Categories
kepercayaan diri perintis startup

Bagaimana Mencari Jodoh Lewat Linkedin

Suatu hari saya membaca kiriman dari seorang perempuan di lini masa Linkedin saya. Ada seorang pria yang mengirim pesan romantis kepada perempuan itu. Perempuan itu menulis bahwa tidak pantas hal itu dilakukan di Linkedin, tempat para profesional berbagi. Yang saya maksud sebagai pesan romantis itu misalnya seperti, “Hai, yyy sudah punya pacar belum?”, “Apakah sudah ada yang bilang kamu cantik hari ini?”, dan sejenisnya. Terus lanjut perempuan itu, kalau mau cari jodoh, cari saja di Tinder. Intinya hormatilah kesakralan ruang digital Linkedin. Hanya hal-hal profesional yang boleh dilakukan di Linkedin.

Banyak orang mengaitkan Linkedin sebagai tempat kerja. Jadi tidak pantas hal-hal yang berhubungan dengan pencarian jodoh itu dilakukan di tempat kerja. Nah, opini terbelah apakah boleh mencari pacar di kantor atau tidak? Ada yang berpendapat bahwa kita tidak boleh cari pacar di kantor. Ada yang berpendapat sebaliknya. Masing-masing alasan mereka kuat. Saya sendiri sudah melihat beberapa teman saya menemukan jodohnya di kantor dan sampai melanjutkan ke jenjang pernikahan. Terus kadang-kadang saya intip akun media sosial mereka. Mereka masih mesra-mesra saja. Syukurlah. Jadi saya berada di pihak “boleh cari pacar di kantor” tapi dengan syarat hubungan kerja antara mereka horizontal bukan vertikal. Jadi CEO perusahaan seharusnya dilarang untuk menjalin hubungan dengan sekretaris karena perbedaan kekuatan posisi mereka terlalu jomplang. Tapi sesama karyawan yang bekerja sebagai pemrogram web misalnya, kenapa tidak?

Nah, jika mencari jodoh di kantor fisik / laring kita anggap boleh-boleh saja, mari kita kembali ke ruang digital Linkedin. Ada beberapa aspek yang menarik jika kita boleh mencari jodoh di Linkedin. Misalnya ketika Anda melihat orang ini bekerja sebagai VP of Marketing di sebuah perusahaan teknologi, dan Anda terkesan melihat pencapaiannya. Anda juga sering melihat kiriman dia di lini masa Anda. Anda suka kiriman-kiriman dia yang mencerahkan di dunia pemasaran. Anda ingin berhubungan secara romantis (bukan secara profesional) dengan dia. Tapi Anda tidak berani untuk mengirimkan pesan romantis. Anda tidak mau terlihat sebagai pria / perempuan yang norak dan tidak profesional. Jadi Anda memendam hasrat Anda.

Tapi Anda sesekali berpikir bagaimana jika orang itu terbuka untuk didekati secara romantis? Tapi bagaimana Anda tahu? Terlalu besar resikonya jika Anda mengirim pesan kepada orang yang tidak mau diganggu oleh pesan-pesan romantis. Andai Linkedin punya fitur dating. Jadi bagi orang-orang yang terbuka untuk didekati secara romantis, ada semacam lencana di profil Linkedin mereka. Atau mungkin latar belakang warna di halaman profil Linkedin mereka itu berubah menjadi merah muda. Dengan begitu, kita bisa membedakan orang-orang yang ingin mencari jodoh dan orang-orang yang cuma mau kerja saja di Linkedin.

Jadi akhirnya saya membuat situs di mana orang-orang bisa verifikasi profil Linkedin mereka dan memberi ‘suka’ ke akun Linkedin yang mereka suka. Begini cara kerjanya. Misal Anda adalah pemilik akun Linkedin dengan URL https://www.linkedin.com/in/aragorn-son-of-arathorn (segala kebetulan amatlah disesalkan). Di Linkedin, “aragorn-son-of-arathorn” itu disebut sebagai vanity name. Anda mendaftarkan diri ke situs saya dan memasukkan vanity name akun Linkedin Anda ke situs saya. Terus Anda mendapatkan kode verifikasi Linkedin yang saya hasilkan secara otomatis. Bentuknya kode heksadesimal sepanjang 40 karakter, misalnya c386B4513cC7ECdcfE8Edb39e3f20856E2bb4A4d. Nah, Anda harus membuat kiriman publik (public posting) dengan akun aragorn-son-of-arathorn yang berisikan kode heksadesimal itu. Terus Anda masukkan URL kiriman publik itu misalnya seperti http://www.linkedin.com/posts/pesan-moral-dari-fellowship-of-the-rings-3242342342 ke situs saya. Robot saya akan mengecek apakah ada kode heksadesimal di kiriman publik Linkedin itu dan penulisnya apakah sama dengan vanity name akun Linkedin yang Anda daftarkan itu. Jika sama, maka terbukti Anda adalah keturunan yang sah dari Isildur, Raja Gondor, eh maksud saya pemilik akun Linkedin aragorn-son-of-arathorn yang sah.

Kemudian di halaman Linkedin Like, Anda bisa memberi “suka” kepada pemilik profil Linkedin dengan vanity name arwen-daughter-of-elrond. Kemudian Pemilik akun arwen-daughter-of-elrond mendaftarkan diri ke situs saya dan memverifikasikan akun Linkedin-nya. Dia memberi suka kepada Anda, pemilik akun aragorn-son-of-arathorn. Cuoocok! Anda akan mendapatkan informasi bahwa perasaaan Anda mutual.

Anda lihat dengan begini, kalian bisa mengirimkan rasa suka kepada orang tidak di Linkedin, tapi tetap berbasiskan profil Linkedin. Jika seandainya pemilik akun arwen-daughter-of-elrond tidak berniat untuk mencari jodoh, dia bisa untuk tidak memakai situs saya. Tidak ada yang dirugikan. Dia tidak tahu apakah ada orang suka sama dia atau tidak. Jika satu pohon jatuh dan tidak ada orang yang mendengarnya, apakah ada suaranya?

Nah, rasa suka itu bisa bersifat rahasia atau publik. Jika rasa suka itu bersifat “rahasia”, maka orang yang disukai itu harus suka balik untuk tahu siapa yang suka dia. Jika rasa suka itu bersifat “publik”, maka orang yang disukai itu bisa melihat siapa yang suka dia di daftar tersendiri.

Situsnya? https://swan.love

SwanLove

Nah, berarti pertanyaannya terjawab sudah. Bagaimana cara mencari jodoh di Linkedin? Pakai aplikasi web yang aku bikin, SwanLove 🦒❀️.

Pada saat ini aku ingin berhenti sejenak untuk merayakan momen kemenanganku. Ketika Anda membaca judul artikel ini, apa yang Anda pikirkan? Apakah Anda membayangkan saya akan mengajarkan rahasia cara menulis pesan ke perempuan/pria yang bisa melumerkan hati mereka? Apakah Anda pikir saya akan memberi ajaran rahasia untuk menganalisa profil mana yang cocok untuk didekati secara romantis atau tidak? πŸ˜‚

倩才です
倩才です

Saat ini saya membayangkan saya adalah penulis cerita yang memberikan kejutan isi cerita (plot twist) kepada pembaca, layaknya penulis novel Agatha Christie yang memberi kejutan kepada pembacanya lewat Hercule Poirot.

Setelah merasakan rasa kemenangan 😎, mari saya lanjutkan penjelasan tentang SwanLove. Aplikasi web ini selain memberi Anda tempat untuk mencari jodoh di Linkedin, Anda juga bisa mencari jodoh lewat preferensi film / seri TV (fitur masih dalam pengembangan, bakal selesai akhir bulan November 2020). Misalnya Anda menulis Anda sedang menonton Queen’s Gambit, maka nanti ada halaman siapa saja yang menonton Queen’s Gambit di kota tempat anda tinggal. Nanti Anda tinggal menyaring daftar itu berdasarkan preferensi calon jodoh Anda.

Ke depan, selain film, Anda akan bisa mencari jodoh berdasarkan preferensi buku, restoran, musik. Misalnya Anda bisa mencari pasangan yang sama-sama menggemari masakan Padang!

Kopi Darat

Bayangkan saya sedang ada di cafe. Sambil menyeruput Americano, saya sedang menulis tulisan di Linkedin tentang studi kasus bahwa pemrogram Python kehidupan asmaranya lebih sukses daripada pemrograman PHP. Saya tersenyum nakal karena yakin bahwa kiriman ini akan ramai dilihat orang. Huehuehue. 🀣🀣🀣

Kemudian saya melihat seorang perempuan yang sangat menarik, duduk tidak jauh dari saya. Paras dia berkilau seperti bulan purnama yang terrefleksikan sempurna di danau. Dia sedang membaca buku. Buku apa yang sedang dibacanya? Oh, Tuhanku. Buku karangan Haruki Murakami. Hatiku sekejap meleleh seperti lilin yang terbakar api asmara. Kepala saya pusing. Jadi saya coba menoleh ke arah lain ruangan. Pandangan saya menangkap seorang perempuan yang duduk sambil melihat ke laptopnya itu. Wanita itu memiliki aura misterius seperti gua di kedalaman hutan yang berbisik ke telinga saya dengan suara samar-samar, “Masuklah.”

Bayangkan salah satu di antara dua perempuan ini terbuka menerima pendekatan romantis. Salah satunya tidak terbuka dan dia bakal marah jika diganggu ketika melakukan aktivitasnya. Pertanyaannya adalah bagaimana memisahkan mereka berdua? Idealnya mereka memakai semacam beacon yang memancarkan cahaya merah yang artinya “Jangan ganggu saya” dan cahaya hijau yang artinya “Saya terbuka terhadap pendekatan romantis”. Atau cafe itu memiliki dua ruangan. Ruangan pertama dikhususkan bagi orang yang tidak mau diganggu. Ruangan kedua dikhususkan bagi orang yang terbuka terhadap pendekatan romantis.

Hal ini lebih baik daripada menerka ala Machine Learning karena harga false positive (mendekati perempuan yang tidak mau diganggu) adalah sangat tinggi. Anda mungkin merusak suasana hati perempuan itu. Kita (sebagai pria) harus memikirkan pihak yang didekati. Kalau cuma masalah malu ditolak, itu bukan masalah besar. Masalah mendekati perempuan di tempat umum ataupun pribadi harus mempertimbangkan sisi perempuan, bukan cuma sisi pria. Kita (sebagai pria) tidak boleh cuma memikirkan bagaimana cara menumbuhkan keberanian untuk mendekati perempuan. Tapi kita harus memikirkan juga apakah perempuan itu merasa nyaman didekati oleh pria.

Jika Anda ingin berempati kepada perempuan di tempat umum, bayangkan Anda sebagai pria sedang duduk di cafe dan sedang membaca artikel penulis blog legendaris, Arjuna Sky Kok. Kemudian ada orang yang mendekati Anda dan mau mengajak Anda berdialog. Oh, bukan perempuan menarik yang mendekati Anda tapi orang yang mau menjual suplemen kesehatan MLM. Bagaimana perasaan Anda?

Sejujurnya saya pernah mengajak perempuan yang tidak dikenal berbicara dan berkenalan di cafe. Waktu itu saya sedang duduk di cafe sambil membunuh waktu. Kemudian ada perempuan yang duduk di samping saya. Jadi saya mengajaknya mengobrol. Dia baru lulus kuliah hukum dan kita membicarakan tentang Hotman Paris. Jadi saya tidaklah anti terhadap ide mendekati orang di tempat umum. Tapi saya berpikir apakah ada jalan yang lebih baik untuk berkenalan dengan orang di tempat umum tanpa mengganggu orang yang tidak mau diajak berkenalan.

Pembagian kategori antara orang yang tidak mau didekati secara romantis dan orang yang mau didekati secara romantis ini jika diterjemahkan ke struktur data, artinya kita membuat satu kolum dengan tipe data boolean atau 8-bit integer. 0 artinya tidak mau, 1 artinya mau. Betul?

Bayangkan data preferensi kedua perempuan itu disimpan di sebuah table di basis data PostgreSQL. Perempuan pembaca novel Haruki Murakami nilainya adalah 1 (terbuka untuk didekati). Perempuan yang menggunakan laptop nilainya adalah 0 (jangan diganggu).

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya sedang merantau di Bali. Saya pengangguran. Jika saya tidak jalan-jalan melihat keindahan Bali, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku di Gramedia. Iya, saya memperlakukan Gramedia seperti perpustakaan πŸ™ˆ. Saya miskin, tidak mau beli buku terus baca di cafe. Jadi saya berdiri dan baca buku berjam-jam di Gramedia. πŸ˜‚

Kemudian suatu hari saya mendapat secarik kertas dari karyawan Gramedia. Kertas ini adalah ajakan berkenalan dari seorang perempuan. Ada nomor hp tertulis di sana. Kemudian saya mengobrol dengannya setelah keluar dari Gramedia. Bukan cuma pria yang mendekati perempuan di tempat umum. Perempuan juga. Nah, hal ini memberi saya ide.

Bayangkan saya memakai aplikasi seluler (mobile app) yang namanya SwanLove. Saya melihat adakah orang yang terbuka terhadap pendekatan romantis atau tidak. Oh, ternyata ada 1 orang di cafe ini, yaitu pembaca novel Haruki Murakami. Kemudian saya mengirim proposal pendekatan romantis kepada dia. Si pembaca Murakami mendapat notifikasi dan melihat ada pria yang mau mengajaknya berkenalan. Oh, pria ini adalah Machine Learning Engineer yang bekerja di Gojek (ini adalah contoh, saya tidak bekerja di Gojek). Naisssss! Tampangnya tidak buruk-buruk amat. Jadi dia mengiyakan dan saya datang ke mejanya. Masalah terselesaikan. Perempuan yang memakai laptop itu tidak terganggu entah karena dia tidak memakai aplikasi SwanLove atau dia memasang statusnya “Sibuk”.

Fitur ini akan dikerjakan. Tunggu ya!

Daya Tarik

Kembali ke SwanLove yang sekarang. Ada halaman “Be Attractive” di mana di situ tersedia berbagai sumber untuk peningkatan diri. Premis saya sederhana. Orang-orang tertarik dengan orang yang daya tariknya tinggi. Tapi orang-orang yang daya tariknya tinggi ini juga tertarik terhadap orang-orang yang memiliki daya tarik tinggi. Jadi untuk sukses di pencarian jodoh, seseorang itu harus menjadi orang yang memiliki daya tarik tinggi.

Jadi apa saja yang menjadi daya tarik seseorang itu? Kita mulai dari gajah di ruangan. Muka yang tampan atau cantik. Muka yang simetris. Orang-orang seperti ini diperlakukan lebih baik oleh masyarakat. Mereka mendapat hukuman yang lebih ringan. Mereka diperlakukan lebih ramah. Mereka mendapat pasangan dengan jauh lebih mudah.

Kecuali Anda menggunakan cara ekstrim seperti operasi plastik, tidak ada hal-hal yang Anda dapat lakukan untuk mengubah muka Anda. Jadi kita tidak akan terlalu memusingkan hal ini.

Selain wajah simetris, hal-hal yang membuat orang memiliki daya tarik tinggi adalah kombinasi dari penghasilan, kekayaan, tinggi badan, berat badan, kesehatan fisik, intelejensi, status sosial, kharisma, kekuasaan, karakter. Semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi daya tarik Anda. Semakin sehat fisik Anda, semakin tinggi daya tarik Anda. Semakin pintar, semakin tinggi daya tarik Anda. Dan seterusnya. Jadi kita bisa merumuskan daya tarik orang itu sebagai berikut.

Daya tarik = a * kekayaan + b * penghasilan + c * tinggi badan + d * berat badan + e * kesehatan fisik + f * intelejensi + g * status sosial + h * kharisma + i * kekuasaan + j * karakter + k * umur

Jika Anda melihat rumus ini, Anda bisa lihat bahwa ada banyak faktor yang menyumbang ke daya tarik. Artinya jika salah satu faktor itu jelek nilainya, maka Anda bisa menyeimbangkannya dengan faktor lain. Mari kita ambil contoh. Tapi sebelumnya mari kita ubah rumusnya untuk kepentingan pemahaman yang lebih baik.

Daya tarik = a * kekayaan + b * tinggi badan

Semakin kaya, semakin tinggi daya tarik orang itu. Semakin tinggi orang itu, semakin tinggi daya tarik orang itu.

Suatu hari di masa lampau saya sedang berbincang-bincang dengan teman saya yang perempuan. Entah kenapa kita membicarakan si A. Si A itu adalah pria yang berasal dari keluarga sangat kaya. Levelnya sudah Crazy Rich Asians. Istri dia itu lebih tinggi dan sangat cantik. Teman saya yang perempuan itu bercanda bahwa kekayaannya memberi tambahan tinggi badan kepada si A. Mungkin tambahannya itu sekitar 3-4 buku yang masing-masing tebalnya 500 halaman.

Nah, si A jika dibandingkan dengan pria yang tinggi daya tariknya pasti kalah. Tapi karena kekayaannya, nilai total daya tarik dia tetap tinggi. Camkan hal ini karena ke depan Anda tidak akan mau terlalu fokus ke satu faktor untuk meningkatkan daya tarik Anda. Kita akan menggunakan strategi menggunakan kombinasi dari beberapa faktor untuk menutup kelemahan suatu faktor.

Manusia itu Dangkal

Nah, sampai di sini, mungkin ada yang berpikir, “Kenapa kita harus sedangkal ini? Kenapa kita tidak mencari pasangan berdasarkan karakter saja?” Karakter maksudnya keramahan hati, kedermawanan, keberanian, dll.

Bayangkan di tahun 2040, terjadi diskusi di DPR di Indonesia. Anggota perwakilan DPR yang terhormat sedang menggodok RUU Pencarian Jodoh. Anggota DPR dari partai A yang perempuan berkilah, “Kita harus memberi kesempatan yang adil kepada perempuan. Mulai sekarang kita akan mengkriminalisasi atau minimal memberi denda kepada pria yang menolak perempuan yang kelebihan berat badan.” Kemudian anggota DPR dari partai B yang pria menjawab, “Baiklah begitu. Kami juga meminta agar perempuan untuk tidak menolak pria yang lebih pendek dari mereka.” Terjadilah perdebatan sengit.

Akhirnya RUU selesai dengan beberapa kompromi dan disahkan menjadi UU oleh Presiden NKRI. Isi UU Pencarian Jodoh itu kira-kira seperti ini.

“Barangsiapa yang menolak calon jodoh berdasarkan kriteria fisik seperti wajah, tinggi dan berat badan akan mendapatkan hukuman pidana selama-lamanya 5 tahun penjara dan denda sebesar-besarnya Rp 500 juta atau 2 BTC. Pengecualian kriteria fisik yang boleh dipertimbangkan dalam pencarian jodoh adalah kesuburan, ketiadaan penyakit mematikan seperti kanker, diabetes, dll.”

Dua minggu setelah diberlakukan UU Pencarian Jodoh itu, seorang perempuan dengan lugunya mengirim story ke akun Instagram dia yang menceritakan bahwa dia baru saja menolak seorang pria yang mendekatinya karena pria itu tidak setinggi dia. “Kan jadi tidak sedap dipandang mata kalau kita jalan berduaan.” Tidak sedap dipandang mata….

Seorang pengawas media sosial dari pemerintah melihat story itu, dan dia langsung menekan tombol seperti karakter di Among Us ketika ingin mengadakan pertemuan untuk mencari impostor.

Among Us, tekan tombol
Ciduuuk!

“Ciduk,” teriaknya. Kemudian perempuan itu dibawa oleh polisi ke ruang interogasi. Perempuan yang ketakutan itu disuruh memilih bahasa interogasi (Indonesia atau Inggris) dan minuman (teh atau kopi) di layar iPad. Dia memilih teh tawar dan bahasa Inggris. Kemudian datanglah sepasang petugas yang mengenakan pakaian serba hitam (seperti Men in Black) dan kacamata hitam (padahal di dalam ruangan). Setelah basa-basi dan sopan santun sekadarnya saja, salah satu dari mereka yang mukanya agak jerawatan berkata, “Ms. Ayu Ajeng Saraswati, do yo admit that you have discriminated a man who flirted with you based on height?”

Ayu menjawab dengan terbata-bata, “B-ut b-ut I was… I…. I was just joking.”

“ANSWER THE QUESTION,” teriak petugas satunya lagi seperti Batman berteriak saat menginterogasi penjahat atau kriminal di Gotham City. Kemudian partner petugas itu menenangkan dirinya.

Petugas yang jerawatan itu berkata, “Please, take your time, Ms. Ayu. You can drink your tea first before answering the question.” Oh, mereka memakai strategi bad cop dan good coop.

Setelah interogasi selama 20 menit, karena pelanggaran pertama, perempuan itu mendapat hukuman sosial, yaitu menulis “Saya berjanji tidak akan mendiskriminasikan pria berdasarkan tinggi badan.” 2000 kali di papan tulis.

Kemudian sepasang petugas itu mendapat notifikasi di kacamata hitam mereka. Ada tersangka baru, seorang pria menolak perempuan karena kelebihan berat badan.

Hal-hal ini baru menyangkut fisik saja belum menyangkut hal-hal dangkal lainnya seperti kekayaan, penghasilan, status sosial, dll. Jika semua orang “dipaksa” untuk mencari jodoh hanya berdasarkan aspek yang dalam seperti karakter, banyak yang akan gagal. Jika mencari jodoh berdasarkan hal-hal yang dangkal itu dikriminalisasikan, lebih dari 90% anak muda akan masuk penjara.

Sudah saatnya kita menoleransi hal-hal ini (asal masih dalam batas-batas wajar). Tidak apa-apa mencari pasangan berdasarkan kriteria dangkal seperti fisik, kekayaan, dll.

Pria dan Perempuan Mencari Hal yang Berbeda

Dari cerita di atas, Anda bisa lihat saya memberi kriteria yang berbeda bagi pria dan perempuan. Pria dihakimi berdasarkan tinggi badan. Perempuan dihakimi berdasarkan berat badan. Tidak berarti tinggi badan tidak berpengaruh terhadap daya tarik seorang perempuan. Tidak berarti berat badan tidak berpengaruh terhadap daya tarik seorang pria. Perempuan yang tinggi memiliki daya tarik yang lebih tinggi daripada perempuan dengan tinggi biasa-biasa saja. Tapi perbedaan daya tarik antara mereka berdua tidaklah signifikan. Perbedaan tinggi 15 cm di perempuan misalnya tidaklah berarti banyak bagi pria. Pria tidak ambil pusing. Tapi perbedaan tinggi 15 cm di pria berarti sangat banyak. Pria yang lebih pendek 15 cm peruntungan asmaranya jauuuuh lebih buruk daripada pria yang lebih tinggi (dengan asumsi aspek lain mereka nilainya sama).

Apa yang sangat dicari oleh pria dari perempuan dan apa yang sangat dicari oleh perempuan dari pria itu berbeda. Berbeda jauh.

Karena perbedaan di antara mereka berdua ini, pria dan perempuan mendapat julukan yang tidak enak: Men are ***s, women are ***********s.

Sudah saatnya kita berempati kepada lawan jenis. Kita harus memahami kenapa mereka mencari apa yang mereka cari. Kita akan membahas masing-masing faktor yang berkontribusi kepada daya tarik dan perbedaannya terhadap pria dan perempuan. Mari kita mulai dengan kekayaan dan penghasilan.

Kekayaan dan Penghasilan

Bagi pria, hal ini mungkin adalah faktor yang paling penting dalam menambah daya tarik ke dalam hidupnya. Usaha untuk meningkatkan sektor ini memiliki ROI (Return of Investment) yang paling tinggi dibandingkan sektor lain. Kenapa? Karena perempuan menghakimi pria berdasarkan kekayaan dan penghasilannya dengan keras (dalam mencari jodoh).

Seorang perempuan membuat utas di Twitter yang memasang syarat bagi pria sebagai jodohnya. Salah satu syaratnya adalah berpenghasilan Rp 30 juta / bulan. Tentu saja utas dia memancing keriuhan di dunia Twitter.

Bukan cuma dia yang memasang standar penghasilan bagi pria, banyak teman-teman saya yang perempuan memasang standar gaji, cuma mereka tidak berani mengungkapkannya di depan publik.

Beberapa waktu yang lalu saya makan malam dengan teman platonik perempuan saya. Kita bertukar kabar. Terus saya tanya apa kriteria pacar dia? “He needs to make more than me,” jawabnya. Saya tanya ada standar gaji tidak karena “make more” itu masih ambigu. Dia pasang harga Rp 50 juta per bulan. LIMA PULUH JUTA PER BULAN. Nah, jika Anda pikir Rp 30 juta itu tinggi, mungkin Anda perlu bertemu dengan teman saya. Dia sekarang menjalin hubungan dengan CEO perusahaan multinasional yang gajinya RATUSAN JUTA RUPIAH PER BULAN.

Kemudian kita membahas teman dia (perempuan) yang memasang kriteria pacar seperti ini. Pacarnya boleh berpenghasilan lebih rendah daripada dia, tapi perbedaannya tidak boleh signifikan.

Beberapa tahun lalu saya berbincang-bincang dengan teman Jepang saya yang perempuan. Kita membahas tentang kriteria pacar. Intinya, “No shigoto (δ»•δΊ‹), no dating.”

Jadi bagi pria (jika ingin sukses di perjodohan), nasihat saya adalah kejarlah uang mati-matian.

Hal ini berbeda bagi perempuan. Banyak pria yang tidak mempermasalahkan untuk berpasangan dengan perempuan pengangguran (dengan asumsi perempuan itu memiliki nilai tinggi di beberapa faktor lainnya). Perempuan itu berpenghasilan Rp 6 juta / bulan atau Rp 60 juta / bulan, perbedaan daya tarik mereka tidaklah jomplang (dengan asumsi faktor lain nilainya sama).

Sampai di sini pasti ada di antara kalian yang beranggapan bahwa tulisan ini adalah konspirasi untuk menghambat persamaan gender (gender equality) di bidang penghasilan. Mari kita jujur. Penghasilan pria itu rata-ratanya adalah lebih tinggi daripada penghasilan rata-rata perempuan. Jadi ada gerakan untuk menutup kesenjangan ini sampai tidak ada perbedaan berarti di antara penghasilan rata-rata pria dan perempuan.

Saya mendukung gerakan di atas tapi saya juga mendorong para pria untuk berpenghasilan sebesar mungkin supaya mereka sukses mencari jodoh.

What?!!!!

Hal ini seperti paradoks kan? Sepertinya saya mendukung 2 hal yang berlawanan. Saya mendukung gerakan perempuan untuk meningkatkan penghasilan mereka sehingga perbedaan gaji antara perempuan dan pria tidak berbeda jauh atau sama. Saya juga mendukung gerakan pria untuk berpenghasilan setinggi mungkin sehingga mereka menjadi pria yang menarik di mata perempuan.

Jackie Chan meme
Pusing kepala saya!!!

Izinkan saya menjelaskan paradoks ini. Dua hal ini tidak bertentangan. Anggap ada 1 perempuan dan 1 pria yang namanya Sakura dan Lee. Mereka sama-sama berpenghasilan Rp 3 juta. Kemudian saya kasih nasihat kepada Lee untuk menaikkan gajinya supaya daya tarik dia menjadi lebih tinggi.

Hai, sensei! (Baiklah, Guru!)” jawab Lee. Kemudian dia berlatih pemrograman supaya mendapat pekerjaan sebagai pemrogram di perusahaan teknologi A dengan gaji Rp 10 juta. Lee akhirnya mendapat pekerjaan itu. Jadi ada kesenjangan Rp 7 juta di antara penghasilan Sakura dan Lee.

Saya bilang ke Sakura, “Sakura, kamu harus kerja keras untuk menutup kesenjangan gaji kalian. Masa kamu kalah dengan Lee.”

Hai, sensei!” jawab Sakura. Dia pun kerja keras. Akhirnya dia dapat pekerjaan sebagai pemrogram dengan gaji Rp 12 juta.

Saya langsung pergi ke Lee, “Gaji Sakura lebih tinggi daripada kamu. Ingat, sebagian besar perempuan mengharapkan pria dengan gaji yang lebih besar.” Lee terbakar emosinya. Kemudian dia berlatih pemrograman siang malam dan akhirnya mendapat pekerjaan dengan gaji Rp 20 juta.

Setelah itu saya pergi ke Sakura. Saya membakar semangat Sakura, “Masa perempuan kalah dengan pria? γŒγ‚“γ°γ¦.”

Dan seterusnya sampai ad infinitum. Semakin tinggi gaji mereka, semakin besar pajak yang mereka bayar. Negara untung. Jadi di mana masalahnya?

Saya kasih 1 contoh lagi. Misalnya saya kerja di perusahaan XYZ dan saya sedang mengincar posisi VP of Engineering. Dengan begitu gaji saya akan naik dan status sosial saya akan naik yang akhirnya akan mengubah peruntungan asmara saya 😘. Tapi kolega saya, Ayu Saraswati, juga mengincar posisi yang sama. Jika saya dapat posisi VP of Engineering, maka Ayu Saraswati tidak dapat posisi tersebut. Jika Anda berpikir sempit, maka kesuksesan saya tersebut menghambat persamaan gender di bidang penghasilan. Karena kesuksesan saya itu berarti meningkatkan penghasilan rata-rata pria di dunia. Anggap Ayu Saraswati yang mendapat posisi itu karena dia lebih baik daripada saya. Perbedaan gaji antara pria dan perempuan menjadi mengecil. Lalu bagaimana dengan nasib saya yang ingin mengubah peruntungan asmara dengan menaikkan penghasilan dan status sosial?

Saya bisa keluar dari perusahaan itu dan mendirikan perintis. Produknya adalah aplikasi pencarian pasangan lewat Linkedin yang namanya SwanLove 😘. Nah, perintis saya sukses. Saya jadi kaya dan terkenal dan peruntungan asmara saya naik drastis seperti roket SpaceX yang membawa 4 astronot ke orbit. Tapi kesuksesan saya kan tidak mengurangi kesuksesan Ayu Saraswati. Ketika saya membangun SwanLove, saya kan tidak mencuri dari perempuan-perempuan. Saya tidak merusak kesuksesan perempuan-perempuan. Jadi di mana masalahnya? Wealth is not a zero-sum game.

Ketika saya mengembangkan SwanLove, saya membutuhkan karyawan untuk bekerja sama dengan saya. Mungkin saya memberi posisi VP of Engineering kepada Maria Susanto. Kesuksesan saya malah membuka peluang perempuan untuk sukses.

Yang kita tidak inginkan adalah saya menjadi kaya dengan mengekstrak kekayaan dari masyarakat tanpa memberi nilai atau malah merugikan masyarakat misalnya menjadi mafia dengan memeras orang-orang atau merampok bank.

Kita harus memberikan peluang sebesar-besarnya dan adil kepada perempuan dan pria. Biarkan mereka bersaing dengan positif. Kompetisi itu membuat hidup menjadi lebih seru.

Walaupun penghasilan itu faktor yang vital bagi pria, saya tetap menyarankan bagi perempuan untuk memperhatikan faktor ini juga. Karena dengan memiliki penghasilan, perempuan memiliki daya tawar untuk memilih pria-pria. Lagipula untuk meningkatkan faktor-faktor lain, penghasilan itu perlu. Misalnya Anda sebagai perempuan ingin meningkatkan aspek intelejensi dengan ikut kursus bahasa Inggris. Butuh duit kan? Anda ingin meningkatkan aspek fisik dengan ikut kelas yoga. Butuh duit kan? Anda ingin meningkatkan aspek penampilan dengan membeli baju-baju yang modis. Butuh duit?

Segalanya butuh duit. πŸ˜‚

Bedanya, untuk pria, cari duit harus mati-matian. Untuk perempuan, cari duit tidak perlu mati-matian. Tapi ini konteksnya mencari jodoh ya. Kalau Anda, seorang perempuan, punya ambisi pribadi untuk menjadi kaya, sekaya mungkin, yah silahkan. Carilah duit mati-matian. Saya malah bergembira. Tapi cara menjadi kayanya harus benar. Anda harus membuat dunia menjadi lebih kaya untuk menjadi kaya. Maksud saya, kalau Anda, seorang perempuan, ingin menjadi kaya jangan demi pria. Karena efek untuk daya tariknya tidak terlalu besar. Ada jalan yang lebih efektif untuk merebut hati pria. Kalau mau jadi kaya, yah lakukan demi ambisi pribadi, membanggakan orang tua, membanggakan bangsa dan negara.

Lalu, Anda, seorang pria, ketika membaca semua ini apakah Anda menjadi capek? Apakah merebut hati wanita harus dengan penghasilan yang tinggi? Ada beberapa pengecualian dari pengamatan saya di lapangan. Misalnya Anda tinggi dan berparas tampan seperti Ryan Gosling atau Abhimanyu, perempuan bisa menolerir penghasilan Anda yang “tidak tinggi”. Iya, hidup memang tidak adil.

Tinggi Badan

Hal ini lebih berpengaruh terhadap pria. Tinggi badan adalah faktor yang tidak bisa diubah sama sekali. Tidak seperti penghasilan di mana setidaknya Anda bisa berusaha. Salah satu cara untuk mengubah tinggi badan adalah pada saat pertumbuhan (sebelum dewasa) di mana Anda harus mendapat nutrisi yang lengkap dan bagus. Ketika Anda sudah dewasa, yah sudah. Kalau Anda pendek, Anda tetap pendek sampai Anda meninggal dunia.

Jadi kalau Anda tinggi badannya pendek, apakah nasib Anda tamat? Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kekayaan dan kekuasaan dapat menutup kelemahan faktor ini.

Saya berdiskusi dengan teman saya yang perempuan tentang tinggi badan ini. Dia sedang menjalin hubungan dengan pria yang tingginya di atas 180cm. Saya 170cm dan dia lebih rendah daripada saya. Saya bilang tinggi badan itu sesuatu yang lucu. Kalau perempuan menginginkan pria berpenghasilan tinggi, itu masih masuk akal. Bayi butuh sumber daya untuk selamat dan tumbuh dengan baik. Tapi tinggi badan? Keuntungan apa yang dapat diberikan pria tinggi kepada perempuan di zaman modern? Pria pendek juga subur. Alasan perempuan begini biasanya. Pria pendek kalau berjalan berduaan dengan perempuan yang lebih tinggi (apalagi memakai sepatu dengan hak tinggi) tidak sedap dipandang mata. Jadi cuma masalah estetika saja? Kenapa kalau dibalik (pria tinggi dengan perempuan pendek), tidak ada masalah?

Sebenarnya alasannya begini. Zaman dulu, pada masa perburuan, pria tinggi memiliki keuntungan dalam berburu binatang atau lari menghindari binatang buas. Jadi pria tinggi kemungkinan selamatnya lebih tinggi. Tapi di zaman modern, (sebagian besar) kalian kan tinggal di urban. Memangnya ada di antara kalian yang dikejar buaya atau harimau dalam kehidupan sehari-hari? Tapi hal ini masih terbawa-bawa sampai sekarang. Bukan cuma perempuan, pria juga mendiskriminasi pria pendek. Pria tinggi memberi kesan sebagai pemimpin lebih besar daripada pria pendek (di benak kebanyakan orang). Coba sesekali Anda perhatikan tinggi badan orang-orang yang memiliki posisi C-level dan VP-level. Terus bandingkan dengan tinggi badan rata-rata karyawan.

Terlahir sebagai pria pendek dari keluarga yang tidak kaya itu seperti jatuh terus tertimpa tangga. Jadi solusinya apa bagi pria pendek? Kejarlah kekayaan dan kekuasaan mati-matian.

Berat Badan

Hal ini lebih berpengaruh terhadap perempuan daripada pria. Orang kelebihan berat badan rentan penyakit (diabetes, sakit jantung). Orang terlalu kurus itu mungkin kekurangan gizi. Tapi setidaknya faktor ini bisa diperbaiki dengan makan makanan yang bergizi, tidur yang cukup dan berolahraga. Jadi tidak seperti tinggi badan yang final, berat badan bisa diubah.

Kekuasaan

Hal ini lebih berpengaruh terhadap pria daripada perempuan. Tapi saya tidak terlalu menyarankan orang untuk mengejar kekuasaan dalam meningkatkan daya tarik. Lebih baik mengejar kekayaan. Kenapa? Power is a zero-sum game.

Dunia kekuasaan itu brutal. Untuk mendapatkan tahta, harus ada yang disingkirkan. Apakah Anda sudah membaca berita tentang pemilihan presiden Amerika Serikat? Saya yang bukan warga Amerika Serikat saja kadang-kadang muak membaca berita politik di Amerika Serikat.

Kalau Anda ingin terjun ke dunia kekuasaan, jangan lakukan untuk meningkatkan daya tarik. Tapi lakukan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.

Tapi bukankah dengan menjadi kaya, Anda akan menjadi lebih berkuasa? Betul, tapi ada batasnya. Misalnya orang terkaya di Indonesia adalah Hartono bersaudara. Saya yakin mereka memiliki kuasa yang sangat besar. Tapi orang yang paling berkuasa di Indonesia adalah Presiden Jokowi. Kekayaan beliau “cuma” puluhan milyar Rupiah saja. Kalah jauh daripada kekayaan Hartono bersaudara yang sampai Rp 200 trilyun lebih. Tapi kekuasaan Presiden Jokowi lebih besar. Jauh lebih besar.

Intelejensi

Sepertinya hal ini berdampak sama terhadap pria dan perempuan. Saya masih perlu menyelidiki lebih lanjut tentang faktor ini.

Status Sosial

Sama dengan intelejensi.

Umur

Umur adalah faktor yang unik. Untuk sesama pria, ia adil. Untuk sesama perempuan ia adil. Semua orang dikasih umur muda. Tidak terkecuali. Saya pernah mengalami umur 22 tahun, 25 tahun, 30 tahun. Jadi saya dengan teman saya yang pria juga, umur berlaku adil terhadap kita.

Cuma faktor umur memperlakukan perempuan dengan lebih keras. Pria bisa melemahkan efek umur dengan kekayaan dan kekuasaan. Tapi perempuan tidak dapat melakukan hal itu. Yang dapat dilakukan oleh perempuan adalah hidup sehat. Hal itu setidaknya bisa memperlambat efek penuaan.

Kharisma

Nama lainnya adalah wibawa. Kepercayaan diri saya juga masukkan ke dalam faktor ini. Saya sedang melakukan penelitian terhadap aspek ini. Akan saya bahas di masa depan.

Karakter

Yang saya maksudkan adalah kebaikan hati, kedermawanan, keberanian, dll. Percaya tidak percaya, karakter, misalnya keberanian, dapat meningkatkan daya tarik Anda. Contoh kasus: pria yang memanjat pohon untuk menyelamatkan ular memberi kesan yang sangat dalam kepada perempuan.

Welcome to the Brave, Brave New World

Kita sudah membahas hal-hal apa yang berkontribusi terhadap daya tarik. Nah, sekarang kita akan bahas dunia yang sudah berubah banyak ini. Zaman dulu, pria mendapat nasihat seperti ini untuk merebut hati perempuan: jadi kaya (atau minimal mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang bagus) dan perlakukan perempuan dengan baik.

Zaman sekarang, hal itu sudah tidak memadai. Kenapa? Zaman dulu belum ada internet. Jadi kompetisi tidaklah seganas sekarang ini. Pada zaman sekarang, Anda berkompetisi dengan the best of the best. Masih ingat dengan CEO berpenghasilan ratusan juta Rupiah per bulan di awal cerita? Yah, orang-orang seperti itu yang menjadi kompetitor Anda (bagi pria). Perempuan juga nasibnya tidak terlalu indah. Tapi setidaknya lebih baik secara rata-rata daripada pria.

Orang-orang yang memiliki daya tarik tinggi ini menyedot banyak perhatian sehingga terjadilah efek Pareto. 20% mendapat perhatian 80%. Artinya 80% berusaha merebut perhatian dari 20% ini.

Anda pikir hal ini buruk? Tunggu, masih ada hal lain lagi yang bisa bikin Anda lebih stres. Pada zaman sekarang, ada yang namanya telepon seluler (smartphone). Banyak orang yang memiliki ketergantungan terhadap telepon seluler ini karena aplikasi media sosial atau permainan video (video game) sangat bikin tergantung. Orang menjadi pasif. Orang menjadi malas untuk mengembangkan diri dan menciptakan kekayaan.

Gabungkan kedua hal ini. Tunggu dulu! Masih ada 1 hal lagi. Teknologi berkembang pesat. Teknologi saking canggihnya bisa menggantikan aspek kehidupan nyata seperti bertemu dengan orang, pemenuhan kebutuhan emosional. Yang saya ingin bilang, teknologi (termasuk menonton video on-demand, media sosial, video game, dll) sudah mulai bisa menggantikan aspek hubungan antar manusia (termasuk di dalamnya hubungan antara pria dan perempuan). Putar waktu beberapa dekade ke depan. Teknologi hologram dan kecerdasan buatan bisa termanifestasikan menjadi sesuatu seperti Joi, pacar virtual di film Blade Runner 2049.

Nah, apakah Anda mengikuti alur pikiran saya? Bayangkan semua hal itu diaduk menjadi satu. Anda akan mendapatkan masalah pelik. Di masa depan (masih jauh memang) ada kemungkinan cukup besar jumlah pria yang merasa susah untuk bersaing dalam merebut hati perempuan karena kompetisinya terlalu keras. Sementara itu mereka merasa bisa memenuhi kebutuhan emosional mereka dengan teknologi. Teknologi memisahkan pria dan perempuan. Ini adalah distopia.

Padahal teknologi seharusnya menyatukan manusia. Teknologi harus mempermudah orang mencari pasangan selama masih dalam batas-batas yang wajar. Teknologi juga harus mendistribusikan kebahagiaan dari hubungan semerata mungkin selama masih dalam batas-batas yang wajar juga. Jangan cuma dimonopoli segelintir orang. Teknologi seharusnya mendemokratisasikan hubungan romantis yang bahagia.

Moneyball

Saya ingin bercerita tentang film Moneyball yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Jonah Hill. Film ini bercerita tentang klub bisbol Oakland Athletics yang pemain-pemain bintangnya dibajak oleh klub besar seperti New York Yankees. Billy Beane adalah GM dari Oakland Athletics yang bertugas untuk membangun tim dengan anggaran yang kecil. Dia secara kebetulan bertemu dengan jago statistik, Peter Brand. Billy merekrut Peter. Peter kemudian membuat analisa keandalan pemain bisbol dan mencoba mencari pemain yang undervalued. Mereka membeli pemain-pemain yang tampaknya bukan pemain bintang tapi jika statistik mereka digabungkan bisa memberi pelaung menang yang lebih besar kepada tim. Maksudnya seperti ini. Pemain bintang mereka, A, dibajak Yankees. Ketimbang mencari pemain bintang lainnya untuk menggantikan si A yang sudah pasti mahal, mereka mencari 3 pemain undervalued (bukan pemain bintang), tapi mereka memiliki statistik yang jika digabungkan bisa menggantikan sumbangsih pemain bintang si A. Akhirnya dengan strategi ini mereka berhasil masuk playoff walaupun akhirnya gagal juara. Tapi mereka bisa mencapai 20 kemenangan beruntun. Mereka melakukannya dengan anggaran terbatas dan statistik.

Jika Anda sudah cukup menarik, saatnya Anda memoles bagian pemasaran. SwanLove juga menyediakan hal itu. Ada jasa fotografi untuk mendapatkan foto-foto yang apik di situs pencarian jodoh. Nanti bakal ada jasa dari penasehat mode (fashion advisor), dan lain-lain.

Salah satu misi SwanLove adalah mendemokratisasikan daya tarik ke sebanyak-banyaknya orang. Jangan cuma segelintir orang yang memiliki daya tarik tinggi.

Oh yah, daya tarik adalah bagian dari produk. Tapi Anda butuh juga ilmu sales. Apa yang Anda harus bicarakan pada saat temu jumpa? Nanti ada juga kelas percakapan. Saya juga akan menggunakan kecerdasan buatan yang akan membuat beberapa pertanyaan awal untuk profil tertentu. Misalnya Anda akan ngopi-ngopi dengan orang yang memiliki hobi rock climbing, Anda akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah Anda sudah menonton film pendakian Alex Honnold?
  2. Apakah Anda biasanya berperan sebagai Lead atau Belayer?
  3. Tempat pendakian impian Anda apa? El Capitan?

Saya akan menyelidiki daya tarik ini seilmiah mungkin. Jika Anda pergi keluar dengan pria impian Anda, sebagai perempuan sebaiknya memakai pakaian warna apa? Perlukah kita A/B testing? Saya juga akan membantu Anda mencari pria yang beberapa tahun lagi akan menjadi kaya dan sukses. Jadi ketimbang mencari pria kaya, Anda memberi kesempatan kepada pria yang akan menjadi kaya dalam beberapa tahun. Kompetisinya lebih jinak.

Oh, bagi perempuan, saya memiliki fitur yang Anda pasti suka, yaitu integrasi dengan PredictSalary. Ini adalah aplikasi buatan saya yang bisa memprediksi gaji dari lowongan pekerjaan di beberapa situs lowongan pekerjaan. Tapi tahun depan rencana saya adalah PredictSalary bisa memprediksi gaji dari profil Linkedin.

Bagi pria yang memiliki penghasilan tinggi bisa memberi tahu rentang gaji Anda kepada perempuan yang Anda sukai. Jadi daripada menunjukkan kekayaan Anda secara implisit lewat foto mobil Anda atau foto liburan Anda di luar negeri, lebih baik Anda memberi rentang gaji Anda kepada perempuan yang Anda sukai. Bagaimana kita tahu itu benar bukan bohong? Anda harus mengirimkan slip gaji kepada saya supaya saya bisa memverifikasikan gaji Anda. Jadi jika gaji Anda Rp 45 juta per bulan, Anda kirim slip gaji Anda kepada saya. Setelah verifikasi, Anda bisa memberi rentang gaji Rp 35 juta sampai Rp 55 juta kepada perempuan yang Anda suka.

Hal ini setidaknya memberi peluang yang lebih adil kepada pria yang tidak setampan Ryan Gosling atau Abhimanyu tapi memiliki penghasilan tinggi. Tidak adil orang cuma dihakimi lewat foto saja.

Sampai di sini, mungkin ada sebagian pria yang bilang bahwa situs pencarian jodoh SwanLove ini dangkal karena situs ini mendorong perempuan untuk mencari pria dengan berpenghasilan tinggi. Anda pikir aplikasi pencarian jodoh lainnya seperti Tinder itu tidak dangkal? Anda melihat foto orang dan umur kemudian swipe left atau swipe right. Oh, cry me a river. Lagipula Anda juga bakal menghakimi perempuan berdasarkan foto dan umur, kenapa perempuan tidak boleh menghakimi Anda berdasarkan penghasilan? The sword cuts both ways, you know.

Tentu saja saya berharap kita semua menerapkan prinsip moderasi dalam pencarian jodoh. Jangan kebangetan dalam menghakimi orang berdasarkan umur, fisik, dan kekayaan. Yang wajar-wajar saja. Misalnya si A, seorang perempuan, berpenghasilan Rp 8 juta per bulan sedang mencari pasangan pria. Dia melihat profil Linkedin si B. Dengan PredictSalary, dia bisa tahu gaji pria itu Rp 18 juta sampai Rp 25 juta per bulan. Jadi dia mengirimkan rasa suka terhadap pria itu. Si A memasang standar gaji Rp 20 juta per bulan karena dia pikir total gaji mereka, sekitar Rp 28 juta per bulan bakal memberi masa depan cerah bagi anak-anaknya. Menurut saya, hal ini masih wajar. Nah, kalau si A memasang target Rp 200 juta per bulan, nah itu mungkin…. agak di luar kewajaran. Sama seperti pria, pria 40 tahun mencari perempuan dengan umur 33 tahun, itu masih wajar. Tapi kalau dia mencari perempuan 19 tahun…. it’s a bit too much. Intinya, jadi orang itu yang wajar-wajar saja. Moderasi adalah kuncinya.

Selain penghasilan, nanti saya juga akan mengembangkan fitur penunjukkan intelejensi. Misalnya Anda mendapat hasil IELTS 8, Anda bisa mengirimkan hasil IELTS kepada saya dan setelah verifikasi, orang-orang bisa tahu bahasa Inggris Anda bagus.

Intinya bagi pria maupun perempuan bisa datang SwanLove untuk menambah daya tarik mereka dan mencari jodoh yang menarik. Algoritma kecerdasan buatan di SwanLove akan menganalisa profil Anda dan melihat di mana kelemahan Anda dan kekuatan Anda. Kemudian rencana pengembangan diri paling optimal akan dibuat. Misalnya, Anda mungkin disuruh untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dulu. Setelah batas tertentu tercapai, Anda akan mendapat nasihat untuk meningkatkan intelejensi Anda. Mungkin Anda disuruh baca buku tentang ekonomi atau energi nuklir. Ketika Anda dianggap sudah cukup menarik, Anda akan dilempar ke pasar. Sebelumnya Anda akan mendapatkan nasihat untuk memakai pakaian yang optimal. Anda juga akan berlatih chatting dengan bot. Anda akan belajar bahasa tubuh. Sampai Anda berhasil mendapat jodoh yang sempurna. Setelah itu Anda menutup akun Anda di SwanLove dan hidup bahagia dengan pasangan Anda sepanjang sisa hidup Anda seperti di film-film romantis.

Sebenarnya saya masih punya banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang pencarian jodoh ini. Tapi artikel ini sudah terlalu panjang. Nanti saya lanjutkan ke bagian kedua. Mungkin bulan depan. Mungkin dua bulan lagi. Saya juga akan bercerita tentang rencana saya untuk SwanLove ini yang sangat ambisius.

Untuk sementara saya mendoakan Anda mendapat jodoh yang sempurna di SwanLove (jika Anda lajang).