya saya harus minta maaf dulu karena judul artikel ini nginggris. Tapi jika saya memakai bahasa Indonesia yang baku dan benar, maka judulnya jadi aneh. Perekayasa Peranti Lunak Indonesia vs Perekayasa Peranti Lunak India. Insinyur Indonesia vs Insinyur India. Pemrogram Indonesia vs Pemrogram India. Tidak ada yang cocok. SEO artikel ini juga bakal jadi jelek. 😜

Jadi maafkanlah saya, Ibu Pertiwi. 🙏

Topik ini adalah topik yang panas di komunitas engineer Indonesia dan dunia perintis. Dunia perintis Indonesia tergantung terhadap engineer-engineer Indonesia. Misalnya, Gojek.

https://the-ken.com/story/gojeks-indian-engine-got-it-to-10-billion-now-it-wants-to-change-it/
https://the-ken.com/story/gojeks-indian-engine-got-it-to-10-billion-now-it-wants-to-change-it/
Can you enhance that
Can you enhance that
Gojek relied on Indian tech talent to take the company from $100 million to $10 billion
Gojek relied on Indian tech talent to take the company from $100 million to $10 billion

“Indian tech talent” di sini lebih luas daripada sekadar engineer. Ia juga mencakup Product Manager, desainer UI/UX, dan lain-lain. Tapi di artikel ini, kita akan fokus terhadap engineer saja.

Terjadilah perdebatan di dunia perintis tanah air. Apakah kita tidak memiliki cukup engineer Indonesia yang kompeten sampai kita harus mengimpor sebegitu banyak engineer-engineer India?

Anekdot

Saya akan memberi kisah anekdot. Teman saya bilang sebuah perintis (bukan Gojek, yang lain) terpaksa memaksa memakai jasa engineer-engineer India karena engineer-engineer Indonesia tidak bisa deliver.

Terus ada perintis yang baru mendapat pendanaan gila-gilaan (bukan Gojek, yang lain) dan mereka mencari engineer-engineer dari luar Indonesia. Bukan India, tapi Pakistan. Tapi tetap saja. Itu menandakan sesuatu.

Di lain pihak, di sebuah video Youtube, ada orang yang bertanya, “benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?” kepada Bapak Onno W. Purbo. Bagi yang tidak tahu Pak Onno, beliau adalah aktivis dan pakar di dunia teknologi informasi.

SDM IT = Sumber Daya Manusia Information Technology (kalau kalian tidak tahu)

Benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?
Benarkah SDM IT Indonesia kalah dengan SDM IT India?
Zooooom in

Videonya cuma 6 menit. Saya sarankan kalian tonton video jawaban Pak Onno. Tapi saya rangkum jawaban Pak Onno W. Purbo di sini:

  • Dia punya teman yang berkedudukan tinggi (pimpinan) di perusahaan minyak dan gas di Oman (Pertamina-nya Oman).
  • Posisi temannya Wells Capability Development Coach.
  • Pak Onno dikenalkan dengan orang-orang Indonesia di Oman dan orang-orang Indonesia itu hebat semua (menurut dia).
  • Orang Arab ini cari banget orang Indonesia.
  • SDM (terutama di bidang IT) di dunia dari mata orang Arab bisa dibagi menjadi tiga kategori: SDM bule (bagus banget tapi mahal), SDM India/Pakistan (paling murah tapi ngga bagus), SDM Indonesia (murah dan bagus).
  • Ngga banyak orang Indonesia yang benar-benar jago IT.
  • Ngga banyak dosen yang bisa ngajar bagus dan bener gitu. Banyak dosen yang ngajar ecek-ecek.
  • Ada dosen yang ngajar bagus tapi ngga banyak. Akibatnya tidak banyak orang-orang Indonesia yang bagus yang bisa bekerja di luar.
  • SDM India banyak sekali. Kalau dia lagi meeting internasional, di meeting-nya Facebook-lah, meeting conference atau apa, isinya orang India melulu.
  • SDM India/Pakistan itu jago ngomong.
  • Orang India kalau ngomong bahasa Inggrisnya nyerocos lagi. Mereka debat sama bule, orang bule bisa kalahloh. Orang India ngomong jago, tapi kalau disuruh kerja parah.
  • Orang Indonesia ngga banyak ngomong, rata-rata diam. Kerjanya bagus. Orang Indonesia itu rata-rata gigih. Santun, ngga banyak ngomong, kerja keras.
  • Makanya orang Arab lebih suka orang Indonesia daripada orang India.

Nah, kisah dari Pak Onno ini adalah anekdot.

The thing I have noticed is when the anecdotes and the data disagree, the anecdotes are usually right. There’s something wrong with the way you are measuring it

Jeff Bezos

Metode Penelitian

Ini adalah artikel blog, bukan paper. Jadi jangan berharap banyak terhadap keilmiahan dari metode penelitian saya. Saya menggunakan banyak anekdot seperti yang saya lakukan di paragraf sebelumnya. Walaupun begitu, saya juga akan menggunakan data keras dari lapangan yang susah dipungkiri.

Untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih unggul: engineer Indonesia atau engineer India, kita harus memperhitungkan jumlah engineer. Ini bukan seperti Olimpiade di mana masing-masing dari Indonesia dan India mengirim 10 engineer terbaik dan beradu kompetisi pemrograman, misalnya siapa yang lebih cepat membuat kode Red-Black Tree. Jumlah engineer yang dihasilkan negara itu penting.

Walaupun begitu kita juga akan mencoba menganalisa kompetisi antara India dan Indonesia dengan format Olimpiade (the best versus the best). Siapakah yang akan merebut medali emas?

Nah, tidak dipungkiri populasi India itu sebesar 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Populasi India itu 1,4 milyar. Populasi Indonesia itu 270 juta. Kita akan menormalisasikan data dengan perbandingan populasi India – Indonesia untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya. Faktor normalisasi data adalah 5 (lima). Maksudnya begini. Seandainya kita ambil 100 orang secara acak dari India, berapa banyak dari mereka yang merupakan engineer atau sedang belajar ilmu komputer. Begitu juga dengan Indonesia. Kita mau lihat persentase engineer per populasi juga. Jadi bukan cuma jumlah engineer doang.

Jumlah Engineer di Linkedin

Coba kalian cari Programmer atau “Software Engineer” di Linkedin untuk kategori People dan pilih negara Indonesia atau India.

95 ribu Programmer Indonesia di LInkedin
95 ribu Programmer Indonesia
1,8 juta Programmer India di Linkedin
1,8 juta Programmer India
36 ribu software engineer Indonesia
36 ribu software engineer Indonesia
1,8 juta software enginer India
1,8 juta software enginer India

Ambil contoh kata kunci “Software Engineer” di India. Kita bagi angka 1,8 juta dengan 5 sehingga menjadi 360 ribu. Angka itu adalah 10x dari jumlah “Software Engineer” di Indonesia. Dengan kata kunci Programmer, perbandingannya menjadi 4x.

Kesimpulan: persentasi penduduk India yang bekerja (atau yang mau menjadi) sebagai “software engineer” atau “programmer” itu jauh lebih tinggi daripada Indonesia.

Anggap kita ambil 10 ribu orang secara acak dari India, ada sekitar 12 orang yang bekerja atau mau menjadi engineer.

Anggap kita ambil 10 ribu orang secara acak dari Indonesia, ada sekitar 1 atau 2 orang yang bekerja atau mau menjadi engineer.

Dan India punya 5x lebih banyak penduduk daripada Indonesia. 🤯

Betul tidak semua engineer memiliki akun Linkedin. Makanya kita lihat angka engineer dari tempat lain juga.

Google’s Code Jam

Coba kalian pergi ke Google’s Code Jam.

Google’s Code Jam

Klik tombol View Result. Lalu pilih negara India atau Indonesia.

Hasil kompetisi
Indonesia
India

India punya 49 baris, 10 kali lebih banyak daripada Indonesia. Angka 49 dibagi dengan 5 menjadi 10. Berarti dua kali lipat daripada Indonesia. Tapi Anda harus mempertimbangkan distribusi ranking juga.

Leetcode

Leetcode adalah tempat Anda berlatih mengerjakan soal-soal yang bakal ditanyakan di wawancara teknis.

Lihat persebaran orang-orang yang ikut Leetcode dari artikel ini.

Pemain Leetcode

Anda juga bisa melihat data dari halaman Global Ranking.

Global Ranking dari Leetcode

Anda coba jelajahi halaman Global Ranking.

Menjelajahi Global Ranking di Leetcode

Tidak perlu menjelajahi 7440 halaman. Cukup jelajahi 20 halaman pertama dan jangan lupa hitung berapa bendera India dan Indonesia yang Anda temui.

Unicorn

Unicorn adalah perusahaan teknologi dengan valuasi $1 milyar atau Rp 14 trilyun. Bahan bakar utama perusahaan teknologi adalah engineer. Mari kita hitung jumlah unicorn yang dihasilkan India dan Indonesia.

Jumlah unicorn negara-negara
Jumlah unicorn negara-negara

Grafik ini memiliki kesalahan perhitungan di bagian China (makanya angka China itu terlalu rendah), tapi kita membandingkan India dengan Indonesia. Artikelnya dapat dibaca di sini.

Dalam 5 tahun, India menghasilkan 27 unicorn sementara Indonesia menghasilkan 4 unicorn. 27 / 5 itu masih lebih besar daripada angka 4. Ingat, populasi India itu 5 kali lebih besar daripada populasi Indonesia.

Google Summer of Code

Google Summer of Code adalah program bimbingan bagi pelajar di proyek open source. Tahun 2021 ini ada sekitar 1.200 murid yang mendapat kesempatan untuk dibimbing di 199 proyek open source. Anda dapat membaca artikelnya di sini.

Representasi India yang dominan di Google Summer of Code
Murid India dominan di Google Summer of Code

Paling banyak pesertanya dari India. Untuk melihat peserta-pesertanya, Anda bisa pergi ke halaman-halaman proyek open sourcenya. Setelah itu pergi ke salah satu halaman proyek open sourcenya. Anda bisa melihat murid-murid untuk proyek tersebut.

Halaman proyek open source di Google Summer of Code
Halaman proyek open source di Google Summer of Code

Jumlah Lulusan Ilmu Komputer

India menyumbangkan 20% lulusan STEM (Science Technology Engineering Mathematics) ke dunia. 3/4 lulusan STEM itu lulusan ilmu komputer. Indonesia cuma menyumbangkan 1,6% lulusan STEM ke dunia. 20 / 5 itu 4 dan angka 4 itu lebih tinggi daripada angka 1.6. Artikelnya dapat dibaca di sini.

Persentase lulusan STEM

Silicon Valley

Banyak orang-orang yang berasal India (tidak selalu engineer) yang memegang posisi penting di perusahaan-perusahaan Silicon Valley. Contoh: Sundar Pichai (CEO Google/Alphabet), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe).

Bukan cuma CEO. Banyak posisi penting diisi oleh orang yang berasal dari India.

Halaman Summit Machine Learning
https://aws.amazon.com/events/summits/machine-learning/

Dua orang di gambar atas, VP di AWS, berasal dari India (saya sudah cek Linkedin mereka). Tidak berarti tidak ada orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Ada orang Indonesia yang bekerja sebagai engineer di Facebook. Tapi jika Anda menghitung jumlahnya…..

StackOverflow

Mari kita lihat partisipasi pengembang Indonesia dan India di StackOverflow.

https://insights.stackoverflow.com/survey/2021#key-territories-all-countries

Di survei pengembang di StackOverflow, orang India jauh lebih banyak ikut daripada orang Indonesia. Jumlah orang India yang ikut survei itu sekitar 10.500 dan jumlah orang Indonesia yang ikut survei itu sekitar 600.

10.500 / 5 = 2100 dan angka 2100 itu 3 setengah kali lebih banyak daripada angka 600.

Perusahaan Remote

Mari kita lihat jumlah karyawan GitLab dari India. Anda bisa cek di halaman tim mereka.

Karyawan GitLab dari India

Ada berapa? 3 + 4 + 7 + 2 + 18 = 34.

Mari kita lihat Indonesia.

Karyawan GitLab di Indonesia

Tapi orang itu bukan orang Indonesia.

Karyawan Jepang GitLab di Indonesia

Dia kebetulan saja sedang di Indonesia (menurut petanya).

Sebenarnya ada orang Indonesia yang bekerja di GitLab tapi mereka tidak tinggal di Indonesia. Ada yang tinggal di Taiwan, Amerika Serikat, dan Australia. Berapa jumlahnya? Mungkin 3-4 orang.

Tanah Air

Nah, kembali ke tanah air. Banyak perintis Indonesia (termasuk *batuk* Gojek *batuk*) yang mengandalkan SDM India. Gojek sampai mengakuisisi software house di India.

Jumlah eksekutif (level VP atau C) asing di Indonesia paling banyak dari India. Sudah saya hitung.

Coba Anda buka Linkedin, terus ketik “vp of engineering”, dan pilih “People” dan Indonesia di “Location”.

vp of engineering di Linkedin

Nah, coba Anda jelajahi orang-orangnya. Lihat nama-namanya. Kalau namanya berbau asing, coba lihat negaranya. Dan hitung negara mana yang paling banyak.

Nah, mari kita lihat jumlah karyawan (tidak harus engineer) India di unicorn-unicorn awal, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Karyawan India di Gojek
Karyawan India di Traveloka
Karyawan India di Tokopedia

Menariknya Bukalapak hampir tidak ada karyawan India. Ada 5 orang saja. Angka di Linkedin sedikit meleset.

Kebetulan gara-gara proyek SailorCoin, saya punya hobi baru, yaitu baca dokumen IPO perusahaan teknologi. Nah, kebetulan saya membaca dokumen IPO Bukalapak dan kita bisa lihat jumlah karyawan asing di dokumen tersebut.

Karyawan asing di Bukalapak
Karyawan asing di Bukalapak

Nah, sekarang coba Anda lakukan kebalikannya. Cari perusahaan teknologi di India (seperti Flipkart, Zomato) dan coba cari karyawan-karyawan yang berasal dari Indonesia.

India memiliki keunggulan dari segi jumlah. Itupun diakui oleh Pak Onno W. Purbo.

Anda mungkin ingin mereka duel dengan format Duel of Honor atau format Olimpiade. Seperti perang Trojan, pihak Troy mengirimkan ksatria terbaik mereka, yaitu Hector. Pihak Sparta mengirimkan ksatria terbaik mereka, yaitu Achilles. Lalu wasitnya berteriak, “Then by bloodshed, do the gods make known their will.” Ooops, tidak ada wasit. Dan mereka bertarung dengan tombak, perisai, dan pedang.

Tapi bagaimana cara engineer terbaik Indonesia dan engineer terbaik India bertarung? Jika mereka bertarung dengan algoritma, kita sudah pasti kalah karena peringkat engineer terbaik India lebih tinggi daripada peringkat engineer terbaik Indonesia di Leetcode. Tapi kan engineering itu lebih dari sekadar membuat kode algoritma. Jadi bagaimana memutuskan seorang engineer itu lebih baik daripada engineer lainnya.

Nah, susah kan mengukurnya. Mungkin Anda bisa hitung lewat proyek open source dan berapa jumlah kontribusi engineer India di proyek terkenal misalnya React, Vue, Go, Kubernetes, dan bandingkan dengan jumlah kontribusi engineer Indonesia.

Tapi saya lebih tertarik membahas persentase engineer per populasi India yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia.

Kenapa Orang India Lebih Suka Menjadi Engineer Daripada Orang Indonesia?

Betul, India punya jumlah populasi lebih banyak. Tapi seandainya tiba-tiba India populasinya menyusut menjadi 270 juta, jumlah engineer India tetap lebih tinggi daripada jumlah engineer Indonesia.

Kenapa?

Mungkin pertanyaannya dibalik dulu.

Kenapa Orang Indonesia Kurang Suka Menjadi Engineer?

Engineering culture kita kurang kuat. Selain itu, profesi engineer status sosialnya rendah. Dan untuk membuat keadaan menjadi lebih parah, dulunya gajinya kecil. Jadi kebanyakan orang-orang yang benar-benar suka dengan komputer saja masuk jurusan ilmu komputer.

https://www.quora.com/Why-are-engineers-paid-so-low-in-the-UK-compared-to-other-professionals-Even-though-there-is-shortage/answer/Dominic-Connor-1

Di Indonesia ada streotipe nerd terhadap engineer. Nerd itu seperti kutu buku, orang aneh, susah bergaul, tidak bisa jadi pemimpin.

Saya sudah mengobrol dengan orang-orang di dunia perintis Indonesia. Mereka tidak terlalu memandang tinggi profesi engineer. Engineer dianggap barang komoditas. Mereka dianggap seperti minion yang cuma bisa disuruh-suruh.

Twit dari Patrick Mckenzie tentang komoditasi pemrogram
https://twitter.com/patio11/status/1298540555350114309

Tapi ketika dunia startup booming di Indonesia…. sekitar tahun 2014-2016, beberapa hal berubah…. sedikit.

https://twitter.com/robinhanson/status/1421212797795409921

Setidaknya gaji engineer naik lumayan di Indonesia seperti yang saya rangkum di PredictSalary. Tapi tidak semua orang berbahagia dengan keadaan ini. Ada teman saya yang bilang Tokopedia merusak harga pasaran engineer. Dia ingin mempekerjakan engineer-engineer tapi keberatan dengan gaji mereka yang naik drastis gara-gara perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Tokopedia, Traveloka, dll, berani membayar mahal.

Betul, fenomena di mana engineer tidak dipandang dengan hormat itu terjadi di semua negara, termasuk di India. Tapi Anda mesti menganggap fenomena ini sebuah spektrum. Engineer lebih dihargai di negara A ketimbang negara B ketimbang negara C. Jadi jangan berpikir seperti angka binari, 0 atau 1. Tapi spektrum. Ada angka pecahan di antara 0 atau 1. Ada warna abu-abu di antara warna hitam dan putih.

Nah, India lebih menghargai profesi engineer ketimbang Indonesia. Kalau mau kasih angka, mungkin nilai untuk India itu 7, nilai untuk Indonesia itu 5,5. Anggap nilai 10 itu artinya engineer paling dihormati. Nilai 0 itu engineer dihina-hina.

3 Idiots

Nah, kita kembali ke India. Pernah menonton film 3 Idiots (2009)?

3 Idiots

Film ini adalah kisah 3 mahasiswa engineering (tapi lebih ke mechanical engineering, ketimbang software engineering). Tokoh utama di film itu, Rancho (yang diperankan oleh Aamir Khan), belajar engineering bukan cuma demi nilai saja, tapi dia mencintai engineering itu.

Di film ini, engineer mendapat peran utama. PERAN UTAMA! 😎

Kalau mau dibikin analogi, kebanyakan orang Indonesia melihat engineer itu tidak layak mendapat peran utama. Engineer pantasnya jadi pemeran figuran. Misalnya kita ambil film Mission Impossible 6. Engineer di Indonesia itu dianggap seperti Benji Dunn (Simon Pegg).

Benji Dunn

Engineer itu dianggap sebagai orang pintar tapi cuma teknikal doang, canggung, comic relief. Jadi banyak orang Indonesia yang ingin jadi pemimpin / manajer engineer tapi tidak mau jadi engineer. Pemimpin engineer itu status sosialnya lebih tinggi daripada engineer. Dengan kata lain, jadi engineer itu tidak keren di Indonesia.

Ada satu kisah anekdot. Saya berdiskusi dengan teman saya dan membahas kenapa partisipasi orang Indonesia di competitive programming (seperti Leetcode atau HackerRank) rendah. Dia bercerita kepada saya, ada orang yang mengusulkan untuk penyelesaian masalah di Leetcode itu dijadikan sebagai bahan untuk memberi nilai di mata kuliah algoritma dan pemrograman. Tapi salah satu dosen di universitas itu menolak dan bilang, murid-murid di universitas ini didorong untuk jadi manajer atau pemimpin bukan programmer. 🙃

https://www.merdeka.com/uang/menko-luhut-sebut-indonesia-krisis-insinyur-lebih-banyak-politikus.html

Insinyur yang dimaksud oleh Pak Luhut itu lebih luas, bukan cuma software engineer. Tapi masalahnya mirip-mirip dengan hal yang saya bahas di artikel ini. It rhymes.

Orang lebih suka jadi politisi daripada insinyur karena jadi politisi itu lebih keren.

Orang lebih suka jadi manajer / konsultan McKinsey atau BCG daripada (software) engineer karena jadi manajer / konsultan McKinsey atau BCG itu lebih keren.

Kuliah Ilmu Komputer di India

Nah, selain film, mari kita lihat bukti lain India lebih menghargai engineer.

https://collegedunia.com/university/25455-indian-institute-of-technology-iit-new-delhi/cutoff

Lihat tidak opening rank yang paling kecil itu jurusan apa. Di India, Anda ambil ujian penerimaan kuliah. Semakin tinggi nilai Anda, semakin kecil ranking Anda. Paling pintar rankingnya 1. Jadi orang yang masuk jurusan ilmu komputer di IIT Delhi, General Category, Round 1, itu paling tinggi (kecil) rankingnya 31.

Cutoff trends (https://collegedunia.com/university/25455-indian-institute-of-technology-iit-new-delhi/cutoff)

Nah, 7 dari 10 universitas paling top di India itu IIT (Indian Institute of Technology). IIT itu seperti ITB tapi tiap kota bisa punya IIT tersendiri. Tingkat penerimaan IIT itu 1-2%.

Murid-murid yang sangat pintar di India cenderung mengambil jurusan ilmu komputer (Computer Science).

https://worldofbuzz.com/two-students-in-india-retake-exams-as-they-were-not-satisfied-with-their-99-99-99-97-scores/
https://worldofbuzz.com/two-students-in-india-retake-exams-as-they-were-not-satisfied-with-their-99-99-99-97-scores/

Kesimpulan apakah yang Anda dapatkan dari hal yang saya beberkan ini? Orang-orang India banyak yang pengen jadi engineer dan menganggap engineer itu adalah profesi yang menjanjikan dan terhormat.

Peringatan: mungkin mereka dipaksa jadi engineer oleh orang tua mereka. Seperti dalam film 3 Idiots, ada yang minatnya bukan di engineering, tapi di fotografi. Salah satu moral dari film 3 Idiots itu adalah tidak semua orang harus jadi engineer. Tapi kalau sampai sengaja dibikin film seperti 3 Idiots, Anda bisa bayangkan obsesi India terhadap engineering itu seberapa besar.

Mari saya ulangi.

https://arghyaban.medium.com/why-indias-obsession-over-engineering-as-a-career-must-end-b7319065c375

India terobsesi dengan engineering sampai pada tahap yang tidak sehat. Makanya film 3 Idiots itu begitu populer dan menyentil, engineering bukan segalanya. Dunia itu lebih luas daripada sekadar engineering.

Anak-anak India didorong keras untuk diterima di universitas IIT sampai mereka banyak yang kehilangan masa kecil mereka.

https://theprint.in/india/education/no-life-no-hobbies-burnout-lost-childhood-the-price-students-pay-for-a-prized-iit-seat/625040/

Bandingkan dengan Indonesia. Indonesia tidak memiliki obsesi yang dalam terhadap engineering. Biasanya orang tua mendorong anaknya untuk berdagang (buka toko), jadi PNS, atau jadi akuntan.

Lalu Apa yang Kita Harus Lakukan?

Setelah saya membeberkan kenapa India memiliki jumlah engineer yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia, sekarang kita fokus kepada bagaimana cara meningkatkan jumlah engineer Indonesia. Kita tidak perlu meniru India habis-habisan. Saya juga tidak ingin engineering terlalu didewakan. Tapi kita perlu mendorong orang-orang untuk menjadi engineer. Kita juga harus mendorong orang-orang untuk menghargai pendidikan.

Mengenai pertanyaan manakah yang lebih unggul: SDM IT Indonesia vs SDM IT India, silakan tarik kesimpulan sendiri. Data-data dan anekdot-anekdot sudah saya berikan.

Saya lebih tertarik membahas bagaimana cara meningkatkan jumlah engineer Indonesia. Ini penting karena menurut laporan World Bank, kita bakal kekurangan talenta digital (tidak selalu engineer) dalam jumlah banyak.

https://inet.detik.com/cyberlife/d-5054815/menkominfo-sebut-indonesia-masih-kekurangan-talenta-digital
https://inet.detik.com/cyberlife/d-5054815/menkominfo-sebut-indonesia-masih-kekurangan-talenta-digital

Usaha dari Pemerintah

Untuk menjadi engineer, orang tidak harus sejenius Albert Einstein, tapi setidaknya butuh tingkat intelejensi tertentu. Tingkat kepintaran orang tergantung daripada asupan gizi di masa kecil mereka. Kita banyak kasus stunting. Jadi kita mesti memastikan anak-anak Indonesia cukup asupan gizinya. Seperti kata Bu Susi, “Ayo, makan ikan biar pintar.

Setelah memastikan gizi mereka cukup, kita harus memberikan pendidikan yang berkualitas kepada mereka. Ingat kata Pak Onno, tidak banyak dosen yang bisa mengajar dengan baik. Tapi masalahnya lebih luas daripada itu. Ada masalah finansial juga. Banyak orang Indonesia yang tidak sanggup membayar biaya pendidikan.

Ada beberapa solusi: pinjaman dana pendidikan, beasiswa, Income Sharing Agreement.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita adalah mantan CEO Gojek yang memberi nama perusahaannya Aplikasi Karya Anak Bangsa, tapi realitas kejam memaksa dia untuk menggunakan jasa banyak engineer-engineer India. Dia merasakan sendiri betapa Indonesia kekurangan SDM terampil. Mari kita tunggu hasil kerja beliau.

Usaha dari Anda

Ada ungkapan, “Be the change you want to see in this world.”

Jika Anda adalah engineer, maka Anda harus terus meningkatkan kemampuan Anda. Misalnya mengikuti Leetcode, dan mendapatkan ranking yang tinggi. Kalau bisa coba kalahkan peringkat tertinggi dari India. 😛

Kalau Anda mahasiswa/i ilmu komputer, coba ikuti program Google Summer of Code atau Google’s Code Jam.

Bikin unicorn.

Tulis buku pemrograman.

Kontribusi ke proyek open source.

Bikin bootcamp.

You get the idea.

Usaha dari Saya

Nah, saya pun akan berusaha untuk membawa keseimbangan ke Indonesia yang kekurangan engineer ini.

Avatar Korra bermeditasi

Saya sudah bermeditasi dan berbicara dengan Avatar masa lalu saya, yaitu Avatar Aang, Avatar Korra, dan Avatar lain-lainnya. Oh ya, omong-omong, saya ini adalah Avatar Arjuna, the Earth bender, siklus setelah Water. 🧘‍♂️

Jadi hasil dari dialog saya dengan Avatar masa lalu saya, 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣, adalah sebagai berikut. Tapi ini adalah rangkuman saja. Di artikel blog selanjutnya, akan saya ceritakan lebih panjang apa yang ingin saya lakukan di hidup saya.

Saya akan membujuk orang-orang untuk menjadi engineer.

Dengan PredictSalary, saya akan menunjukkan bahwa gaji engineer itu tinggi. Bagi yang ingin mendapatkan mobilitas sosial dalam hidupnya, menjadi engineer adalah langkah yang bagus dan aman.

Ada sebagian teman-teman saya yang meninggalkan pekerjaan penuh waktunya (bukan sebagai engineer, tapi di akuntansi). Mereka ada yang menekuni MLM, dan ada juga yang menjadi agen asuransi. Salah satu hal yang dikeluhkan mereka adalah tidak ada hidup yang seimbang di pekerjaan masa lalu mereka. Ada yang bercerita bahwa dengan pekerjaan penuh waktunya, dia susah mengambil cuti karena dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak di kampung halamannya ketika kakeknya meninggal dunia.

Saya akan menunjukkan kepada orang-orang bahwa sebagai engineer, orang bisa mengambil pekerjaan remote. Pekerjaan remote akan memberi Anda fleksibilitas yang Anda inginkan.

Masih kurang fleksibel?

Dengan ParttimeCareer, saya akan menunjukkan sebagai engineer, Anda bisa bekerja paruh waktu dan memiliki waktu luang yang banyak. Ini penting bagi orang-orang yang ingin mengurus anak atau orang tua. Memaksa mereka bekerja penuh waktu akan membuat mereka beralih ke MLM dan bisnis asuransi.

Nah, kalau Anda suka travel, pekerjaan sebagai engineer bisa mendukung gaya hidup nomad.

Bagi Anda, engineer-engineer, yang ingin bekeluarga, saya akan membantu Anda mencari pasangan dengan proyek saya, yaitu SwanLove. Ingat, orang tua engineer akan cenderung memiliki anak engineer juga. Pengaruh orang tua terhadap profesi seorang anak itu besar sekali.

Bagi engineer-engineer yang ingin berbisnis swakarya (tanpa modal dari VC), maka saya juga menyediakan tempat untuk mencari inspirasi, yaitu Pembangun. Hal ini penting untuk mengurangi stigma bahwa engineer tidak bisa berbisnis.

Inilah visi dan misi saya dalam membangun negara Indonesia. 🇮🇩

Categories
perintis startup

Hidup Nomad

Jadi beberapa waktu yang lalu, Menteri Luhut mengajak masyarakat untuk bekerja dari Bali (Work From Bali). Ini beritanya. Sebagian pegawai negeri sipil ikut bekerja di Bali sebagai teladan bagi masyarakat bahwa kita di jaman now bisa bekerja dari mana saja. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku. Hanya orang dengan pekerjaan tertentu yang bisa bekerja dari mana saja, misalnya spesialis SEO, penulis konten, pemrogram, product manager, seniman meme.

Pemerintah juga sudah mulai terbuka terhadap Nomad Tourism. Di dunia ini, ada sebagian orang yang mengunjungi suatu tempat/negara bukan untuk berlibur tapi untuk bekerja (dan berlibur di antaranya). Jadi di jaman dulu, Lucy dari Denmark pergi ke Bali dan tinggal di sana 1 minggu. Dia menghabiskan waktunya dengan berjemur di pantai, minum bir di bar di Kuta, memberi makan di monkey forest, ikut retret yoga, memanjakan dirinya di spa, menyelam di Amed.

Tapi sekarang di jaman Nomad Tourism, mungkin kegiatan Lucy itu seperti ini. Dia tinggal di Bali selama 2 bulan. Minggu pertama, dari jam 9 sampai jam 16, dia bekerja, terus sorenya dia bersantai di pantai Kuta. Akhir pekan dia habiskan di Klungkung. Minggu kedua, Lucy berdiam di Amed. Di minggu kedua, dari jam 9 sampai jam 16, dia bekerja. Setelah itu dia menikmati Amed yang tenang dan tidak hiruk pikuk. Akhir pekan kedua dia habiskan di Bedugul. Lihat perbedaannya?

Dulu kegiatan bekerja dan turisme itu terpisah jelas. Di jaman dulu, Lucy bekerja di kantor di Denmark. Dia datang ke Bali, dia tidak bekerja di Bali, dia berlibur di Bali. Kalau dia bekerja di Bali, dia bakal ditangkap dan dideportasi oleh pihak imigrasi Bali. Sekarang dia bisa bekerja di Bali tapi pihak perusahaannya tidak berdiri di Bali. Jadi dia tidak mengambil lapangan pekerjaan orang Bali.

Nah, pandemi sudah memaksa perusahaan-perusahaan untuk belajar budaya kerja jarak jauh (remote). Memang sih sebagian perusahaan mau balik lagi ke budaya kerja kantor dan meninggalkan budaya kerja remote tapi efeknya akan berbekas dalam. Akan tumbuh banyak perusahaan remote. Karyawan perusahaan remote bisa bekerja dari rumah atau dari Bali.

Eh, siapa bilang orang harus bekerja dari Bali. Tidak ada yang melarang orang untuk bekerja dari Semarang, Bandung, atau Cilegon. Pemerintah memutuskan untuk membuat program Work From Bali itu karena Bali sangat tergantung terhadap pariwisata dan Bali sedang sekarat. Saya sudah mendengar cerita-cerita menyedihkan dari teman saya yang bekerja sebagai direktur hotel di Bali.

Hidup Berpindah-pindah

Jadi Anda bisa hidup berpindah-pindah (jika Anda mau). Saya mengasumsikan Anda memiliki pekerjaan yang fleksibel. Jika belum, ada banyak lowongan pekerjaan remote di luar sana. Anda bisa keliling Jawa dengan gaya hidup nomad. Ketimbang ambil cuti 1 bulan untuk keliling Jawa, Anda bisa keliling Jawa selama 1 atau 2 tahun. Misalnya bulan Januari, Anda tinggal di Sukabumi selama satu bulan. Iya, satu bulan. Biar lebih meresapi suasana di Sukabumi. Bulan Februari, Anda tinggal di Bandung. Bulan Maret, Anda tinggal di Cirebon. Bulan April, Anda tinggal di Tegal. Bulan Mei, Anda tinggal di Semarang. Bulan Juni, Anda tinggal di Salatiga. Dan seterusnya.

Generasi sebelumnya tidak dapat melakukan hal itu. Tapi Anda dapat melakukan hal itu. Iya, sekarang kita sedang dalam masa pemulihan dari pandemi. Jadi mungkin bukan ide yang baik untuk melakukannya tahun ini. Tapi pikirkan kemungkinan ini untuk tahun depan atau dua tahun lagi.

Tentu saja ini dengan asumsi kalau Anda suka jalan-jalan. Saya sendiri bukan penggemar berat gaya hidup nomad. Saya suka travel tapi tidak suka travel amat sangat. Saya kalau berlibur pilihan utamanya yah kalau tidak ke Yogyakarta, yah ke Bali. Saya adalah orang yang membosankan. Kalau saya travel lebih dari dua minggu, saya sudah merasa bosan.

Tren hidup nomad ini adalah peluang bagi Anda yang ingin membuat perintis yang mendukung gaya hidup nomad. Misalnya ketimbang tinggal di hotel, orang mungkin lebih suka kontrak rumah selama satu atau beberapa bulan. Contoh perintis: Zeus.

Bayangkan sebuah perintis yang karyawannya berjumlah 6 orang. Ketimbang bekerja di tempat co-working di Jakarta Pusat, bagaimana jika mereka hidup nomad sebagai satu tim. Mereka menyewa sebuah rumah yang bisa menampung 6 orang, atau dua rumah jika ada pihak lawan jenis. Bulan Januari, perintis ini bekerja di Cilegon. Bulan Februari, perintis ini bekerja di Solo. Bulan Maret, perintis ini bekerja di Malang. Dan seterusnya.

Ketika menulis artikel blog yang sedang Anda baca ini, saya sedang mendengar lagu Bon Voyage, yang merupakan lagu pembuka anime One Piece. Jika Anda tidak tahu tentang anime atau manga One Piece, ia menceritakan tentang kisah bajak laut. Sekelompok orang bertualang dengan kapal laut. Di jaman modern, apa yang saya gambarkan di paragraf sebelumnya itulah yang paling mendekati kehidupan petualangan bajak laut dan masih realistis. Anda tidak mungkin menyewa kapal kan? Berapa harga sewa kapal? Belum masalah koneksi internet.

Hidup sebagai nomad untuk merasakan petualangan sebagai bajak laut di One Piece

Pertemuan dengan Orang Lokal

Banyak orang yang menyebut turisme itu hal yang dangkal karena turis datang ke tempat tujuan tanpa berinteraksi dengan penduduk lokal. Kalaupun ada interaksi, interaksinya dangkal. Mungkin dengan tinggal lebih lama, turis dapat berinteraksi dengan lebih dalam dengan penduduk lokal.

Bayangkan Anda datang ke kota Solo, Anda bisa berjumpa dengan sekelompok mahasiswa yang haus dengan ilmu di dunia perintis. Anda bisa menunjukkan bagaimana men-deploy aplikasi web di awan dengan Ansible. Betul, Anda dapat melakukannya lewat Zoom atau Google Meet dari Jakarta. Saya adalah pendukung budaya kerja remote garis keras. Tapi saya menyadari ada sesuatu di pertemuan laring secara fisik yang tidak dapat Anda temukan di pertemuan remote. Lagipula manusia adalah makhluk sosial yang butuh interaksi sosial laring.

Mungkin sesuatu yang seperti Meetup perlu dibuat untuk menjembatani pertemuan antara penduduk lokal dengan orang yang hidup nomad.

Orang Tua

Anda mungkin menyadari apa yang saya tulis ini cuma berlaku bagi orang lajang. Tapi pasangan suami istri juga dapat melakukannya sepanjang mereka berdua memiliki misi dan visi yang sama. Atau kalau tidak, salah satu pihak mengalah. Mungkin saya perlu buat fitur pilih pasangan dengan gaya hidup nomad ini di situs pencari jodoh saya, SwanLove. 🧳👩‍❤️‍👨

Kalau sudah punya anak? Nah, ini adalah eksplorasi yang sangat menarik. Dapatkah keluarga dengan anak hidup secara nomad? Dua tahun lalu, mungkin saya jawab tidak mungkin. Tapi pandemi memaksa anak-anak untuk belajar secara daring. Tentu saja proses belajarnya tidak sempurna. Banyak anak yang tidak memiliki koneksi internet yang bagus. Tapi ia memberikan sekelumit potensi pembelajaran di masa depan. Kebayang tidak kalau di masa depan ada sekolah daring 100% terlepas dari pandemi atau tidak? Jadi orang tua dengan anaknya bisa hidup sebagai nomad.

Nah, di samping itu ada yang namanya homeschooling. Saya tanya teman saya yang merupakan seorang guru apakah pendapat dia terhadap homeschooling. Dia bilang untuk anak SD tidak masalah. Tapi pas anak sudah SMP, tidak banyak orang tua yang sanggup mengajarkan mata pelajaran seperti fisika kepada anak mereka. Dengan asumsi demikian, orang tua bisa hidup sebagai nomad ketika anak mereka masih TK dan SD. Setelah anak mereka masuk SMP, barulah mereka menetap di sebuah kota dan hidup bahagia selama-lamanya.

Hidup sebagai nomad tidak berarti hidup sebagai nomad sampai Anda meninggal dunia atau pikun. Tapi Anda bisa hidup sebagai nomad selama 5 tahun. Setelah itu Anda menetap di sebuah kota. Dan Anda merasa cukup puas dengan pengalaman hidup nomad 5 tahun.

Lagipula mungkin nanti bakal ada solusi baru bagi orang tua yang memilih homeschooling. Mungkin teknologi bakal jadi canggih di mana anak dapat belajar fisika dengan realitas tertambah (augmented reality). Mungkin ada guru fisika yang dapat mengajar anak Anda di kota-kota tempat Anda hidup sebagai nomad.

Gaya Hidup Baru

Jadi artikel ini ditulis untuk membuka pikiran Anda. Ada tren baru yang bakal mengubah hidup banyak orang, yaitu bekerja jarak jauh (remote). Konsekuensinya adalah orang bisa hidup sebagai nomad. Dulu nenek moyang kita juga hidup sebagai nomad sebagai pemburu dan pengumpul (hunter-gatherer). Ketika jaman pertanian tiba, barulah nenek moyang kita hidup menetap di suatu tempat.

Nah, apa yang ingin Anda lakukan dengan informasi ini terserah Anda. Anda mungkin ingin menjadi petualang seperti Luffy dan bekerja sebagai karyawan remote. Anda mungkin ingin mendirikan perintis yang mendukung tren hidup baru ini. Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk mendukung gaya hidup nomad. Selain contoh perintis yang sudah saya sebutkan, Anda bisa membuat perintis penyewaan motor dengan model langganan. Bayangkan Anda datang ke kota Garut, dengan aplikasi seluler Anda, Anda menyewa motor selama sebulan sebagai transportasi Anda di kota tersebut. Itu dari aspek travel. Anda bisa juga membuat perintis untuk mendukung gaya hidup orang tua yang hidup sebagai nomad. Mereka membutuhkan dukungan dalam pengasuhan anak. Pikirkan masalah apa yang menimpa orang tua dengan anak kecil yang sedang travel.

Striving off the road laid, In between the sky and ocean, We begin rowing our boat, To the dark deep ocean, where an adventure is waiting, Doesn’t it sound fun just imagining it? Traveling through the seas of the world, Roaring our battle cry, When your spirit is ready, let us signal the start.

Dari lagu pembuka One Piece

A ship in harbor is safe, but that is not what ships are built for.

Orang bijak
Categories
bisnis

Ibu

Beberapa hari yang lalu adalah Hari Ibu (Mother’s Day) di Amerika Serikat. Di Twitter, seperti biasa, terjadi banyak drama tentang Hari Ibu ini. Ada yang berbagi cerita bahwa dia menyesal menjadi ibu. Alasannya macam-macam. Ada yang bilang dia tidak bisa travel atau meniti karir gara-gara membesarkan anak. Terjadilah drama. Kemudian ada yang berbagi bahwa dia menjadi ibu pada umur 25 tahun dan dia tidak menyesal. Di Twitter, terjadilah drama.

Inti dari drama ini adalah perdebatan tentang peran perempuan di masyarakat. Di satu pihak, ada yang berpendapat bahwa perempuan harusnya memikirkan perannya sebagai seorang ibu (nilai-nilai kekeluargaan). Di lain pihak, ada yang berpendapat bahwa perempuan harusnya fokus terhadap karir (ekspresi diri). Orang biasa menyebut ketegangan ini sebagai Mommy Wars.

Beberapa bulan lalu, ada artikel yang menceritakan seorang perempuan ingin menjadi ibu rumah tangga 100% setelah melahirkan anak. Seperti biasa, di Twitter, terjadilah drama. Kemudian ada yang melemparkan artikel tentang lumayan banyak perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga untuk membesarkan anak. Di Twitter, terjadilah drama.

Dari tautan artikel di Forbes, kita bisa merangkumkan apa yang diinginkan oleh seorang ibu adalah:

“What every mom wants is time with her kids, financial security and a sense of identity,”

Morgan Steiner

Jadi ada tiga hal yang diimpikan oleh ibu-ibu: waktu dengan anak-anak, keamanan finansial, dan ekspresi diri. Camkan baik-baik hal ini karena kita akan bertemu dengan perjuangan seorang ibu untuk mencapai keseimbangan antara tiga hal ini dan kompromi yang harus diambil oleh seorang ibu.

Identitas diri itu maksudnya punya karir atau usaha sendiri. Jadi identitasnya bukan cuma istri “seseorang” atau ibu dari anak-anak. Yang paling ideal itu seorang ibu mendapatkan hidup seperti yang dialami oleh J. K. Rowling (pengarang Harry Potter) atau Sheryl Sandberg (COO Facebook). Mereka punya karir/usaha sukses, aman secara finansial, punya keluarga dan anak-anak.

Tapi apa daya, kadang hidup itu tidak ideal. Seorang ibu kadang harus memilih.

Jika seorang ibu memutuskan untuk memprioritaskan waktu dengan anak-anak, dia dapat menjadi ibu rumah tangga 100%. Tapi hal ini berarti dia mengorbankan karirnya dan kehilangan ekspresi diri. Jika dia tidak menikah dengan suami yang kaya, berarti dia juga mengorbankan keamanan finansial. Dia harus menurunkan standar hidupnya.

Jika seorang ibu memutuskan untuk memprioritaskan keamanan finansial dan suaminya bukanlah orang kaya, dia harus bekerja. Bekerja 8 jam per hari (di luar waktu pergi ke kantor dan pulang ke rumah) berarti waktu dengan anak-anaknya menjadi lebih sedikit.

Jika seorang ibu memutuskan untuk memprioritaskan ekspresi diri, berarti dia harus lebih bekerja keras untuk mendapatkan karir yang tinggi atau membangun usaha yang sukses. Pengorbanannya adalah waktu dengan anak-anak jadi berkurang.

Kita akan melihat sudut pandang ibu rumah tangga dan ibu karir. Kemudian kita akan mencari jalan tengah (reasonable adaptation).

Ibu Rumah Tangga

Salah satu penyesalan orang ketika hampir mati adalah bekerja terlalu banyak. Orang-orang menyesal tidak menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga.

Tapi penyesalan orang yang lain adalah tidak memiliki keberanian untuk hidup yang sesuai dengan hatinya, malah hidup sesuai dengan yang diharapkan oleh orang lain. Contohnya, Anda ingin jadi dokter, tapi orang tua ingin Anda jadi bankir. Anda jadi bankir dan Anda menyesal.

Hal ini menunjukkan kebanyakan orang tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka tidak cocok dengan hati mereka. Pekerjaan mereka bisa dikategorikan sebagai bullshit jobs.

Manakah yang lebih berharga / lebih bernilai? Menyuap makan anak Anda, mengganti popok anak Anda, menidurkan anak Anda. Atau mengerjakan tiket Jira untuk meningkatkan konversi penjualan minuman manis di landing page sebesar 1%.

Manakah yang akan Anda ingat ketika Anda tua? Melihat anak Anda menangis dan tertawa? Atau saat-saat Anda menulis kode Deep Learning yang bisa meningkatkan penjualan sebesar 10% di situs e-commerce tempat Anda bekerja?

Hanya sedikit orang yang memiliki pekerjaan yang bernilai tinggi bagi masyarakat dan bisa dibanggakan, misalnya dokter bedah otak. Kebanyakan pekerjaan orang itu adalah komoditas. Bagi ibu yang memiliki pekerjaan sebagai dokter bedah otak, memang tidak masuk akal jika dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga 100%. Masyarakat bakal kehilangan seorang dokter bedah otak yang susah dicari. Tapi kebanyakan pekerjaan orang kan tidak seperti itu.

Jika sebagian besar pekerjaan orang adalah komoditas atau bullshit jobs, kenapa tidak menjadi ibu rumah tangga saja. Membesarkan anak adalah hal yang sakral. Memang tidak ada nilai ekonominya di PDB. Tapi kan tidak semua hal harus diukur dari sisi ekonomi.

Ibu Karir

Orang yang berada di kubu ini berpendapat bahwa adalah hal yang bodoh atau beresiko tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga 100%. Ibu itu akan menjadi tergantung terhadap suaminya. Misalnya suaminya menceraikan dia, dan ibu itu harus bekerja lagi, maka ibu itu akan susah mencari pekerjaan karena terdapat kekosongan di karirnya. Perusahaan kebanyakan tidak suka melihat CV di mana ada kevakuman selama beberapa tahun.

Pekerjaan atau karir itu berfungsi sebagai hedge terhadap suaminya. Jika suaminya bertingkah aneh-aneh, makan ibu itu masih memiliki pegangan ekonomi yang kuat.

Selain itu, seorang ibu juga memiliki keinginan untuk mengekspresikan diri atau berkarya di luar perannya sebagai ibu.

Tambahan lagi, pekerjaan juga menjadi wadah bersosialisasi bagi seorang ibu. Mendapatkan teman di masa dewasa itu susah bukan main. Seorang ibu adalah seorang makhluk sosial. Tempat kerja menyediakan tempat untuk menyalurkan hasrat sosial bagi seorang ibu.

Pekerjaan Paruh Waktu

Pada tahun 1930 John Maynard Keynes meramalkan bahwa kita bisa kerja 15 jam per minggu di masa depan (100 tahun setelah 1930). Untuk sebagian orang pada masa sekarang, ada pilihan untuk bekerja paruh waktu. Mungkin tidak 15 jam. Tapi 20-25 jam. Anda bisa menemukan lowongan-lowongan pekerjaan tersebut di situs buatan saya, ParttimeCareers.

Bekerja 20-25 jam berarti bekerja sebanyak 4 jam per hari. Dan jika Anda bekerja di rumah, berarti Anda masih punya banyak waktu untuk membesarkan anak. Sesusah apa sih meluangkan waktu 4-5 jam per hari untuk bekerja? Dengan asumsi, jumlah anak Anda masih wajar-wajar saja (1-2 anak), bekerja paruh waktu masih bisa dilakukan.

Pekerjaan paruh waktu ini adalah solusi bagi ibu yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak dan memiliki penghasilan sendiri.

Membangun Bisnis

Bagaimana jika seorang ibu memiliki ambisi lebih, yaitu membangun bisnis. Dapatkah seorang ibu membangun bisnis sambil membesarkan anak? Yah, jawabannya tergantung banyak hal. Bisnis apakah yang ibu itu mau bangun? Apakah ibu itu mendapat bantuan dari suaminya, orang tuanya, mertuanya?

Membangun perintis itu adalah hal yang intensif, membutuhkan usaha maksimal, dan pemodal memiliki harapan tinggi bagi perintis. Tapi ada bisnis yang lebih santai di mana Anda tidak perlu bekerja 10 jam per hari. Kita biasa menyebutnya sebagai lifestyle business, bootstrap business, bisnis swakarya. Salah satu contohnya adalah Pyimagesearch.

Jika suami dari ibu itu bekerja penuh waktu, maka ibu itu memiliki keamanan finansial untuk membangun bisnis swakarya ini. Dia tidak perlu terburu-buru untuk mendapatkan profit dari bisnis swakarya ini karena suaminya yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini adalah kerja sama yang baik. The husband takes one for the team.

Mungkin bisnis swakarya itu membutuhkan 6 tahun supaya dapat mendapatkan profit yang menggiurkan; tidak masalah. Selama 6 tahun itu, si ibu dapat fokus dalam membesarkan anaknya dan membangun bisnis swakarya. Tidak perlu kerja penuh waktu dalam membangun bisnis swakarya ini. Makanya ini adalah pilihan yang bagus bagi ibu jika dia ingin berbisnis.

Misalnya si ibu ingin membangun bisnis pendidikan tentang Tensorflow. Dia bisa menghabiskan harinya seperti ini. Pagi hari dia membikin makan untuk anaknya, dan menyuap anaknya. Terus dia menemani anaknya bermain. Terus anaknya makan siang. Lalu anaknya tidur siang. Ketika anaknya tidur siang, si ibu bisa menulis blog tentang Tensorflow. Ketika anaknya bangun, si ibu kembali menemani anaknya. Pada malam hari, si ibu dapat melanjutkan penulisan blognya. Anaknya? Suaminya dapat mengambil alih tugas tersebut. Hari Sabtu, si ibu dapat bekerja lebih lama karena suaminya dapat mengurus anaknya. Bayangkan hal ini berjalan selama beberapa tahun. Blog tentang Tensorflow yang ditulis oleh si ibu dapat menjadi populer. Setelah itu si ibu dapat membuat produk premium di atas blognya yang populer itu, misalnya e-book. Dengan begini, si ibu dapat memiliki bisnis sendiri tanpa mengorbankan waktu yang berharga dengan anaknya.

Saya sudah membuat forum Pembangun, yaitu tempat pemrogram mencari ide, berdiskusi tentang bisnis swakarya.

Kebebasan Sebagai Seorang Ibu

Sebagian perempuan takut menikah dan menjadi ibu karena mereka khawatir karir mereka akan mati. Mereka takut akan menjadi terikat di dalam rumah tangga. Tapi dengan strategi yang apik, mereka masih bisa tetap berkarir atau membangun bisnis. Pernikahan dan peran sebagai seorang ibu tidak harus menjadi akhir dari karir seorang perempuan. Dengan pasangan yang tepat, seorang perempuan dapat menyeimbangkan ketiga hal yang diinginkan oleh mereka: waktu dengan anak, keamanan finansial, dan ekspresi diri.

Tapi haruskah seorang ibu bekerja paruh waktu atau membangun bisnis? Yah, suka-suka dia. Kalau dia mau jadi ibu rumah tangga 100%, dan memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya (di luar waktu mengasuh anaknya) dengan menonton Vincenzo atau menulis puisi, atau membaca novel, atau hidup laissez-faire, yah terserah dia. Tidak semua orang harus bekerja untuk memutar roda ekonomi.

Pasangan yang Tepat

Jika saya bertemu dengan perempuan yang tepat, saya tidak masalah menjadi Bapak Rumah Tangga. Istri saya bekerja sebagai VP of Engineering di perintis XYZ misalnya. Saya mengasuh anak. Ketika anak saya tidur, saya bisa mengembangkan karir penulis saya. Saya mau menulis novel yang berjudul Legenda Cinta Buaya Putih di Wattpad. Novel saya tidak menghasilkan uang? Tidak masalah. Kan namanya renjana. Keamanan finansial saya dijamin oleh istri saya.

Makanya saya punya visi di mana perempuan dapat mencari suami yang mendukung strategi menjadi seorang ibu. Siapa yang bertugas menjaga anak? Siapa yang bertugas menjadi bread winner? Jika salah satu pihak mau membangun bisnis swakarya, apakah pihak yang lain mau mendukungnya atau tidak? Mending kerja paruh waktu (lebih aman) atau bikin bisnis swakarya (yang lebih beresiko tapi upside-nya jauh lebih tinggi)?

Makanya di forum Pembangun saya menaruh bidang akun SwanLove supaya orang yang membangun bisnis swakarya bisa mengiklankan dirinya dalam mencari pasangan.

Bidang akun SwanLove

Nanti di ParttimeCareers, rencananya juga begitu. Dengan begitu, seorang perempuan dapat mencari pasangan yang bekerja paruh waktu atau yang membangun bisnis swakarya. Atau dia yang mengiklankan dirinya. Mungkin dia ingin membangun bisnis swakarya, dan dia mencari seorang pasangan yang bekerja penuh waktu (untuk memastikan keamanan finansial bagi rumah tangga).

Menjadi seorang ibu adalah kebajikan sosial yang harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak selayaknya perempuan merasa bersalah jika dia ingin menjadi seorang ibu. Seorang perempuan juga harus merasa aman jika dia ingin berkarir tanpa mengorbankan identitasnya sebagai seorang ibu.

https://twitter.com/thesravaka/status/1391688636069031936?s=19

Selamat Hari Ibu (di Amerika Serikat)! Happy Mother’s Day!

Categories
bisnis pendidikan

Pendidikan Terdesentralisasi

Bahasa kerennya decentralized education.

Salah satu contoh bisnis swakarya adalah bisnis pendidikan atau bisnis info. Misalnya Anda membuat situs yang mengajarkan Vue.js kepada orang-orang. Bisnis pendidikan itu (tergantung bagaimana bentuk pendidikannya) bisa mendapatkan insentif pajak dari pemerintah.

Ada beberapa contoh bisnis pendidikan.

Bisnis Konten

Anda menjual konten premium dalam bentuk video atau buku-el (e-book). Misalnya: Pyimagesearch, Vue School.

Strategi bisnis ini sederhana: menulis blog, menulis buletin (newsletter), membuat produk premium (buku-el / video), membuat produk berbayar langganan untuk mengakses fitur premium (Jupyter Notebook / video). Jangan lupa sering-sering promosi konten di media sosial seperti Twitter atau Facebook.

Kalau Anda mau ambil jalan ini, Anda mesti mengincar pasar global. Pasar Indonesia (sepertinya) belum siap.

Live Coding

Kalau Anda ingin memberikan nilai lebih, jangan cuma menjual konten. Tapi Anda membuat orang-orang bisa langsung belajar pemrograman di aplikasi web Anda. Mirip Codecademy. Tapi ini susah sekali.

Sekolah Vokasi

Nama lainnya bootcamp. Contoh: Hacktiv8, Binar Academy, Purwadhika, Dicoding, Algoritma.

Sekolah vokasi juga menawarkan pelatihan ke perusahaan (corporate training). Jika Anda ingin bergerak di bidang ini, Anda harus memiliki relasi yang baik dengan perusahaan-perusahaan (untuk menyalurkan lulusan Anda). Selain itu Anda juga harus memiliki teknik penjualan yang sangat baik jika Anda ingin menawarkan pelatihan ke perusahaan. Sekolah vokasi itu B2C (tapi bisa juga B2B). Pelatihan ke perusahaan itu jelas-jelas B2B.

B2C = Business to Consumers

B2B = Business to Business

Singkatan dari B2B dan B2C

Untuk membangun bisnis sekolah vokasi / bootcamp, Anda harus memikirkan solusi finansial bagi murid-murid Anda. Pasti banyak yang tidak sanggup bayar puluhan juta Rupiah dengan tunai. Belasan juta Rupiah saja masih bikin orang ragu-ragu. Apakah solusinya berupa pinjaman pendidikan, ISA (Income Sharing Agreement), NFT (Non-Fungible Token)? Nanti akan saya bahas di artikel mendatang.

Kalau Anda nasionalis dan idealis, mungkin ini adalah jalan bagi Anda untuk berbakti kepada tanah air. Indonesia bakal kekurangan bakat digital sebesar 9 juta orang.

Spesialisasi

Nah, di artikel ini saya mengajak Anda untuk menjadi pengusaha bisnis pendidikan swakarya. Tapi bagaimana bersaing dengan sekolah vokasi yang sudah mendapatkan pendanaan puluhan milyar Rupiah? Caranya adalah spesialisasi.

Ketimbang mengajarkan full-stack programming, Anda bisa fokus ke algoritma saja, atau CSS saja, atau back-end programming saja, atau basis data saja. Bangun reputasi Anda di atas pilihan Anda baik dengan kontribusi ke proyek open source, atau menulis blog yang berkualitas.

Setelah itu Anda bisa menjual konten dalam bahasa Inggris ke pasar global. Anda juga bisa memberikan pendidikan langsung (live mentorship) lewat Zoom atau Google Meet kepada saudara-saudari Anda di tanah air. Jadi jual konten (dalam bahasa Inggris) dan kasih pengajaran langsung (dalam bahasa Indonesia) adalah kombo yang efektif.

Anda mungkin ragu dengan strategi spesialisasi ini. Apakah dapat mendatangkan uang yang cukup banyak? Jangan salah! Ada orang yang berhasil mendapatkan setengah juta USD dari membuat kursus CSS saja.

Desentralisasi

Spesialisasi ini cocok dengan aspek desentralisasi. Ketimbang mendirikan sekolah vokasi besar dengan pendanaan ratusan milyar Rupiah yang saya namakan sebagai RumahArjunaSkyKok, mending saya mengajak Anda bergotong royong dengan sistem desentralisasi.

Misalnya saya mengajak 5 orang, yaitu Budi, Susi, Joko, Dono, Ayu. Budi membangun bisnis pengajaran algoritma (linked list, dynamic programming, dll). Susi mendirikan bisnis pengajaran NLP (Natural Language Processing, bukan Neuro-Linguistic Programming). Joko mengajar CSS. Dono memutuskan untuk terjun di bidang Laravel. Ayu fokus di basis data (PotgreSQL, MySQL).

Masing-masing bisnis ini berada di payung yang berbeda. Bisnis pengajaran algoritma oleh Budi namanya BudiMengajarAlgoritma. Bisnis pengajaran Laravel dari Dono namanya LaravelKeren.

Nah, bisnis pendidikan ini bisa dilakukan oleh satu atau beberapa orang. Tidak butuh dana besar. Yang penting mereka gigih membuat konten dan memasarkan bisnis mereka di media sosial. Untuk menjangkau perusahaan-perusahaan, mungkin mereka bisa membuat perusahaan patungan sebagai perusahaan cangkang untuk menjual jasa pelatihan ke perusahaan. Mereka bisa berbagi tenaga penjual dalam menjual jasa pendidikan mereka ke klien perusahaan.

Sertifikat

Mereka bisa mengeluarkan sertifikat sendiri. Tapi bisa juga orang lain yang mengambil bisnis sertifikat ini. Ambil contoh di atas. Ayu mengajar basis data dan SQL. Tapi sertifikat kompetensi SQL bisa dikeluarkan oleh pihak lain, misalnya Ringo. Hal ini mirip dengan uji coba IELTS di mana pembelajarannya terpisah dengan ujiannya. Anda bayar untuk ujiannya.

Kalau Anda sudah mendapatkan sertifikat kompetensi basis data dan SQL dari Ringo, itu tandanya Anda memiliki memiliki kemampuan di basis data dan SQL. Ringo itu mengadakan ujian yang benar-benar jujur. Anda tidak bisa menyuap dia atau berlaku curang. Masalahnya ujiannya seperti apa, itu tidaklah relevan dengan artikel ini. Bisa saja Ringo menggunakan ProctorU, atau mengadakan ujian di lapangan, atau memberi ujian lewat Zoom. Jika lulusan sertifikat SQL dari Ringo terbukti tidak becus, nanti reputasi Ringo bakal hancur. Makanya kadang-kadang mereka yang mengeluarkan sertifikat mesti dipisahkan dari mereka yang mengajar materi tersebut.

Nah, sertifikat ini bisa ditaruh di situs dan diakses dengan API atau perambah. Misalnya: saya sudah lulus kursus Self-Driving Car Engineer Nanodegree dan Robotics Software Engineer Nanodegree dari Udacity.

Sertifikat Nanodegree SDC dan robotik

Sertifikatnya bisa diakses di https://graduation.udacity.com/confirm/DZLSTGVG dan https://graduation.udacity.com/confirm/SKJZCLSS.

Sertifikat juga bisa ditaruh di blockchain dan ditandatangani dengan kunci digital dari pihak yang mengeluarkan sertifikat itu.

Dengan begini saya bisa membuat keperluan kompetensi apa yang saya cari dari seseorang dan orang itu bisa memberikan bukti kompetensinya. Saya tinggal akses dari blockchain atau situs.

Misalnya saya mencari pemrogram back-end untuk aplikasi web saya, SwanLove. Ini adalah keahlian yang saya cari:

  1. Algoritma dan struktur data
  2. Basis data
  3. Ansible
  4. Google Cloud Platform
  5. Python
  6. Django

Nah, orang yang ingin bekerja di tempat saya bisa mengambil kursus algoritma dan struktur data dari Budi. Bisa juga orang itu belajar sendiri dari internet atau buku. Dia bisa ambil ujian algoritma dari Budi atau tempat lain. Dia ambil kursus Python dari Susanti. Dia ikut ujian Django dari Sakura.

Setelah dia merasa kompetensinya cukup, dia bisa kirim lamaran kerja kepada saya. Saya melihat dia memiliki sertifikat di Django, basis data, algoritma dan struktur data, Python. Saya bisa cek sertifikatnya dari blockchain dan mengecek apakah pemilik sertifikat ini benar-benar orang yang mengirim lamaran kerja ini dari tandatangan digital yang dia kirim. Atau saya bisa cek dari situs dan memastikan namanya sama (dan beberapa info pendukungnya cocok).

Orang ini masih belum terampil di bidang Ansible dan Google Cloud Platform. Tidak apa-apa. Dari 6 keahlian yang saya minta, orang ini sudah membuktikan dia memiliki 4 keahlian yang saya cari. Not bad.

Jadi ketimbang Anda mendirikan sekolah vokasi besar yang mengajarkan algoritma dan struktur data, basis data, Ansible, Google Cloud Platform, Python, Django, Anda memutuskan untuk fokus di satu bidang. Strategi ini tidak membutuhkan dana besar. Lebih mudah untuk membangun reputasi di satu bidang.

Kursus Pendidikan Pemrograman Terdesentralisasi

Kita bisa berkoordinasi di forum Pembangun! Anda juga bisa membangun reputasi di forum Pembangun. Jangan khawatir! Anda tetap mempertahankan jenama (brand) Anda. Anda tetap mempertahankan daftar murid-murid Anda.

Selamat Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2021)!